Catatan Ramadhan,  Story

Ramadhan 1441 H dalam Pandemi dan Tempat Baru

Dari jauh-jauh hari, sudah dibayangkan bahwa puasa dan lebaran kali akan sangat berbeda. Tinggal di tempat baru tentu saja akan mendapati hal-hal baru yang mengesankan. Apalagi jika tinggal di tempat yang katanya tingkat relijiusitasnya cukup tinggi seperti di Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan ini. Dalam benak saya waktu itu, wah akan seru sekali nih.

Teman yang pernah tinggal di Kalimantan Selatan juga bilang begitu. Dia bilang, ketika ramadhan di sini tahun 2016 sangat ramai. Setiap sore hampir nggak pernah masak, karena dapat takjil dan makan dari mushola dan masjid yang mengadakan buka bersama. Seluruh masjid dan musholla pun selalu ramai. Anak-anak sering sekali berkumpul di tempat ibadah.

Kesan-kesan yang didapati di setiap ramadhan selalu memberikan cerita tersendiri. 3 kali Ramadhan ini pun saya mengalami hal yang selalu berbeda. Puasa di negeri orang, puasa di tempat kursusan, dan sekarang puasa di luar pulau jawa.

Dan, puasa kali ini ternyata memang sangat-sangat berbeda bahkan dimana pun kita berada, kita merasakan perbedaannya. Semua tetiba berbeda karena pandemi yang datang menjelang. Corona menyebar, menantang kita untuk lebih bersabar, dengan tinggal di rumah saja.

Pemerintah melalui MUI menghimbau masyarakat untuk melakukan segala kegiatan keagamaan di rumah saja. Jadi, yang saya bayangkan nanti pasti suasana pagi dan sore akan sangat sepi. Tidak ada terawih jamaah, tadarusan, maupun ngabuburit bareng,buka bersama, ikut ceramah, mudik ke kampung halaman, dan suasananya pasti bakal sepi banget.

Dengan segala konsekwensi yang akan terjadi, kami sekluarga pun lebih memilih untuk meramaikan ramadhan di rumah aja. Hanya keluar buat belanja kebutuhan sehari-hari saja. Saya dan suami pun memilih untuk terawih bersama di rumah, melakukan saingan tadarusan di rumah. Pokoknya, menghidupkan rumah dengan segala kegiatan ramadhan ini.

Meski, ternyata di luar sana nyatanya berbeda.

Komplek sini masih mengadakan terawih bersama di musholla yang selisih satu rumah dari kontrakan kami. Ngaji sore pun masih dilaksanakan. Anak-anak masih ramai berkerumun sambil wifi-an di depan rumah tetangga.

Di musholla, Sebuah pamflet ditulis di depan musholla. Yang boleh ke mushola ini hanyalah penghuni komplek, wajib cuci tangan dan disenfektan dulu pake chamber disinfektan, dan wajib membawa sajadah sendiri. Tapi, nggak jaga jarak sih sholatnya.

Saya tahu itu sudah sebuah ikhtiar untuk melakukan pencegahan. Tapi, bukankah mencegah dengan total dengan berusaha di rumah saja malah lebih baik ya?

Kegiatan sore pun ternyata masih ramai. Meski Jumat satu minggu yang lalu, Kabupatena Banjar telah melakukan PSBB, tapi ya begitulah. Jalanan yang saya pantau dari belakang rumah sudah ramai bahkan sedari shubuh. Ketika terawih pun masih saja ramai.

Apalagi menjelang akhir ramadhan ini. Pemerintah melakukan relaksasi, toko-toko besar buka kembali, ya tentu orang-orang bakal membludak menuhi tempat-tempat belanja. Duh, sedihnya Gusti.

Silahkan dijawab sendiri!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *