Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Karhutla, Gambut, dan Dampaknya Pada Biodiversitas Isi Meja Makan Kita

3 min read

Karhutla, gambut, damn dampaknya pada isi meja makan kita

Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) telah terjadi selama 4 bulan saat penulisan ini diposting. Siapa yang tidak marah dengan kondisi demikian. Kebakaran sudah terjadi di Kalimantan, Sumatera, dan Papua, tiga pulau yang merupakan wilayah sumber oksigen dunia dan habitat alam ini kini hancur lebur penuh api.

Pembakaran yang dilakukan secara massif ini tentu berakibat fatal pada ekosistem sekitarnya. Gersangnya gambut padahal bukan lahan tanpa manfaat. Ia adalah ekosistem yang mampu menyerap karbon terbanyak/karbon raksasa. Lewat gambut tata air lebih juga lebih terkendali. Lahannya pun bisa ditanami berbagai olahan pangan seperti sagu, nanas, dan lainnya yang menjadi sumber pangan masyarakat sekitar.  

Bagaimana langkah kita untuk bertahan menghadapi kondisi ini?

Mengenal Lahan Gambut dan Bahaya Kebakaran yang Terjadi

Jika diibaratkan, lahan gambut ini seperti spons. Spons ini mampu menyerap karbon dengan cakupan yang banyak, spons ini juga bisa menyerap air dengan sangat cepat.

Tapi kemampuannya tidak terbentuk hanya dalam hitungan setahun-dua tahun. waktu yang dibutuhkan bahkan hingga butuh ribuan tahun.

Parah sekali pemikiran orang yang menganggap bahwa lahan gambut ini merupakan lahan gersang yang bermanfaat. Pekan kemarin, saya bersama teman-teman Eco Blogger Squad x Pantau Gambut x Nusantara Food Diversity mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang kaitan gambut dan biodiversitas pangan ini. 

Mas Yoga Aprilliano dari Pantau Gambut menyebutkan bahwa gambut yang sudah terdegradasi oleh kebakaran, kanalisasi, dan alih lahan tidak dapat lagi kembali utuh. Hal ini karena hidrologi, struktur tanah, dan cadangan karbon telah lepas ke atmosfer. 

Namun sayangnya gambut ini merupakan area yang mudah sekali terbakar. Pembakaran besar-besaran yang sengaja dilakukan oleh pihak tidak bertanggungjawab untuk penanaman sawit memperparah kondisi ini. Padahal sudah diinformasikan para ahli bahwa ini juga Indonesia akan mengalami El Nino. Maka semakin meluaskan kebakaran yang terjadi. Hingga tanggal 19 oktober 2026 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa luasan area kebakaran sudah mencapai 1.024,33 hektar (ha). Dari jumlah tersebut, tim gabungan telah berhasil memadamkan 454,25 ha, sementara 570,08 ha sisanya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan.

Kebakaran lahan gambut itu bencana yang luar biasa besar. Kandungan tanah pada lahan gambut menyebabkan kebakaran akan terjadi apinya ada di atas dan di bawah tahan. Jika pun api di atas sudah mati, butuh air lebih untuk mematikan api bawahnya. Ekosistem sekitar gambut tentu akan mengalami kerusakan lebih parah sebab kebakaran ini.

Kebakaran gambut ini tentu tidak hanya membuat kita kehilangan spons karbon dunia. Habitat lingkungan seperti kematian satwa liar, sumber air, sumber pangan lokal, dan fragmentasi habitat yang membuat hewan mengungsi ke wilayah pemukiman warga.

Tentu kita punya harapan besar bahwa pembakaran ini akan segera berakhir, lewat hujan yang besar. Namun dengan kondisi lahan yang kering dan tidak ada tanaman maka memungkinkan banjir lebat lah yang akan terjadi. Semoga masyarakat dan hewan-hewan di sana terselematkan 🥺

Yang lebih parah dari itu, beberapa wilayah yang sudah cukup reda apinya, malah mulai ada bibit sawitnya yang akan ditanam nantinya. Ah, sungguh serakah sekali, manusia!

