Story

Rindu suasana Muludan

Telah tiba waktu saat shalawat berdendang di hampir setiap pojokan musholla dan masjid. Tentu lantunan tersebut hanya dapat didengar diantara lingkungan yang tidak membid’ahkan hal tersebut. Marhaban Ya maulid Nabi

Ada cerita menarik dari perjalanan hidup saya. Cerita yang berkaitan dengan cerita pada salah satu bulan yang penuh berkah dalam hitungan bulan Hijriyah, ialah Bulan Rabi’ul Awwal. Bulan kelahiran sayyidina wa habibina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasaalam.

Cerita tentang muludan. Memperingati kelahiran Sang Rasul dengan membaca kembali kisah-kisahnya, bait-bait mesra yang membuat kerinduan pada suasananya, pada lantunan sajak-sajaknya, dan pada reriungan orang-orang yang berkumpul sembari melantunkan syair-syair penuh kerinduan kepada kekasihNya.

Rutinan malam jum’at di beberapa tempat ada yang membaca Maulid Diba’ karya Imam Syekh Abu Muhammad Abdurrahman Aad-Dibaiy. Ada juga membaca Burdah karya Al Imam Abu Abdillah Al Bushiriy, dan Barzanji karya Sayyid Ja’far bin Hasan. Sila cek kisah-kisah para sahabat Rasul tersebut.

Image result for maulid diba

kutipan bait-bait Barzanji

Saat kecil, di rumah biasa mendengarkan lantunan maulid diba’ setiap malam jum’at, akan lebih sering lagi saat bulan Mulud tiba. Setelah kuliah dan tinggal di pesantren Pandanaran, kegiatan tersebut masih dilakukan juga. Membaca Maulid diba’ setiap malam jum’at sambil bantingan -semacam potluck- dari masing-masing santri, untuk disantap bersama-sama sambil cerita sana-sini. 

Setelah pindah ke Krapyak, cerita di malam jumat berbeda lagi. Selang-seling di Masjid dan di rumah. seminggu sekali ke Masjid yang ada di depan pondok, minggu lainnya cukup marhabanan di pondok saja.

Di masjid kita biasa membaca Mulid Diba‘ juga. Seusainya, kita makan-makan bersama dari jama’ah yang kebagian jatah untuk memberi makan. Makannya tentu enak-enak, semoga penuh berkah juga.

Jika seringnya membaca Maulid Diba’, di pondok Ibu biasanya membiasakan kepada kami untuk bersama-sama membaca Burdah. Mulut agak kaku juga sih, nggak secepat seperti membaca Mulid Diba’ karena memang tidak biasa membaca Burdah.

Seiring berjalannya waktu, hal tersebut dapat terhandle lah. Bahkan kegiatan tersebut menjadi seru dan sangat menyenangkan untuk menguji kemampuan ketepatan membaca kami.

Lebih seru lagi saat kami harus berganti nada untuk bait kesekian, saat kami lupa nada di bait tertentu, dan saat kami iseng-iseng ganti nada dan ketahuan Ibu  disuruh langsung kembali lagi ke nada sebelumnya. Yang paling dinanti-nanti tentu sajian seusai acara Burdahan selesai. Ibu selalu memberikan hidangan istimewa untuk kegiatan burdahan ini. 

Cerita berganti saat kehidupan setelah menikah datang. Kami tinggal perkampungan yang ternyata kental dengan suasana pondok. Tidak bisa dibayangkan sih, banyak pondok di lingkungan kami yang baru ini. Belok ke kanan ketemu pondok, ke kiri juga ketemu pondok lagi. Waw orang-orang disini mah pasti banyak yang hafal Qur’an dan kitabnya jos, alim-alim ya. mbathinku.

Nah, jika malam jum’at biasanya membaca Maulid Diba’ dan Burdah, disini lain lagi. Bacaan yang dirutinkan setiap malam jumat dan Bulan Mulud ialah bacaan Barzanji. Tentu mulut yang belum terbiasa ini masih kaku dan pelan untuk membacanya. Kagumnya, ibu-ibu disini bahkan ada yang sudah hafal bait-baitnya.  Tentu bukan karena mereka menghafal, tapi karena mereka biasa melafalkan.

Hal istimewa yang saya temukan saya tanggal kelahiran Nabi, 12 Rabi’ul Awwal di Mlangi ialah adanya Hurmat Kanjeng Rasul. Warga bersedekah sebanyak-banyaknya. Beneran saya kaget dengan ritual ini. Mereka sanggup memasaka menu-menu yang enak (daging-dagingan), membagikan uang banyak, bahkan tidak tanggung-tanggung kadang mereka memberi peralatan elektronik atau voucher belanja.

Saat datang Bulan rabi’ul Awwal -Mulud dari Maulid- semarak lantunan baik Maulid diba’, Burdah maupun Barzanji semakin bergaung. Memecah kerinduan, merindingkan bulu kuduk pada setiap lantunan bait dengan nada-nada yang tentu sangat merdu dan mengena dihati tersebut.


Merapal setiap baitnya, apalagi memaknainya meski sebatas makna harfiah ke dalam bahasa Indonesia, sungguh membuatku merinding. Memang demikian seharusnya, orang yang sedang merindu. Apalagi merindu kekasihnya Sang Pencipta.

Memperingati hari kelahiran Sang Rasul, jikalau hanya sebatas membaca shalawat tidaklah menghinakan bentuk cinta kita kepada kekasihNya.  Lantunan shalawat dan bait-bait penuh cinta dan kerinduan adalah bentuk kebahagiaan. Bahagia atas terlahirnya seorang Rasul yang membawa tugas untuk menghantar umatnya dari kedzaliman menuju cahaya yang terang benderang.

Semoga kita para pengikutnya senantiasa kembali mengingat segala suri tauladan dan pelajaran-pelajaran dari Kanjeng Nabi tersebut. Menerapkannya dalam setiap tingkah laku kita, baik kepada sesama manusia. Mengingatkan kembali bahwa kemanusiaan dan toleransi harus senantiasa dijaga demi hablumminannas yang lebih baik lagi. amiin

 

2 Comments

  • Melina Sekarsari

    Hai, Mbak … Gantian aku berkunjung ke rumahmu, nih. Eh, baru ngeh nih bacaan sholawat dari buku yang dulu suka kuikuti semasa SD ternyata penulisannya Barzanji, ya. Dulu guru ngaji bilang perjanji aja, gitu, hehehe …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!