Maulid Nabi dan Haul Gus Dur di Wageningen : Suasana rasa ‘Rumah’.

Kemarin, saya mencoba meminta suami utk mengajak kita ke Wageningen. Krenteg ati, pokok pengen banget ikut dibaan, ketemu teman-teman baru, dan mendengarkan tausyiah yang menyejukkan. Hal-hal tersebut mampu membuncahkan rindu setelah sekian lama terpendam.

Benar saja, dari mulai perjalanan di kereta, ada saja hal-hal ‘nyambung’ nya. Di kereta ketemu 2 orang Indonesia. Seorang Mbak yang sama tujuannya dengan kita dan seorang Mas yang tujuannya ke Utrecht. Bisa dibayangkan donk, sepanjang jalan kita keasyikan ngobrol.

Obrolan dari mulai asal muasal, beasiswa apa, dan temannya siapa aja. Alhasil ternyata si Mba adalah temannya si A, si B, dan si C, dan tinggal disini dengan beasiswa yang sama dengan si Ayah. Dunia sempit sekali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.44 dan kita masih asyik ngobrol. Hasilnya kita kebablasan sampai ke Utrecht. Yasudah sekalian mengantar si Mas yang memang turun di Utrecht. Untungnya sih selama di kereta tiket nggak dicek ya.

Sesampainya di Wageningen, suasananya sangat sepi. Konon katanya Wageningen itu suasananya sangat ndeso, tapi kampusnya sudah menjadi salah satu kampus terbaik di dunia.

Kita bereempat akhirnya sampai di Ruang 2.22 Wageningen Forum. Sayangnya pembacaan Maulid Diba sudah selesai. Dilanjut dengan penampilan anak-anak, sambutan ketua panitia serta Kedubes Indonesia untuk Belanda.


Pak Kedubes, I Gusti A Wesaka Puja sangat mengapresiasi acara tersebut.  Beliau mampu memahami inti acara tersebut dan menguraikannya dengan singkat. Menjelaskan keterkaitan antara Maulid Nabi dan Haul Gus Dur dengan sisi cerita yang berbeda.

Beliau menjelaskan secara singkat tentang Nabi Muhammad dan Gus Dur. Mengenang 2 hal yang berbeda namun memberikan pelajaran yang sama.

Memperingati Maulid Nabi yang berarti memperingati kelahiran Nabi, kita disuguhkan sebuah kegembiraan atas lahirnya sosok pembawa Cahaya dari kegelapan, pemberi suri Tauladan dan penyebar agama perdamaian. Sementara itu, Haul Gus Dur berarti merayakan serta merasakan kehilangan atas sosok seorang Bapak Pluralism. Beliau Sedikit menyentil kisah kebersamaannya dengan Gus Dur saat di Jenewa. Beliau cerita bahwa Gus Dur menjadi Presiden hanya sebagai batu loncatan untuk perdamaian. Bahwa kita perlu mengobrol dengan musuh. Karena mereka bukan untuk dijauhi, namun untuk didekati. Hasilnya terasa meski beliau kini telah tiada. GAM membubarkan diri, dan Aceh kembali dalam pelukan Indonesia.

Seusai sambutan dari Pak Kedubes, tibalah saatnya Mau’idhah Hasanah oleh Pak Kyai Hambali Maksum. Beliau merupakan teman seperjuangan saat Gus Dur masih muda. Beliau menceritakan bahwa lagu yang dibawakan oleh anak-anak tadi mengingatkannya pada Indonesia. Maka sebagai warga Indonesia yang beragama Islam, Ke-Indonesia-an kita menjadi kekuatan bahwa Indonesia dengan keanekaragamannya tetap menjadikan kita muslim yang taat.  Penekanannya ada pada kata Indonesia. Akan berbeda dengan sebaliknya.

Sedikit beliau menceritakan tentang kisah perjuangannya dengan Gus Dur yang pernah tinggal di Belanda selama 1 tahun. Kisah Gus Dur yang menerima beasiswa Nuffic menghebohkan, karena orang-orang di Indonesia berprasangka bahwa beasiswa Nuffic adalah langkah kristenisasi. Nyatanya, Gus Dur menjadi pembuka, sehingga sampai kini banyak orang-orang Indonesia yang kemudian meneriman beasiswa tersebut.

selanjutnya, beliau bercerita tentang kisah Rasulullah, bagaimana Rasul bersikap sebagai Rasul dan sebagai Manusia seperti kita. Rasul memiliki keistimewaan sebagai rasul, dan kita sebagai pengikutnya diharapkan mampu mengikuti suri tauladan tersebut. Namun Rasul sebagai manusia juga merasakan cemburu, tidak mengetahui segala hal, dan tak sembarang menghukumi suatu hal. 


Seusai acara, ini adalah saat keakraban mulai muncul. Kita sharing cerita kehidupan muslim Indonesia di Groningen dan Wageningen. Kegiatan non ritual tidak terlalu kesusahan. Sementara kegiatan non rutial,  Alhamdulillah sesama muslim saling dukung dan ada yang mewadahinya.

Sebelum kembali ke Groningen, kami berkunjung ke rumah Mas Fariz. Disanalah segala gojekan khas yang lama tak dirasakan, muncul dan menggila, hoho. Karena ada suatu hal yang sama, semuanya terrasa sangat dekat. 

13 thoughts on “Maulid Nabi dan Haul Gus Dur di Wageningen : Suasana rasa ‘Rumah’.

  1. Kalo di Negeri nan jauh di sana ketemu orang Indonesia serasa langsung sodara ya mbak.. hihi.. senasib dan sepenanggungan. Mengobati rasa rindu pada tanah air.

  2. wah ternyata acara maulid nabinya di luar negeri ya… hehe… nama-nama daerahnya terasa asing maklum akunya belum pernah ke luar negeri. yang paling seru di situ yang aku baca pada saat aku baca, bertemu dengan sesama orang Indonesia berasa saudara dekat sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *