Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Resonansi Alquran Lewat Suara Ibu

2 min read

Resonansi alquran lewat suara ibu

Ghinarahmatika.com – Menjadi ibu kemudian membuat saya kembali meraba bagaimana dulu ibu saya mengenalkan saya pada Alquran. Yang saya ingat, tidak ada paksaan, tidak begitu sering disuruh-suruh, tapi justeru kebiasaan terbentuk karena kedua orangtua yang sering memberi contoh dengan mengaji Alquran.

Mengaji yang tidak hanya mengaji sembari duduk dan membuka Alquran. Tapi beliau berdua juga bukan penghapal Alquran 30 juz. Hanya saja yang saya perhatikan, lafadz-lafadz itu seperti sudah melekat dari telinga mereka. Ada bacaan kami yang salah, meski sedang di ruang berbeda, mereka mengoreksi bacaan kami. Lagi mendengarkan ceramahnya, ayatnya ikut mereka baca dan lanjutkan sampai kelar satu ayat. 

Acapkali seusai sholat, Mimih, panggilan untuk ibu saya, suka sesekali menyelipkan pentingnya membaca ayat-ayat tertentu, menghapal surat-surat tertentu, tapi sudah cuma bilang gitu saja. Tidak kemudian mereka menemaniku menghapal atau menuntut dan bertanya tentang hasil hapalan ayat/surat yang mereka maksud.

Selain lantunan ayat suci Alquran, yang saya lihat dari mulut Mimih juga bacaan sholawat. Saat masak, sambil menidurkan cucunya, sembari beberes rumah, mulutnya tidak berhenti untuk bersholawat. 

Tapi lagi-lagi, beliau kayaknya memang jarang-jarang untuk menyuruh apalagi dengan nada yang membredel. Benar-benar nasihat bahwa anak adalah peniru ulung beliau pegang erat. Karena ternyata memang tanpa sadar kami sebagai anaknya ikut merasa terbiasa karena Mimih pun terbiasa melakukan hal tersebut.

Setelah menjadi ibu dan anak pertamaku semakin besar, aku jadi berpikir tentang cara pengasuhanku dan cara pengasuhan orangtuaku. Aku mencoba mengkopilasikannya. Tentu saja yang bagus dan sesuai saja yang perlu ditiru. Karena lain zaman juga lain tantangannya.

Aku mencoba mengingat cara asuh ibuku. Tapi yang muncul justeru seruan-seruan halus. Seperti momen seusai sholat yang sangat melekat, saat lagi ngobrol bareng, saat mau berangkat ke tanah rantau. Abah maupun Mimih suka sekali sesekali menyelipkan keutamaan membaca ayat tertentu, sholawat tertentu, maupun maqolah tertentu yang bisa membantu kelancaran kehidupan kita.

Sederhana tapi ternyata sangat membekas sampai kini.

Maka perlahan aku cobalah untuk membiasakan diri mengaji di tengah anak-anak yang sedang sibuk dengan dunia mainnya sendiri. Kadang aku masih bisa fokus, saat anak-anak juga fokus dengan permainannya, tapi tak jarang saat terjadi pertengkaran, rebutan, atau satu anak sudah habis energinya dan mulai nemplok-nemplok ke ibunya, aku sadar ini bisa jadi dua kondisi, untuk tetap terus mengaji tapi dengan konsentrasi tinggi atau menyudahinya.

Kalau sudah begitu, lanjut mengaji pun tapi takkan cukup lama bertahan. 

Tapi saya jadi teringat kapan hari baca sebuah komentar di akun instagram: Bagaimana cara bagi waktu dengan Alquran, sementara anak-anak sukanya gendolin ibunya terus?

Maka dengan adanya contoh ibu saya sendiri, saya kemudian mengambil hikmah bahwa: sesiapa pun kita, mau itu ibu rumah tangga, pekerja kantoran, pelajar, tentu semua punya porsi untuk pekerjaannya, tapi seringkali melewatkan porsi waktu untuk mendekat lebih lama kepadaNya.

Solusinya bisa dengan menyempatkan waktu, jika memang ada waktu banyak. Bisa juga dengan mengambil waktu-waktu luang yang sempit ditengah penuhnya pekerjaan. Atau untuk kondisi sebagai ibu lebih tepatnya mungkin bisa dengan membersamai anak-anak sembari kita mengaji.

Awalnya mungkin berat, tapi toh anak juga bisa kok diajak kerjasama. Dengan memberikan pengertian, simulasi, maupun peraturan yang disepakati. Perlu diingat juga bahwa hal ini bukan sesuatu yang membebani. Lah, wong mau ketemu dan ngobrol dengan Tuhan kan harusnya kita senang? Apalagi kalau sembari bersama anak-anak.

Apalagi kalau sampai mengkambinghitamkan kesibukan sampai katanya nggak sempat untuk mengaji. Bukan tidak sempat kayaknya, tapi mungkin tidak menyempatkan saja.

Dari cara ibuku aku baru menyadari bahwa suara-suara ibu yang melafalkan ayat Quran maupun sholawat Nabi dan setiap kegiatannya bersama anak-anak itu seperti telah beresonansi. Suara-suara dari pelafalan ayat suci, nasehat-nasehat yang halus dalam keseharian di masa kecilku memberikan makna mendalam dalam hidupku kini yang juga sebagai seorang ibu.

Malah aku terpikirkan, bisa saja ada pengasuhan-pengasuhan kita yang kurang tepat, tapi dengan pembiasaan begitu seakan menutup segala momen buruk itu dengan momen indah dan momen baik bersama Alquran yang mengiringi pengasuhan kita?

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...

error: Content is protected !!