Ramadhan, Waktu, dan Al-Quran. #1 day

Ramadhan kali ini menjadi ramadhan yang berbeda rasanya dibandingkan dengan ramadhan sebelumnya. Berada di perantauan menjadikan momen akan kebersamaan bersama teman dan tempat yang berbeda menjadi lebih kuat melekat pada ingatan kita. Kelak kita akan merindukan saat itu, saat bersama dengan mereka, dan saat di tempat-tempat bersejarah tersebut.

Kali ini, dengan keberadaan di Krapyak menjadikan suasana Ramadhan terasa sangat penuh dengan rutinitas. Hal ini tidak lain karena keberadaan di tempat yang dikhususkan untuk mendalami Al-Qur’an menjadikan Al-Qur’an tidak terlepas jauh-jauh dari genggaman tangan. Sehingga kegiatan membaca Al-Qur’an yang tadinya jarang kita lakukan, setidaknya dapat lebih ditingkatkan daripada biasanya.

Al-Qur’an memang merupakan Mukjizat terakhir dan mukjizat terhebat yang diturunkan oleh Allah SWT pada bulan Ramadhan pula. Karenanya, wajarlah jika Al-Qur’an menjadi cambuk peningkat kerajinan beribadah kita selama bulan Ramadhan ini. Membaca Al-Quran menjadi sebuah aktifitas wajib dan bahkan rutinitas membaca Al-Qur’an menjadi sebuah kewajiban untuk lebih digalakkan, hingga menjadi pemandangan indah selama bulan Ramadhan adalah saat masjid-masjid di setiap sore menjelang maghrib ataupun saat setelah shalat terawih diramaikan oleh tadarusan Al-Qur’an.

Mari kita mencoba untuk memperhitungkan waktu kita dan kemanfaatan dari waktu yang telah kita gunakan dalam seharinya. Seberapa lamakah kita membaca Al-Quran dalam seharinya? Seberapa seringkah kita membaca Al-Quran?

Pertanyaan diatas menjadi pelajaran yang kita ambil pada hari pertama puasa ini. Membedah kebiasaan kita mengaji Al-Quran dan memperhitungkan seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk membaca Al-Quran di bulan Ramadhan dan di hari-hari biasanya.

Semisal kebiasaan kita rutinnya 1 juz dalam satu hari, biasanya 1 juz dihabiskan dalam waktu kurang lebih setengah jam. Tentu hal itu bukanlah waktu yang lama dibandingkan kita lama-lama didepan laptop atau televisi yang bahkan menghabiskan waktu lebih daripada itu. Iya sih memang, setengah jam untuk membaca Al-Quran itu terasa sangat lama, lembaran-lembaran yang belum dibaca seringkali kita lirik-lirik karena tak sabar unuk segera menyudahi membacanya. Begitukan?

Ramadhan ini bukan baru sekali dua kali telah kita lewati kan? Demikian sadarnya kita dengan keadaan seperti itu, tapi masih saja yang direncanakan hanya sekedar wacana. Selalu ada resolusi di setiap Ramadhan datang, tapi seringpula tak teraplikasikan secara berlanjut dalam kehidupan di luar Ramadhan.

Jika Al-Quran adalah petunjukNya, bukankah kita selalu membutuhkan petunjukNya dalam mengarungi hidup ini? Jika Al-Quran adalah penyejuk kalbu, bukankah kita selalu membutuhkan itu untuk mengobati lelahnya melepas penat kehidupan dunia?

Masih kurang jugakah kita akan segala kelebihan yang ada pada Al-Quran sampai-sampai kita sering mengabaikan atau bahkan menyepelekan Al-Quran? Atau mungkin, masalah yg cukup klasik biasanya, merasa malu belajar karena umur yang sudah cukup? Ah yaa, jawaban dari fenomena itu terjawab disini setiap malam para ibu masih dengan semangatnya untuk minta diajarkan cara membaca Al-Quran. Beliau-beliau sudah tua renta lho, bagaimana pula dengan yang muda?

Mari berkaca, berbenah, dan membuat kualitas hidup lebih meningkat dalam kebaikan dengan membaca Al-Quran. “Sesungguhnya saat kamu menjalani hari dan terasa sangat lambat karena kamu melakukan aktivitas yang bermanfaat itu tandanya keberkahan waktu telah membersamai”. (Mbah Shaleh)

Krapyak, Minggu, 29 Juni 2014 pukul 22:22 WIB.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!