Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Ngidamnya Nasi Kucing, Mampirnya Ke Warung Makan Bu Ageng

3 min read

warung omah bu ageng

Tetiba belakangan ini keinginan makan aku jadi random banget nih. Kadang pengen makan yang tampil di layar instagram, makanan yang sering dimasak Mimih, masakan ndeso, kadang pengen bikin jajanan masa sekolah dulu, atau makanan semacam nasi kucing aja kadang dipengenin banget.

Apa ini ngidam? atau jangan-jangan?

Ya daripada penasaran, jadi lebih baik kita penuhi saja keinginan ini satu per satu. Selama itu terjangkau dan mudah didapat nggak apa-apa lah ya.

Baca juga : Kenangan dalam Semangkuk Bubur Manado

Minggu pagi ketika suami membuat agenda minggu sore ke makam, tentu saja saya langsung mengiyakan. Selain bisa berkirim doa dan tahlil di makam para ulama, tentu saya ada misi lain. Yaitu jajan jajanan waktu mondok dulu.

Setelah Abah berpulang, kami merasa ingin selalu mempersembahkan banyak doa, tahlil dan sering-sering berkunjung. Namun sayang, jarak membuat hal tersebut tidak terwujud. Tapi di Jogja juga kan ada makam para ulama, meski nggak bisa langsung ke makam Abah saya maupun makam Bapak Mertua. Tapi, mengunjungi makam Mbah Ali Maksum setidaknya dapat mengobati kerinduan kami untuk mengirim do’a dan tahlil. Semoga semakin mustajab juga, karena ini mengirim do’a di hadapan makam para ulama.

Krapyak menjadi sasaran tempat kami berziarah, karena tempatnya cukup dekat dari rumah. Sekalian, tempat itu juga mengingatkan saya pada kenangan zaman mondok dulu.

‘Ah, nanti sore setelah ke makam mau mampir ke Warung Biru di belok dekat kandang menjangan. Mumpung lagi mampir ke Krapyak, nih.’

Kenangan ini seakan mengingatkan pada kegiatan setiap jum’at sore saat itu. Setelah berdoa, membaca yasin dan tahlil, biasanya kami lanjut beli makan nasi kucing di Warung Biru atau beli telor bakar di Warung Handayani. Ya, maklum meski sudah ada jatah makan di asrama, kami suka masih merasa lapar saja.

Nasi Kucing Habis

Kondisi sore di Krapyak sekarang ini sangat ramai. Ada banyak penjual makanan dan cemilan menjajakan jualannya. Hampir semua jajanan ada. Cimol, pentol, telor gulung, minuman kekinian juga sekarang outletnya banyak. Para santri banyak yang berkeliaran di sana sambil beli jajan.

Meski cukup tertarik untuk beli jajanan sepanjang jalan, kami memutuskan untuk langsung ke angkringan Tenda Biru. Takut kesorean, terus kehabisan.

Meski sebelumnya sempat salah jalan dulu, akhirnya kami sampai di Krapyak saat langit belum begitu gelap. Dengan kecepatan kendaraan yang sedang-sedang saja karena jalanan penuh orang, kami akhirnya sampai juga di angkringan tersebut.

Angkringan ini cukup besar. Tidak hanya menyediakan nasi kucing, ada juga berbagai macam gorengan, lauk-pauk dan pilihan minuman. Beberapa kursi dan meja pun berderet di sana. Tidak ada perubahan yang cukup signifikan dibanding 5 tahun yang lalu.

Sayangnya, meski langit belum begitu gelap, nasi kucingnya sudah habis. Benar-benar habis tak tersisa. Hiks.

Langit sudah semakin gelap, kukira bakalan pulang. Ah, tapi lagi benar-benar malas masak juga.

wall of home warung bu ageng

Warung Omah Bu Ajeng, Warung Bernuansa Rumah

Tiba-tiba di perjalanan, suami bilang ‘ Ke Warung Makan Bu Ageng, ya’.

