Subuh bersama Ibu

Belakangan ini aku sering terbangun lebih awal. Entah kenapa, waktuku terbangun di waktu-waktu yang hampir sama tiap harinya. Tapi ada yang berbeda dari suasana subuh kali itu, aku dibangunkan oleh Ibu untuk bersiap-siap mengantarkan Ibu ke masjid untuk menunaikan shalat subuh di masjid dilanjut dengan simaan setengah juz.
Bersama Ibu dalam satu motor ataupun dalam keadaan apapun yang mendekatkan aku dengan Ibu adalah hal yang mendebarkan bagiku. Bingung untuk berbicara ataupun bersikap saat bersama beliau. Tapi setidaknya saat bersama dengan beliau dapat memetika beberapa hal baik yang biasa beliau lakukan. Salah satunya seperti simaan ini.
Seusai wiridan shalat subuh, Ibu lanjut berpindah ke belakang barisan dan mengambil mic dengan langsung memanggil aku untuk memegang Qur’annya dan duduk disamping Ibu. Ibu sengaja membawa santrinya untuk mengikuti kegiatan simaan Ibu. Selain supaya ada yang fokus menyimak Ibu, secara tersirat Ibu sepertinya meminta para santrinya untuk tetap gigih menderes  dan melancarkan hafalannya baik melalui event tertentu ataupun sima’an sendiri di rumah.
Saat itu yang dibaca oleh Ibu adalah juz 29. Sekitaran 6 ibu-ibu memenuhi ruangan masjid tersebut dan sekitar 3 makmum laki-laki yang menyimak disana. Tak ada anak muda disana selain aku. Subuh terlalu nikmat untuk anak muda bangkit dari kasurnya memang. Ckck, termasuk aku yang kadang masih terkantuk-kantuk saat menyimak . Dengan nada khas ibu dan ciri sikap percaya diri yang selalu ibu saat simaan membuat jamaah sangat antusias untuk menyimaknya. Percaya diri dalam simaan tentu sangat penting, apalagi untuk kita yang masih terus memperbaiki hafalan, tentu masih banyak yang belum lancarnya. Karenya, ibu selalu menanamkan percaya diri supaya kita tetap terus semangat untuk melancarkan hafalannya.
Seusai dari masjid tersebut, pulangnya ternyata mampir lagi ke sebuah masjid yag bernama Masjid Nahdlatul Ulama. Disana sudah terdengar sayup-sayup orang sedang simaan. Ya, disana simaannya bersama dengan temannya ibu jadi ibu tidak sendirian lagi. Menyimak beliau-beliau yang sudah lanyah sangat menjadi pencambuk aku di pagi itu. Sepulang dari masjid Ibu tetiba berucap “ Ayo gin, ndang dilancarno, ben iso simaan teng masjid kene lho. Bakal seneng banget aku”.
Selalu Ibu berulang kali berucap, Cuma Al-Qur’an yang bisa bikin Ibu seneng, jika ingin membahagiakan Ibu, sering-seringlah nderes¸syukur-syukur bisa disimak dengan lancar. Amien ya Allah.

Minggu, 22 Januari 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *