Journey,  Random Thought,  Story

Meniti Jalan

Baiklah, sudah saatnya segala cita dan harapan yang berserakan itu kini mulai dirapihkan satu-persatu. Karena saat ini sudah menjadi bagian dari ‘langkah masa depan’  yang harus diseriusi.

Jika dulu, saat aku masih menginjakkan kaki di bangku kuliah -entah karena fikiran masih polos atau memang nyatanya memang bodoh- fikirku, dengan aku yang masih berada di semester awal kuliah melihat orang berpidato dengan nikmatnya, orang berdebat dengan hebatnya, orang menulis dengan bagusnya, dan kelebihan-kelebihan yang aku lihat saat mereka memang secara umur lebih tua, mungkin memang sewajarnya memiliki kemampuan demikian, fikirku. Khayalku, kelak saat aku sudah menginjakkan usia seperti mereka, mungkin aku bisa menjadi seperti yang mereka lakukan. Tapi ternyata realitas tak sebodoh itu untuk meyakinkan kita. Karena ternyata di luar sana, banyak juga yang seumuranku sudah bisa melakukan hal-hal tersebut.

Begitupun juga saat aku berangan dan merencanakan masa depan. Pernah sesekali aku berfikir bahwa aku ingin menjadi bagian dari pegawai di Pemda, atau Pegawai di Kemenlu, lalu impian itu berganti lagi, ingin menjadi dosen atau peneliti, lalu berganti lagi ingin menjadi pegawai di BPK, DJP, atau jadi jaksa, atau malah jadi semacam detektif. Ya, memiliki banyak mimpi memang tidak akan ada melarang. Tapi merealisasikan mimpi itu?

Kini aku berada dalam titian yang cukup terjal. Entah apa saja yang menjejali langkah-langkahku, Saat fikirku menyempit terkadang ini rasanya seperti penghalang. Tapi, tidak. Mungkin ini tidaklah sama diartikan dengan penghalang. Hanya saja mungkin memang jalan menuju impian itu  harus dengan upaya yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan yang lebih. Karena masa depan itu bukanlah nanti, tapi aku sedang berada di dalam titipan jalan masa depan itu. Dan, saat ini,masih ada beberapa langkah yang harus dilewati untuk meraih berbagai impian masa depan tersebut. Tahap yang harus aku lalui mungkin cukup panjan. Harus menyelesaikan urusan pondok, urusan keme*ag, dan urusan hati. #eh.

Jika pemaknaan masa depan yang sukses adalah harta, Dia telah memberikan rejeki kepada setiap hambaNya dengan segala kuasaNya. Tapi aku fikir definisinya tak sesempit itu. Ada proses yang perlu diraih untuk sebuah pemaknaan kata sukses, dan suskses tak melulu tentang ketenaran dan harta. Karena Masa depan adalah titik temu dari sebuah harapan dengan sekian kelebihan yang telah dimiliki tanpa mengabaikan setiap proses yang dilewatinya.

Siapapun dan akan menjadi apapun kita nanti, kemanfaatanlah yang menjadi pertanda bahwa kita adalah “orang”.

Krapyak, 19 Desember 2014, pukul 23.39 wib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!