Saya awalnya mengira itu Bu Ajeng. Hah, siapa itu Bu Ajeng? Perasaan belum pernah makanan di warung itu deh selama ini. Sebagai anak Krapyak, harusnya aku lebih banyak tahu donk tempat ini.

Lalu motor pun berhenti di depan sebuah warung remang-remang dengan bertuliskan huruf besar ‘Warung Bu Ageng’.

Dan aku pun masih belum ngeuh, kenapa aku dibawa ke warung makan ini?

‘ Dulu katanya mau makan di warung makan tradisional yang menggunakan bumbu rempah asli. Ya ini yang dimaksud. Warung Omah Bu Ageng. Bu Ageng itu istrinya Butet’, timpal suamiku.

Owalaaaah, ini toh warungnya.

Bangunannya semi terbuka, berbentuk joglo dengan desain yang masih klasik. Saat masuk, mata saya langsung tertuju pada berbagai lukisan yang terpampang di ujung warung. Lukisan itu bergambar wajah. Ada wajah para politikus, para seniman jogja, dan lainnya.

Baca juga : Lontong Kare di Jalan Kaliurang

Saya inginnya sih duduk di dekat lukisan-lukisan tersebut. Pasti kalau difoto bakalan bagus. Ah, jadi ingat Festival Kesenian Yogya, Artjog, dan festival seni lainnya yang biasanya diselenggarakan setiap tahunnya.

Suasan warung ini cocok untuk acara keluarga, rapat, maupun acara intim keluarga atau pasangan. Bangunannya pun dari dipenuhi aksen kayu. Kalau bawa anak-anak, agak sulit untuk bebas bergerak karena ada banyak kursi dan meja. Meski ada ruangan terbuka, tapi itu tempatnya dekat sumur, dapur, dan tempat sholat.

Menu Warung Bu Ageng, Masakan Tradisional Jawa Kalimantan

warung omah bu ageng

Membaca menu yang tertulis membuat saya merasa sedang di rumah. Tidak cukup kebingungan untuk memilih menunya. Ada bakwan jagung, tempe mendoan, tempe garit,serta beberapa lauk yang bersantan. Dessert juga ada, seperti bubur mlekoh durian dan pisang panggang kayumanis.

Sayangnya, beberapa pilihan tersebut dinyatakan habis. Ah, iya ya, ini kan sudah sore. Sementara warung ini sudah buka sedari pagi.

Akhirnya, kami memilih menu nasi campur dan Nahla hanya mau ayam. Dia trauma dengan sayur asem meski pelayannnya sudah meyakinkan bahwa sayur asem ini tuh manis asin, bukan pedas asem.

Melihat masakan nasi campur yang disajikan, jadi ingat masakan Mimih, ada kerupuk legendar dan serundeng soalnya. Selain kedua lauk tersebut juga ada suwir ayam/daging, tumis terong, ikan teri, dan kentang kering.

Meski masakan Jawa memang cukup bersantan, setahuku cukup jarang disajikan dengan kering kentang dan kerupuk legendar. Sensasinya jadi beda.

Memang ada campuran masakan tambahan ala Kalimantan juga. Hal ini tidak lain karena Bu Ageng yang memiliki nama asli Bu Ruliyani Isfihana, istri Butet.

Masakan di warung ini juga masakan orisinal hasil racikan dari Bu Ageng. Dengan memilih menu keluarga, konsep sederhana ini menyajikan masakan rumahan dengan nuansa hangat khas jawa dan sedikit sentuhan Kalimantatn.

menu warung bu ageng

Eyem Penggeng di Warung Omah Bu Ageng, Menu Kesukaan Umar Kayam

Saat saya memutuskan untuk memilih menu nasi campur, suami bertanya tentang menu unggulan yang ada di warung Bu Ageng ini. Well, ternyata menunya adalah ayam. Tulisannya sih eyem penggeng.