Biodiversitas: Isi Meja Makan Kita Nggak Boleh Seragam

Gambut dan keberagaman sumber pangan adalah hal yang sangat asing bagi saya. Asing karena pemikiran yang terbentuk dari lingkungan dan internaslisasi yang diajarkan memberi satu pandangan pokok: makan harus sama nasi.

Hingga ada di satu titik saya tinggal di Belanda. Satu pemikiran terbentuk. Ok, makan nggak harus sama nasi kok. Makan sama roti juga sudah masuk makan berat.

Lalu di tahun ini kembali disadarkan lewat banyaknya pemengaruh/influencer di instagram yang banyak menyebarkan informasi berbagai olahan makanan dari pangan yang beragam. Sekelebat langsung menarik perhatian saya. 

Banyak tanya yang kemudian muncul dalam benak saya. Kenapa kita ditanamkan untuk makan harus sama nasi? Kenapa hanya beras yang terkenal diantara jenis karbohidrat lainnya? 

Semakin banyak tanya, semakin juga saya coba untuk baca-baca. Aaaah, ternyata memang pilihan makan kita saja sudah diatur lewat permainan politik para atasan. Swasembada pangan yang digalakkan oleh Soeharto membuat banyak dari kita jadi buta akan keberagaman sumber pangan.

Yang saya baru tahu dari penjelasan webinar kemarin, ternyata ekosistem gambut bisa menjadi sumber pangan masyarat sekitarnya. 

Menarik dan sangat perlu untuk kita renungkan bersama. Benar-benar kita tuh dibutakan oleh nasi. 

Sebagaimana Mas Arif dari Kompas bilang bahwa struktur tanah yang ada di masing-masing daerah itu tidak selalu berkawan dengan padi. Ada yang cocok dengan singkong dan masyarakatnya memang lihai mengolah singkong sejak nenek moyang, selain itu masyarakat luar jawa juga  banyak yang menjadikan sagum umbi-umbian, jagung, kentang dan lainnya.

Risiko besar dari penyeragaman sumber pangan ini kini berdampak buruk di masyarakat. Triple burden malnutrition pun terjadi karena kebergantungan pada nasi sehingga asupan nutrisi tidak variatif, mahal,  dan kualitas gizi pun menurun dengan gastrokolonialisasi lewat produk-produk instan dengan proses UPF.

Singkong,Sumber Pangan Penjaga Keseimbangan Masyarakat Lokal

Dari semua sumber pangan, yang cukup familiar di rumah saya selain beras adalah singkong.

Pada satu ketika ibu saya pernah melontarkan keunggulan singkong ini. ‘Makan singkong sepotong saja sudah kenyang’.

Respon saya saat itu lebih kurang karena memang rasanya yang sepet jadi seperti ingin segera menyudahi makan meski baru tiga gigitan saja.

Seringnya makan singkong itu ditemani dengan tempe goreng. Tapi tak jarang juga ibuku akan mengolah singkong dan menjadikannya cemilan. Makanya tak heran saya cukup familiar dengan olahan singkong seperti kue mataroda, lemet, getuk, oncom, misro, tape, dan sawut.

Singkong ternyata memiliki keunggulan juga yang tidak ada pada nasi. Selain sebagai sumber karbohidrat yang tinggi, singkong juga memiliki kandungan vitamin c, kalsium, fosfor, flavonoid.  Bahkan dengan kandungannya yang kayak serat akan menjadikan karbohidrat ini butuh waktu untuk terserap oleh tubuh, sehingga bermanfaat untuk mencegah masalah sembelit. Bahkan pati resisten yang dimiliki singkong ini menjadikan pencernaan baik lewat bakteri baik yang ada pada usus.

Tak perlu nasi untuk makan terlihat mewah. Malah justru keberagaman pangan dengan pengolahan yang memiliki banyak variasinya, baik dengan sentuhan olahan tradisional maupun modern, tetap bisa menjadikan pangan lokal ini memberi nutrisi lebih yang dibutuhkan oleh tubuh kita. 

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!