R i n d u, Senja, dan Hujan

Dua partikel yang dilumatkan dalam titian hati itu seringkali bergemuruh tanpa mengenal waktu dan keadaan. Ah Ia terlalu memaksaku untuk menerima hadirnya akibat dari suatu “rasa”. Katanya sih namanya Rindu. Entah seperti apa bentuknya, ia selalu meminta untuk ditemani oleh siapa yang menyusup ke dalam hatinya. Rindu itu terkuat, terhebat, dan ternyata dari wujud sebuah rasa.

Sore ini, Rindu itu semakin menjalar, meluas, melebar dan menguat saat langit mulai menghantarkan senja menuju malam. semakin bergemuruh saat tetiba langit mulai mendung disertai rerintik gerimis yang membasahi tanah. Kian lama kelamaan semakin deras dan kemudian tanah pun akhirnya tergenangi penuh dengan air.

Genangan air ini semakin menguatkan rindu untuk mengukir sebuah kenangan. Bahwa tentang rindu itu mungkin tidaklah selalu terbalaskan dengan bertemu. Rindu itu terkadang menandakan dan mengingatkan kita untuk menyadari sebuah rasa yang ada, kemudian dikuatkan rasa itu, dan kemudian disyukuri keberadaannya. Setidaknya hal kecil tersebut menjadi  pengakuan seorang hamba yang senantiasa dapat bergeming untuk setiap hal yang bermakna bagi setiap orang, terutama terhadap  orang-orang yang berarti untuk masa kini dan masanya nanti.

Krapyak. 15 juni 2014.pukul 20.15 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *