Random Thought

Facebook, Yay or Nay?

Beberapa tulisan yang saya blogwalking membuka pemikiran saya untuk membuka mata saya lebih lebar. Bahwa ada hal yang bisa diperbaiki dari sekian banyak hal buruk di sekitar kita. Dan itu berawal dari diri kita sendiri.

Saya tidak begitu suka untuk menengok media sosial bernama facebook. Ada muncul rasa kesal, marah, benci dan hal yang negatif lainnya. Rasa tersebut membuat saya kefikiran sepanjang hari. Jika tidak saya tuangkan dalam tulisan di jurnal saya, saya bisa sampai susah tidur. Karenanya saya melakukan uninstall, dan saya jarang sekali membuka facebook.

Facebook sebagai sosial media yang paling banyak penggunanya membuat ada banyak orang dengan berbagai macam pemikiran muncul di sana. Bahkan anak-anak sekalipun menggunakannya. Saya tidak memungkiri itu. Pun, ketika saya membuat akun tersebut, awalnya memang hanya untuk menambah teman atau keep contact dengan teman-teman di dunia maya.

Segala isi dari tulisan di facebook kebanyakan ada curhatan hati. Saya pun mengalaminya. Dulu isi feed-nya masih sebatas cerita-cerita keseharian, saya masih menikmatinya. Lagi pula, memang sangat asyik untuk menyelami dan bermain dengan hal baru tersebut bukan?

Hingga datang suatu masa di mana media sosial begitu dilingkupi oleh berbagai postingan penuh kebencian, menyerang lawan dengan berbagai sindiran, ataupun menggila-gilakan sang pujaan. Iya, tahun politik datang. Dan, postingan di facebook semakin memuakkan.

Meski tahun politik berlalu, saya tidak begitu tertarik lagi untuk menengok facebook. Saya rasa tidak ada hal yang sangat menarik. Kecuali sesekali memberikan komentar kepada orang terdekat. Hanya sesekali saja.

Lalu, tiba di suatu keadaan yang mengharuskan saya menengok kembali facebook. Saat saya bergabung dengan komunitas blogger yang mengharuskan tulisan kita diposting jika ingin dibaca orang. Tidak dipungkiri, dari hal tersebut saya mendapati hal baru yang menarik. Dari blogwalking saya mendapati beragam tulisan yang mencerahkan.

Apakah berbagi selalu berarti peduli?

Harusnya begitu, tapi saya rasa tidak selalu begitu. Tidak selalu tentang peduli.

Membagikan tautan untuk menunjukkan kepedulian berarti kita sudah memberikan jaminan. Bahwa apa yang kita bagikan tersebut adalah hal yang baik, terpercaya, dan sudah diklarifikasi kebenarannya.

Tentang sharing, saya rasa ada hal lain yang perlu benar-benar diperhatikan. Selain karena dia peduli ataupun karena informasinya benar. Dan hal ini seringkali luput dari kita, ada khalayak di dunia maya yang tidak selalu sepemikiran dengan kita. Pun, ada banyak juga penilaian orang tentang apa yang kita bagikan.

Hal yang paling riskan memang saat tahun politik datang. Semua merasa benar, semua dibagi-bagikan, dengan cara yang sayangnya tidak elegan. Dan saya tidak suka. Mungkin banyak juga yang tidak menyukai hal tersebut.

Jadi media sosial itu untuk apa?

Saya sendiri sedang mengamati, dan masih sedikit menikmati. Selama ini, yang saya sukai dari media sosial seperti facebook adalah saya mengetahui kabar teman-teman. Cerita lucu dari teman-teman, dan memetik ilmu yang dibagikan oleh seorang pakar. Saya hanya menyukai media sosial pada hal-hal tertentu.

Sementara itu, saya mendapati sendiri ada banyak teman yang menggunakan media sosial untuk hal baik seperti berdagang, berbagi ilmu, berbagi foto, atau sekedar sharing cerita keseharian. Hal yang cukup baik, dulu saya pernah melakukannya, tapi sekarang saya cukup enggan untuk begitu lagi. Mungkin sesekali menengok, tapi tidak sering.

Ada konsekwensi lain yang saya tidak suka juga, menjadi dikenal banyak orang. Meski sebenarnya saya sendiri sedang bergelut dengan hal yang saya sukai tapi harus dikenal banyak orang, blogger. Tergantung juga denk. Kalau yang dikenal orang adalah kebaikan kita, tentu boleh-boleh saja. Tapi memang menjadi orang yang dikenal banyak orang memiliki konsekwensi lain, hidup kita disorot, kita diperbincangkan, dan kita tidak bebas.

Dulu, saya pun mengalami hal yang tidak saya sukai kini. Memposting curhat, posting foto pasca jalan-jalan, dan postingan-postingan yang menggelikan jika dibuka kembali. Baiknya, saya bisa melihat kembali isi-isi postingan saya di media sosial, untuk sebuah kenangan.

Saat ini, saya sendiri bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa dan untuk apa saya bermedia sosial? Tapi, saat ini saya lebih menikmati untuk memantau. Jika kemudian saya menemukan hal yang baik, syukur. Jika kemudian menemukan hal yang tidak saya sukai, mungkin emosi saya sedang tidak stabil.

Memperbaiki feed dimulai dari siapa?

 Jelas dari penggunanya, dari kita sendiri, dan dari lingkup pertemanan kita. Saat ini sebenarnya kita bisa saja melalukan unfollow pada orang yang tidak kita sukai. Saya merapikan follower di Instagram untuk hal tersebut. Tapi di facebook saya belum bisa mengendalikannya. Agak susah dan butuh waktu banyak.

Philosophy Matters

Untuk mendapatkan energi postif jelas sekali feed kita harus penuh dengan orang-orang yang berfikir positif, hal-hal positif, dan bermanfaat. Tapi, tentu tidak bisa begitu melulu. Entah karena teman kita, atau relasi kita, atau karena nggak enakannya kita.  

Tentu saja, hal baik dimulai dari diri sendiri. Diri menyebarkan kebaikan, mungkin diantar ratusan postingan lain ada yang memahami maksud tulisan saya, meski satu orang. Ketika mood saya sedang baik, mungkin saya akan mencoba melakukan. Meski saya sendiri tidak yakin apakah begitu berpengaruh postingan saya yang baik menurut saya entah baik atau tidak menurut orang lain.

Facebook dengan adanya fasilitas share menjadikan orang mudah sekali untuk membagi kan sesuatu dan mengomentarinya. Tapi, alih-alih diharapkan banyak orang membaca malah yang muncul banyak orang mudah sekali berkomentar.

Maka, selain memperbaiki feed itu sendiri, seharusnya kita sudah memperbaiki pemikiran kita. Bahwa tidak semua yang kita lihat dalam tampilan facebook itu baik dan sebaliknya. Serta, yakinilah itu hanya di dunia maya, tidak perlu berlebih-lebih menilai. Senyatanya kehidupan kita butuh lebih banyak interaksi dengan mereka yang ada di depan kita. Di dunia nyata.

13 Comments

  • Dyah

    Saya pakai facebook hanya karena terkait dengan grup tertentu. Jadi umumnya hanya posting ataupun kasih komentar di grup. Jadinya yang baca ya hanya grup itu saja. Soal postingan politik, saya cuekin semua. Kalau twitter, cuma buat ngecek jalanan macet, plus kalau komplain ke PLN, Transjakarta, dll. Isi feed twitter cuma BMKG, TMC PoldaMetro, dan Transjakarta. Buat saya, sosmed gunanya banyak, tapi memang harus bisa menyaring sendiri isinya.

  • imeldasutarno

    sama mbak Ghina. Aku juga facebook sekarang buat setor link blog aja di komunitas blogger, plus menyimpan foto misalnya pasca jalan-jalan TAPI kemudian foto2nya digembok alias cuma saya sendiri yg bisa liat. Fungsinya ya buat nyimpan kenangan aja, siapa tau suatu saat hape error dan data hilang semua, minimal bisa liat kenangan jalan2 atau perkembangan anak2ku via FB. Sekarang hampir semua album di FBku digembok hehe. Lhah jadi panjang?

  • Ghina

    Wahaha.. Iya bisa digembok ya. Lama ga pernh naruh2 foto di fb soalnya. Skrg di google drive doank naruhnya. Hehe.

  • Rahma balci

    punya akun lama ya krn isinya sprt yang ditulis, terlalu banyak energi negatif, saya tutup akun, puasa FB, lalu buka fb lg dgn akun baru krn kebutuhan ikut grup komunitas aja, skrg medsos lbh untuk kebutuhan sharing postingan blog aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!