Journey Ngaji

Qur’an dan Hati

Qur’an memiliki kedudukan yang tinggi sebagai kita Suci yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tidak tahu itu, siapa pula yang tidak tahu dan tidak bahagia jika mengetahui orang yang mencintai Al-Qur’an dengan cara menghafalkan Al-Qur’an memiliki posisi sebagai “Ahlullah"  (keluarga Allah).

Keistimewaan orang yang mencintai Qur’an dengan hanya membacanya saja melimpahkan pahala meski atas sehuruf pun dari Al-Qur’an. Apalagi dengan menjaganya melalui niatan yang kuat dan istiqomah untuk menjaga-jaga ayat-Nya melalui lalaran hafalan ayat-perayat hingga 30 juz yang sebegitu banyaknya menjadi terhafalakan diluar kepala. Mahsuci Allah atas segala kebenaran firmanNya.

Akan tetapi, perlu menjadi catatan dan menjadi cambukan untuk benar-benar diingat. karena menghafal Al-Qur’an itu tidak hanya sekedar menghafal lafadz-lafadz yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut. Ya, tidak hanya sekedar Haafidzul Qur’an, namun harus pula menjadi Haamilul Qur’an. Dan harus menjadi catatan pula, seorang Haamilul Qur’an itu bukanlah hal yang mudah dengan kondisi kebutuhan kita yang masih melekatkan Dunia dalam tujuan hidup kita.

Kita, sebagai orang lemah tak ayal masih menghayal tentang segala yang indah untuk dihayal. Masih saja tentang Dunia. Terlalu banyak hal semua yang diikuti terus oleh hawa nafsu kita. Itulah yang namanya permainan hati. permainan yang mampu membolak balikkan hati kita dalam bayang-bayang bahagia yang semu.

Karenanya, Hati itu perlu ditata, dan harus selalu tertata untuk dapat menata segala yang melingkupi hati. Hati menjadi tumpuan terkendalinya segala urusan "ukhrawi dan duniawi”, kerap pula menjadi peredam ketika logika sudah mulai menguasai.

Dan tentang Al-Qur’a ini, jangan pernah sekalipun untuk tidak pernah melibatkan hati didalamnya. Yang terkandung dalam Al-Qur’an baik secara dzahir maupun maknawi mewajibkan kehadiran hati sebagai penanda yang mengingatkan kita pada tanda-tanda  (ayat-ayat)-Nya. Karena tanda-tandaNya tidak hanya tentang keutamaan AL-Qur’an semata, namun justeru menjadi penanda yang penting untuk menjadi peringatan untuk kita ialah tentang penanda Murka-Nya yang datang ketika kita tidak melaksanan ataupun jauh dari apa-apa yang telah diberikan tanda oleh-Nya. Dan kepada setiap mereka yang mengetahui dan menghafal Firman-Nya, justeru murka-Nya akan lebih besar ketika kita bersikap, berakhlaq, berperilaku tidak seperti apa yang telah diperintahkan oleh-Nya. ketika kita tidak bisa menjaga apa-apa yang seharusnya tertata dengan baik oleh Hati kita, ketika Hati telah terpenuhi dengan berbagai kotoran Hati. Murka-Nya sangat besar sebagaimana SayangNya yang lebih besar kepada mereka para penjaga ayat-ayatNya.ganjaran dan hukuman tersebut sebagai peringatan bahwa kita jangan pernah sekalipun “bermain-main” dengan ayat-ayat-Nya.

Krapyak, 22 Februari 2014. 22:44 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *