Ghinarahmatika.com – Aku mengenal metode Fami Bisyauqin kali pertama dari sosok seorang bunyai tersohor yang sangat ku kagumi, Ummi Hannah. Salah satu bunyai dari pondok pesantren di Jawa Timur. Pondok Al-Baqoroh.
Umi Hannah tiba-tiba menjadi sosok yang sangat akrab di telingaku di tahun 2020. Beliau terkenal karena hapalannya yang sangat lancar, terlihat jelas karena ada banyak video beliau sedang mengaji bilghoib (mengaji tanpa melihat Qur’an) sambil memimpin ngaji bersama santri-santrinya.
Baca tulisan Ghina yang terkait yuk: Pengalaman Praktekin Fami Bisyauqin
Maka bagiku Ummi Hannah dan Fami Bisyauqin itu seperti sepaket jadinya. Lewat Ummi Hannah, Fami Bisyauqin pun semakin meluas. Metodenya banyak dikenal orang dan alhamdulillah banyak juga orang yang mulai mempraktekkannya, ada banyak grup orang-orang yang saling support untuk khatam metode ini, baik mereka yang hapal Quran maupun tidak.
Nah, jadi apa sih metode Fami Bisyauqin itu?
Mengenal Metode Fami Bisyauqin
Cara mengkhatamkan Al-Quran itu ada banyak. Ada yang setiap harinya satu juz, tiga juz, atau bahkan 5 juz. Pemisah dengan juz memang terasa lebih gampang karena patokannya kelihatan, proporsi jumlah halaman juga lebih mudah ditarget.
Tapi metode Fami Bisyauqin menawarkan hal lain. Ia hadir dengan pembagian berdasarkan surat dalam Al-Quran. Yup, metode ini disebut FAMI BISYAUQIN karena nama tersebut merupakan akronim dari huruf nama-nama surat dalam Al-Quran yang dibagi perharinya. Selain itu tentu Fami Bisyauqin juga arti, yaitu Mulutku dalam kerinduan (membaca Al-Qur’an).
Ternyata metode mengkhatamkan ini bukanlah metode baru. Bukan yang ditemukan oleh Ummi Hannah juga. Tapi lebih tepatnya beliau memperkenalkan metode khataman yang dipakai oleh para Sahabat Nabi pada zaman dahulu.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah, Rasulullah saat itu telat datang telat, hingga sahabat Aus bertanya kepada Rasul, dan beliau menjawab “bahwa aku mempunyai tanggungan Hizb (sekelompok bacaan) dari al-Qur’an yang belum selesai, maka aku enggan keluar rumah sehingga aku dapat merampungkannya”, maka aku bertanya pada sahabat Nabi “bagaimana kalian membuat Hizb al-Qur’an?” mereka menjawab “3, 5, 7, 9, 11, 13 (surah) dan Hizb Al Mufashshal”.
Maka dari hadits tersebut terungkap bahwa metode Fami Bisyauqin sudah diterapkan oleh sahabat Rasul dan sahabat Ali bin Abi Thalib lah yang mensyiarkan dan mengembangkan metode tersebut hingga tersohor sekarang ini dengan sebutan Fami Bisyauqin. Sementara Sahabat Rasul yang mengkhatamkan dengan metode ini seperti: Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, dan para salafushshalih seperti Ibrohim An-Nakho’i, Abdurrahman bin Yazid, Ahmad bin Hanbal, dll,
Dalam prakteknya pembacaan Al-Qur’an pun berdasarkan hari. Ada yang dimulai sejak hari Ahad, karena merupakan hari pertama dalam satu minggu. Namun familiarnya yang mempraktekkan ini dimulai dari hari jumat/kamis sore sehingga bisa khataman pada malam jumat.
Pembagian Bacaan Metode Fami Bisyauqin
Pemilihan nama Fami Bisyauqin merupakan huruf awalan dari nama-nama surat dalam Al-Qur’an, yaitu FA, MIM, YA, BA, SYIN, WAU, QAF. Berikut pembagiannya yang saya kutip dari akun instagram Ning Qurrota A’yun santri Ummi Hanah:

Dalam prakteknya pembacaan Al-Qur’an pun berdasarkan hari. Ada yang dimulai sejak hari Ahad, karena merupakan hari pertama dalam satu minggu. Namun familiarnya yang mempraktekkan ini dimulai dari hari jumat sehingga bisa khataman pada malam jumat.
Keunggulan Khataman Metode Fami Bisyauqin
Sudah ada banyak dari kita yang mengetahui tentang Al-Qur’an dan keunggulannya. Maka mengkhatamkan Al-Qur’an dengan metode Fami Bisyauqin ini berarti kita mengupayakan untuk meraup banyak pahala lebih banyak.
Baca juga tulisan Ghina yang ini yuk: Jangan Terburu-buru untuk Menghapal Al-Qur’an
Selain tawaran pahala, tentunya ada banyak hal lain yang bisa kita rasakan. Bisa jadi karena perlu lebih banyak yang kita baca, maka waktu yang kita siapkan harus lebih banyak, tenaga juga demikian. Dari situ bisa jadi kita akan merasakan kedekatan dengan Al-Quran, kenikmatan membaca Al-Qur’an, menemukan ayat-ayat pilihan, merasakan waktu yang lebih luang, diri lebih tenang, dan keberkahan yang hadir. InsyaAllah, Wallahu a’lam.
