Groningen,  Random Thought

kita ngobrol, kita belajar

Language is the only thing worth knowing even poorly — Kato Lomb (1909-2003)

Aku terlahir sebagai orang sunda, berbahasa sunda dan berbudaya sunda. Meskipun pada kenyataannya wilayah desaku termasuk ke dalam Provinsi Jawa Tengah yang notabene berbahasa jawa, nggak jauh-jauh sih, lah wong kecamatannya saja sudah berbahasa jawa (ngapak) ternyata. Sayangnya aku belum menemukan sejarah kenapa desaku ini berbahasa sunda, entah ada yang bilang karena dulu dibawa oleh raja Singosari Panatayudha, tapi….. selanjutnya lupa, Hehe. Sayang sih, tapi yasudahlah mungkin suatu saat bisa ditemukan sejarahnya.

Bukan, ini bukan akan membahas tentang bahasa sunda atau bahkan tentang desaku. masih secuil pengetahuannya tentang hal beginian mah. Hanya ingin mencurahkan perasaan saja, bahwa ternyata belajar bahasa itu penting, dan ku baru sadar. heuheu

Jadi begini ceritanya, saat tak dinyana ternyata akan kuliah di Ngayogyakarto Hadiningrat, dan aku diwajibkan oleh orangtua untuk tinggal di Pondok pesantren (ga pernah ngekos selama kuliah deh), satu hal yang tak ku kuasai untuk pedekate dengan orang ndalem, bahasa jawa. Jadi seringnya ku hanya menjawab : nggih, boten, saget, ngapunten, kata-kata yang sederhana banget. tapi sedihnya ini bikin ga bisa ngobrol dekat dengan Ibu Nyai. #ehm, kan merasa nggak sopan gitu kalo ngobrol dengan beliau-beliau tapi kita pake bahasa Indonesia atau jawa tapi ngoko.

Bahasa sehari-hari di pondok maupun di perkuliahan masih lumayan gampang diadaptasikan sih. Di kampus jelas ya, banyak yang berasal dari pulau jawa, tapi banyak juga yang berasal dari luar jawa, jadi bahasa pemersatu kita ya, Bahasa Indonesia donk. Pun, ngobrol dengan teman sekamar maupun teman sepetongkrongan yang kebanyakan adalah orang jawa lebih mudah ciscus-nya karena jawanya jawa ngoko, yang entah karena langsung ketemu teman sekamar yang orang jawa timur, malahan berlogat jawa timur terasa lebih renyah untuk ngobrol. Haha.

Lagi, setelah kuliah yang ternyata beberapa bulan kemudian langsung menikah, ternyata keluarga suami berbahasa ngapak juga, dan ngapak-nya ternyata agak berbeda dengan ngapak brebes (yang bahkan ngapak brebes pun ku ga bisa mempraktikkan). Jadilah, ben kethoke menantu yang baik, ku coba berbincang dengan menggunakan bahasa Indonesia, tapi karena merasa sungkan, sedikit-sedikit ku coba berbahasa jawa kromo(meski katanya aku ga pantas pake alus nih). Ough, Beraaaat cyin!

Elah dalah, sekarang diborong sama suami ke Belanda nih. niatannya mau mempraktekkan english speaking-nya (yang masih sangat belepotan). Eh malah semua orang disini menggunakan bahasa belanda. Bahkan di sekolahan Nahla juga, nggak semua guru bisa lancar bahasa Inggrisnya. Kadang mau ngobrol banyak dengan guru atau sesama wali murid tapi, apalah daya perbedaan ini yang kemudian membuat kita berbicara seperlunya saja.

Cultivating friendships across cultures, languages, religions and other potential divides strengthens us as a people and enhances our world — Caroline DePalathis

Bahasa dan budaya suatu tempat jelas berbeda-beda satu dan lainnya. Tugas kita dimanapun kita menginjakkan kaki adalah menghormati perbedaan dan menghargai perbedaan itu dengan mempelajarinya (agar tahu apa yang harus dan tidak dilakukan).

Seperti keluhanku di atas, awal-awal menjalaninya agak berat sih. Tapi bahasa itu adalah alat komunikasi, maka agar kita mampu berkomunikasi dengan mereka ya belajar bahasa mereka. Jawa ngoko lebih mudah dipraktekkan, jelas karena kesehariannya dengan teman sebaya, nggak ada sungkan-sungkanan. Jawa kromo untungnya ada beberapa juga yang sama dengan sunda halus, dan beruntungnya semenjak kecil di keluarga diajarkan bahasa sunda alus. Berbahasa juga menghormati usia lawan bicara, makanya ada jawa kromo-jawa ngoko, sunda kasar-sunda alus, berbahasa indonesia informal-bahasa indonesia formal.

Menghargai bahasa dengan menggunakan bahasanya teman ngobrol kita itu serasa memberikan kebahagiaan kecil lho. Ada beberapa ceritanya nih tentang ini, waktu kemarin nyampe di Bandara Schipol, saat pengecekan passport dan visa, eh petugasnya bilang “terima kasih” pake bahasa Indonesia, dan kita digituin aja udah seneng banget deh. Nah, jadi kita kadang suka iseng coba coba sesederhana menggunakan “kata-kata super” seperti : terima kasih, maaf, permisi, respon lawan bicara pun terlihat riang.

Setelah itu, aku mencoba untuk mempelajari beberapa kata-kata sederhana seperti nama-nama hewan, angka, menyebutkan pengucapan alphabet, dan nama-nama sayuran (ibu-ibu ya, hmm), menyenangkan lho! bahasa itu memang terasa asyiknya jika langsung dipraktekkan. Kerasa susah dan berat banget nggak sih saat di sekolah dulu, belajar bahasa dan ngubek-ngubek sama grammar tapi untuk membuat conversation sederhana saja kita kesulitan karena tidak dibiasakan.

Tidak juga bermaksud mengenyampingkan tata bahasa sih, tapi kunci untuk membuat percakapan itu ya memang kita harus ngomong. Jadi yang harus dilakukan adalah memperbanyak kosakata yang perlu diperbanyak, dan berani bicara sih. jadi obrolan kita lebih natural.

Jadi bukan karena kita tidak bisa berbahasa orang lain kemudian kita tidak belajar, atau kita tetap menggunakan bahasa umum ( menggunakan bahasajika di Indonesia atau bahasa inggris jika di luar negeri). Dengan belajar bahasa maka kita akan mencoba untuk belajar lebih luas, entah itu wawasan baru suatu tempat, pengetahuan baru tentang suatu hal, budaya baru untuk dihormati, dan tentu saja akan meningkatkan jumlah pertemanan kita.

semakin kita belajar bahasa lain, semakin kita memperluas wawasan, menambah teman, dan meningkatkan kemanusiaan kita sebagai makhluk sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!