Iya, nggak salah baca. Memang pakai huruf e, ya.

Di menu sendiri ada ceritanya. Katanya menu ayam panggang ini adalah menu kesukaan dari Umar Kayam sewaktu di Klaten. Ayam panggang ini diolah dengan santan dan bumbu rempah tradisional. Rasanya gurih dan empuk.

Nama menunya memang ayam panggang. Namun penjual ayam panggang kesukaan Umar Kayam ini punya suara yang sangau, sehingga ketika menjajakan jualannnya, terdengar dari jauh seperti menawarkan ‘Eyem Penggeng’.

Maka Butet pun mengabadikan masakan tersebut dalam menu andalannya di Warung Bu Ageng ini.

Porsi Pas, Kenyang dan Senang

makan di warung bu ageng
enak, nikmat, nambah nggak?

Alhamdulillah, meski nggak jadi makan nasi kucing, makan di Warung Bu Ageng jadi lumayan terobati lapar dan penasarannya. Porsinya sangat pas dengan suasana yang kondusif. Prokes para pekerjanya juga ketat. Saat kami akan segera beranjak, ada serombongan keluarga yang datang. Semakin malam semakin syahdu. Pulangnya sengaja mlipir melewati alun-alun kidul dan alun-alun utara. Wuih, ramainya.

Kalau mau keluar, tetap jaga kesehatan dan taat prokes ya, Gais.

Warung Omah Bu Ageng

Jl Tirtodipuran No. 13 Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta. DI Yogyakarta. 55143

Sabtu, 2 Oktober 2021

With love, Ghina

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

14 Replies to “Ngidamnya Nasi Kucing, Mampirnya Ke Warung Makan Bu Ageng”

  1. Hehehe bisa aja nie Bu Ageng bikin menu denganbm istilah nyentrik bin ekstrim… Beik eke meu denk eyem penggeng!! Wkwkwk

  2. Aku suka banget tuh jajan di sepanjang Krapyak. Apalagi pas bulan Ramadhan. Sampai bingung mau jajan apa saking banyaknya. Hahaha…
    Btw, jadi penasaran sama Warung Omah Bu Ageng. Makasih lho buat rekomendasinya mba…

    1. Mba Reni jgn2 org jogja jga ya? Salam kenal ya.

      Skrg yg jualan sepanjang jalan Krapyak makin menggila, dan enak enak sih. Jadi bingung mau beli apaan..

      Monggo kalau kesana bisa mampir mbak. Harganya affordable kok. Wajib nyoba eyem penggeng dan menu unik lainnya.

    1. Hahaha…. Ngidam emang kebanyakan tanda hamil yaaa. 😄

      Apa gendar itu di tempat mbak widya namanya karak ya? Kalau di tempatku karak itu kerupuk dr sisa nasi sih.

    1. wkwk, kalau aku dulu ngiranya nasi kucing cuma ada di jogja malah, ternyata sekarang sudah ada banyak di mana mana, kurang tahu ini khasnya asli asal mana nih

  3. Aku cateeeet duluuu kalo ntr ke Jogja mau cobain :D. Aku sukaaa makanan kombinasi begini, apapun daerahnya. Krn biasanya malah menghasilkan rasa makanan yg lebih enak Krn campurannya tadi. Lumayan suka Ama makanan Kalimantan, jadi aku rasa bisa cocok banget kalo makan di tempat Bu Ageng ini. Lauknya juga udh kliatan enak kok mba :D. Nov aku ada plan ke Jogja sih, tapi blm pasti. Masih hrs liat kondisi. Kalo jadi, pengen masukin list rumah makan ini 😀

    1. yuk yuk mbak.. Aku nggak expect juga awalnya kalau bakal suka. Kurang nendang nek menurutku bumbu eyem penggengnya dan sambalnya, entah karena lidahku terbiasa strong kali ya.. tapi overall enak enak sih, porsinya juga pas di lidah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!