Ngaji Ngobrol Story

Teguran Kamis Wage

Pagi ini, kuliah pagi setiap hari kamis dengan bangun jam 5 tet itu rasanya sudah grasa grusu langsung mandi dan kegiatan sekaliber lainnya yang menuntut cepat supaya cepat “ngadep” ibu. sudah berusaha sekeras mungkin, tapi memang hasilnya “tidak memuaskan”. Hingga akhirnya untuk kali pertama aku ditegur:

ibu : kenapa kok dari kemaren ga lancar terus?
aku : emm, mboten ngertos Bu, ngapunten nggih
ibu : ibu yakin ini pasti ada yang difikirin ya.
aku : (diam dan langsung senyum terus melangkah mundur dan berbalik badan menuju ruang makan)

Memikirkan apa pula aku ga tahu, tapi, ini mungkin memang teguran, besok dan besoknya lagi ketika “ngadep” itu harus dengan tampilan yang sempurna.

teguran itu tak haya berhenti di krapyak saja ternyata, sesudahnya acara kamis wage dan bertemu dengan ibu nyai pandanaran, senang rasanya masih bisa dikenal oleh beliau. tapi ternyata ibu langsung menyodorkan pertanyaan:

Ibu : ini ghina ya.
Aku : nggih Bu.
Ibu : gimana kabarnya disana nok? sudah dapet berapa?
Aku : masih sedikit Bu.
Ibu : iya. ntar pokoknya harus “ngadep” aku lho.

Ah, teguran itu semakin menguatkan diri bahwa memang untuk yang satu ini tidak boleh main-main. FOKUS. mereka yang telah dekat kita janganpernah dikecewakan. pagi disapa dengan teguran dan sore disapa dengan tantangan oleh para Ibu Nyai itu semacam “barokah” bahwa mereka memperhatikan saya.

terima kasih banyak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *