Self Improvement

Lupakanlah Untuk Menjadi Orang yang Disukai Siapapun

Ketika kecil, saya adalah tipe anak yang suka mengalah pada teman sepermainan. Yang ada dalam pikiran saya, lebih baik saya mengalah daripada harus musuhan, atau sampai putus persahabatan. Meski, nyatanya keputusan yang diambil justeru menyakiti diri sendiri. Hmm, ada yang merasakan begitu nggak?

Pemikiran seperti itu tidak sepenuhnya salah. Tapi, karena pemikiran-pemikiran tersebut, bisa mengakar pada berbagai keputusan dalam hidup ternyata.

Sedari kecil, kita selalu mendapati yang mengharuskan kita melakukan sesuatu agar orang-orang suka terhadap kita. Baik dengan berbuat baik, mengalah, melawan prinsip diri, maupun lainnya.

Pokoknya lakukan hal yang menjadikan orang-orang suka sama kita. Meskipun hal-hal tersebut tidak baik untuk diri kita. Jiwa kita, terutama.

Yup, kesehatan jiwa menjadi topik yang sangat hangat belakangan ini. Tidak heran, karena sekarang semakin banyak orang lebih terbuka dengan masalah kesehatan mentalnya.Selain itu juga, para psikolog pun sekarang lebih terbuka untuk membincangkannya dalam berbagai platform media.

Keterbukaan membuka tabir bahwa ternyata being a loveable person is not totally good. Ada banyak keluhan yang menceritakan bahwa menjadi orang yang disukai semua orang itu adalah keniscayaan. Sebaliknya, kita malah kehilangan diri kita yang sesungguhnya.

Kenapa kita tidak bisa jadi Loveable Person?

Manusia satu dengan manusia yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karenanya, hal yang disukai maupun tidak disukai pun tentu berbeda. Berikut hal-hal yang membuat kita tidak bisa jadi orang yang disukai sama semua orang (loveable person):

Mau seperti apapun, mereka pasti membincangkan kita

Ketika kita berharap orang akan banyak menyukai, lalu kita mencoba untuk melakukan hal yang tiba-tiba berbeda. Demi apa? ya demi disukai orang banyak, mendapat pujian, sanjungan dan apresiasi.

Padahal, pasti ada saja orang yang tidak menyukai kita atau hal yang kita lakukan. Kita melakukan satu hal pun, orang pasti ada yang membicarakan kita. Pikiran kita penuh dengan bayangan akan omongan orang lain. Sudahlah, hentikan dan dengarkan kata hatimu sendiri mendingan.

Jati Diri Kita Hilang

Sebagaimana sikap menghambanya orang yang tergila-gila akan sesuatu atau seseorang, kita seringkali lupa pada jati diri kita.

Hari ini bersikap lebih manis, esoknya berpakaian lebih feminis, esoknya lagi pikiran lebih periang padahal aslinya pendiam. Lelah deh, beneran.

Perubahan untuk mengikuti arus itu akan membuat kita lelah sendiri. Bahkan, kita akan lupa pada hakikat kedirian kita yang sesungguhnya.

Mengikuti Omongan Nggak Bakal Ada Ujungnya

Demi disukai orang banyak, kita mencoba untuk menunjukkan hal-hal yang berlebihan. Bukannya justeru harapan menjadi “loveable person itu tercapai, tapi kamu akan merasa untuk terus dan terus mengikuti apa yang banyak orang katakan.

Orang akan berkata sekehendak mereka, tak dimintai saran pun. Kita selain memiliki telinga, juga memiliki otak. Tentu, kerja otak harus diberdayakan lebih. Toh, mereka tidak menuntut sebenarnya. Mereka hanya nggak punya kerjaan aja. Siapa Mereka?

Kita Kehilangan Kesempatan

Mengutarakan hal yang berbeda itu tidak salah. Seringkali kita terpaksa mengiyakan, hanya demi pertemanan. Lalu, menyesal di kemudian donk.

Padahal jika utarakan apa yang ada dalam benak kita, kita pasti akan lega dan nggak pekewuhan lagi. Kesempatan untuk mengemukakan pendapat akan lebih terlatih, dan pendapat pun akan lebih beragam. Bukankah pengakuan akan keanekaragaman itu adalah bentuk majunya suatu bangsa?

Tidak apa-apa, jika memang beberapa orang tidak menyukai pendapat, penampilan, pemikiran dan jalan hidup kita. Tentunya masih banyak juga pihak lain yang akan tetap mendukung kita, toh.

Menyesal di Akhir

Karena hal-hal diatas, kita tentu saja akan membuat kita menyesal. heuheuheu

Nah, daripada menyesal tak berkesudahan. Hal-hal di bawah ini bisa banget membuat kita lebih percaya diri sama diri sendiri. You are loveable, lovely, and loved by others, whoever they.

Instead, Lakukan Hal-hal Baik Ini agar auto Disukai Yuk

Belajar Mendengarkan Kata Hati

Terlalu banyak omongan yang masuk membuat kita lupa, ada yang kita lupakan. Kata hati kita sendiri.

Bisa jadi, selama ini kita terbentuk hanya hasil dari omongan orang lain. Dari mulai pendidikan, keterampilan, pekerjaan, dan pengambilan-pengambilan keputusan dalam hidup kita.

Mendengarkan kata hati kan menghasilkan kepuasan tersendiri. Lebih siap pada resiko yang terjadi juga, karena atas keputusan sendiri.

Meningkatkan Kualitas Diri

Untuk meningkatkan kualitas diri, kita harus lebih fokus pada diri sendiri. Kesampingkan dulu deh omongan-omongan nggak penting, atau sentilan nggak jelas yang ada di sekitar.

Kita lebih membutuhkan hal yang membuat kita lebih berkualitas. Seperti : membaca, meningkatkan networking, mengembangkan bakat, maupun lebih menyapa alam.

Dengan sendirinya, orang akan suka kan terhadap orang yang berwawasan luas, nggak omong kosong, dan lebih banyak bekerja daripada ngomong.

Lebih Berani dan Percaya Diri

Ketika melihat orang yang apa-apa merasa nggak bisa dan nggak pantas, Apa yang ada dalam benak kita?

Agak nyebelin. Ya, sebel sama diri sendiri, karena saya pun pernah di titik ini. Karena, berarti bahkan kita mengakui kelebihan yang sudah Tuhan karuniakan kepada kita. Iya nggak sih?

Dengan berani memaparkan pendapat kita, meski berbeda, kita sudah berani membuka ruang. Ruang pada pemikiran-pemikiran sempit yang tertutupi oleh sumber ‘katanya-katanya yang tanpa dasar’ menjadi ruang penuh dasar yang argumentatif.

Karena lebih mendasar, tentu pendapat, pemikiran dan pengambilan kita akan lebih meyakinkan. Kita menjadi lebih percaya diri, dan tentu saja orang-orang di sekitar kita jadi auto suka sama kita. Tidak menyepelekan lagi, bahkan.

Segala hal tak selalu akan kita terima, pun tak perlu tuk selalu kita terima. Berani untuk bilang tidak pun tidak masalah. Karena, pendapat yang diikuti oleh keyakinan tentu tidka akan membuat kita kecewa.

Jadi, mari kita mulai percayakan pada diri sendiri, untuk meyakini bahwa kita ini adalah personal yang layak dicintai, berhak mencintai, dan mampu menebarkan cinta dengan apa yang ada pada diri kita sendiri.


Nb : Tulisan ini terbersit dari tema #1Minggu1Cerita dengan kata kunci : LUPA. Akhirnya muncullah berbagai pergumulan dari perjalanan hidup diri pribadi dan lingkungan selama hampir 29 tahun yang kurang lebih telah diuraikan di atas.

21 Comments

  • CREAMENO

    Memang paling enak jadi diri sendiri ya mba Ghina 😁 disukai syukur, nggak yasudah, yang penting selama masih dalam koridor dan nggak merugikan orang lain, hidup harus terus berjalan πŸ™ˆ karena capek juga kalau harus terus menerus mementingkan omongan orang dan pendapat orang, nanti kita jadi nggak punya ‘suara’ πŸ˜„

    Buat saya, jadi loveable versi basic juga nggak masalah alias jadi diri sendiri yang bisa punya ‘suara’ meski pada akhirnya mungkin yang menganggap kita loveable hanya ke dua orang tua dan pasangan tercinta πŸ˜‚

    Terima kasih atas post yang sangat bagus ini, saya jadi belajar lagi untuk menjadi lebih baik. Eniho maaf ya mba baru sempat berkunjung balik, salam kenal 😁 keep sharing, keep inspiring 😍

  • Kartika

    Kadang masih melakukan hal ini sih, menyenangkan orang lain, tapi buat orang2 tersayang aja hehehe
    Kalau sama orang lain sudah gak lagi. Makin kesini (dewasa) sudah semakin tau apa yang disukai dan tidak disukai. Jadi ya lempeng aja. Suka bagus, gak suka monggo. Tulisannya bagus bange tbuat pengingat kita semua πŸ€—πŸ€—

  • eka fl

    orang yang sering merasa gak enak-an sama orang lain biasanya karena punya pengalaman dimasa lalu yang sering diabaikan orang terdekat, sehingga ntah gimana caranya dia mendahulukan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri. saya rasa akar permasalahan ini yang harus diselesaikan. ini sih menurut pengalaman pribadi, hihihi

  • Himawan Sant

    Apa yang diulas disini menurutku sangat bagus.
    Dan itu sama dengan prinsipku.
    Intinya begini, yang tau persis dengan diri kita sendiri ya kita sendiri gimana-gimananya. Orang lain itu bisa mengkritik begini begitu hanya sebatas penilaian di ‘permukaan’.

  • Ghina

    sama-sama, Niha. ternyata tulisan begini emang banyak yg ngerasa relate yaa. Semoga kita makin sayang sama diri sendiri

  • Ghina

    Iya Mbak Eno, selama kita masih berada dalam koridor yg benar mh let it flow aja yaa.

    Orang yang paling berhak utk mengomentari hidup kita adalah org2 terdekat, itupun seharusnya masuk dengan persetujuan kita. Ijin dalam hal mengomentari dan perkenannya udah sering abai atau malah nggak pake dipakai dalam aplikasinya, karena merasa org terdekat.

  • Ghina

    saya juga masih memberikan ruang kepada orang2 tertentu yg saya perkenankan Mbak. Agak picky sih jadinya, hehe

    Memang makin dewasa harusnya fokus utk menanggapi setiap hal tidak perlu lg dilakukan ya.Banyak fokus lain yg lebih penting, hihi

  • Ghina

    Dulu saya mikirnya malah “lebih baik saya yg tersakiti daripada dia yg tersakiti” ternyata hal itu lebih nggak uenaaak, Serasa punya supwer power aja kayaknya, haha

  • Ghina

    Yuhuu, agree bgt sama Mbas Himawan nih. Mereka hanya tahu permukaan aja yaa. Jadi, sebisa mungkin don’t take it depply. porsi utk lebih mendengarkan diri sendiri itu harus lebih besar drpd porsi utk mendengarkan org lain.

  • Anton Ardyanto

    Bener banget..Tidak perlu harus membuat senang semua orang karena hal itu tidak mungkin dilakukan.

    Justru hal itu pada akhirnya akan menyakiti diri sendiri.

    Terimalah fakta bahwa pasti ada orang yang tidak menyukai kita.

  • Lia The Dreamer

    Auto nyesek karena begitulah diriku dulu, suka terlalu peduli dengan omongan orang lain sama kurang percaya diri, kalau memutuskan sesuatu juga jadi kurang percaya dengan kata hati 😒

    Sekarang pun, terkadang masih demikian. Masih kurang percaya diri dalam mengambil keputusan, sama kadang jadi nggak enak-an tapi bisa dibilang udah jauh berkurang dibanding dulu πŸ˜‚

  • ig: @ibukafabillah

    Kalau aku sekarang lebih fokus pada pencapaian diri dan menjadi diri sendiri. Orang lain boleh berkomentar, orang lain boleh suka atau tidak dengan yang aku kerjakan. Tetapi mudah-mudahan itu tidak lagi menjadi hal yang membebani fikiran sehingga menghambat apa yang harus dicapai πŸ™‚

  • Navia Yu

    Hi Mb Ghin. Salken ya…
    Thx untuk tulisannya. Emang kalo ngikutin maunya orang ga ada abisnya. Capek sendiri ngelakuin hal yang bukan kita banget. Tapi aku pun sebagai kawan juga masi sering mengiyakan hal yang diutarakan teman sendiri meskipun kata hati berpendapat lain. Belom punya keberanian ngungkapinnya.

  • Ghina

    aku pun masih begitu Mbak. Ini tuh kontemplasi, biar aku lebih tegas sama diri aku sendiri. Tapi, nyatanya tantangan dari luar tidak begitu mudah.

    Saat ini, yg memang bisa dikendalikan adalah diri kita sendiri. Maka, semampunya saya sedang belajar utk menunjukkan the real me dulu agar mereka paham dan ga memaksakan.

    Semoga kita semakin sayang dan menghargai kemampuan diri sendiri.

  • Ghina

    Orang lain suka atau nggak itu memang kehendak luar yang nggak bisa kita kendalikan. Tapi, as long as still on the track. Mangaat Ibukafa!

  • Ghina

    Hai Navia, salam kenal juga..Sekarang yg kudu pelajari dan dipraktekkan adalah kita berani untuk berkata ‘tidak’. it’s so hard, aku pun masih sering bilang itu dalah hati aja. Karena ajaran dulu suruh “iya iyain” aja daripada ngga enak sama orng melekat erat sampe skrg.

  • Lia The Dreamer

    Ah bener banget kak! Tulisan ini sekaligus menampar mukaku sih. Sulit memang buat berubah tapi pasti bisa. Tetap semangat buat kita! Terima kasih udah bikin tulisan ini kakπŸ’•

  • Just Awl

    I’ve been there, mba! Berusaha disukai orang bener-bener membuat saya jauh dari diri sendiri, karena saya seperti menuntut diri secara gak langsung untuk harus selalu punya image baik. Sekalinya nyablak dikit dan keras, langsung khawatir sama pandangan orang dan malah menyesal sendiri. Padahal untuk apa menyesal saat kita berusaha jadi diri sendiriπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈ. Sekarang saya Alhamdulillah bisa lebih nyaman dan enjoy jadi diri sendiri, mau beropini apapun bebas, gak peduli sama pendapat orang lain, selama opininya gak keluar batas. Toh kita gak bisa memaksakan orang lain untuk sama dengan kita. Saat menolak sesuatu pun saya lebih berani untuk bilang nggak. Intinya kesehatan mental diri itu harus jadi prioritas.

    Anyway mba, thanks for this amazing post!😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *