Nahla 3 tahun

Setelah sekian lama, akhirnya ada cerita lagi nih tentang Nahla. Sayang banget sebenarnya, ada banyak cerita Nahla yang terlewat begitu saja, huhu. Tapi, ya sudah, daripada menyesal tak berguna, mending kita cicil beberapa cerita yang masih bisa diingat. Heum!

Jadi ceritanya, 2 bulan yang lalu itu Nahla akhirnya menginjak usia 3 tahun. 3 tahun yang sangat dia tunggu-tunggu untuk dirayakan. Setiap hari bilang, “Mamah, happy birthday to you-nya mana? yang maksudnya ya minta kue ulang tahun. Sederhana aja sih, meski kita nggak menjadikan momen ulang tahun menjadi hal yang sakral, tapi ya seenggaknya mungkin memberi kue yang ada lilinnya bisa memberi kebahagiaan buat dia.

Dan, saat hari ulang tahunnya tiba, jreng-jreng… si Ayah pun membeli kue ulang tahun yang cantiknya bikin dia senang nggak ketulungan. Setiap ketemu orang, dia selalu bilang “Adek happy birthday, adek punya kue cantik lho, adek tiga tahun,” dan hal-hal baru lainnya yang dia pamerkan kepada setiap orang yang ditemuinya. Sebahagia itu ternyata.

Memang sih, sebelumnya saya melakukan sounding pada Nahla tentang umur 3 tahun. Yang artinya diharapkan Nahla paham bahwa dia bertambah umur, terus dilanjut dengan bisikan “adek udah bertambah besar lho, yuk pipis di kamar mandi sekarang. Yuk, pupnya di wc aja ya, adek anteng-anteng ya,” dan sounding lainnya yang saking seringnya, malah dia sering menjadikan sounding tersebut sebagai senjata. Semisal nih, “Mamah, permen itu tidak baik,’ waktu dia makan permen yang tinggal secuil lagi, atau malah bilang “es krim itu nggak baik, nanti giginya kayak mamah,” padahal es krimnya emang udah meleleh dan dia ga suka es krim yang meleleh, Hufft!

Yang paling menyenangkan tapi kadang bingung juga adalah saat dia sangat penasaran dengan sesuatu, atau saat melontarkan sesuatu yang berlawanan dari hal yang dia dapati. Semisal saat dia melihat bulan nih, dia bilang “Mamah, bulannya ngikutin terus nih,” “Mamah, bulannya kok nggak jatuh,” “Mamah bulannya kok nggak bobo”, “Mamah bulannya kok masih ada, kan ini sudah siang”. Pertanyaan dan pernyataan yang sudah membingungkan untuk dijawab. Saya masih belum memberikan jawaban saintifik. Ada yang bisa bantu jawab nggak, buibu?

Dia akan terus bertanya dan terus bertanya sampai dia benar-benar puas atau faham. Dia akan membandingkan satu hal yang dia tonton/baca dengan yang dia lihat secara langsung, Dia sudah mulai menunjukkan curiousity-nya tentang suatu hal. Jelas, saya juga kudu persiapan banget ini buat menjawab pertanyaan-pertanyaan begituan nih!

Ah iya, karena sekarang udah nggak segampang dulu untuk mengakses buku saat di Belanda, Alhamdulillah-nya, saat ini di tempat tinggal kami ada yang berlangganan Majalah Bobo. Akhirnya gitu kan, penasaran saya sama majalah ini gegara dulu ada tema blog #1Minggu1Cerita saya skip ngeblog karena nggak tahu mau cerita majalah apa *alesan. Di Grup semua pada ngomongin tentang majalah bobo, saya jadi tahu juga sekarang, haha. Dulu ya cuma tahu tapi karena emang ga dikasih majalahnya saat kecil ya jadinya cuma tahu aja.

And, she was extremely excited to read that magazine. Sangat senang saat ada Majalah Bobo edisi terbarunya datang. sangat senang dengan cerita Nirmala dan juga Bona. Senang ketemu sapu yang akhirnya dijadikan dudukan kayak Pipiyot sang Penyihir yang suka bawa sapu sihirnya untuk terbang tersebut. Hasilnya, mayan dia udah bisa mendongeng sendiri. Kadang seringkali suka dibikin kaget juga, ucapan-ucapannya dia udah mulai banyak meniru ucapan orang-orang disekitarnya. Dan ekspresinya saat bercerita benar-benar ikut gaya cerita saya. “Nggak gitu toh yo, adek pake ini aja lah, wah senangnyaaa (sambil tangan memegang pipi dan mata sedikit melotot). Hmm, oke, mamah terlalu bercerita ekspresif ya!

Tipe membacanya Nahla adalah menyukai satu buku dan akan dibaca berulang-ulang pada tokoh yang sama terus. Jadi Dengan cerita baru dengan tokoh yang sama seperti Cerita si Bona, Bobo dan Cimut, Peri Nirmala dan penyihir Pipiyot, akan lebih melekat dan lebih disukai oleh dia. Karena selalu ada cerita baru dengan tokoh yang sama.

Kenapa nggak beli buku-buku mahal atau buku-buku anak yang ngehits aja? Mahal sih. Lagi pula keadaan kami juga nggak memungkinkan untuk membeli banyak barang, begitu sih.

Anak kecil memang dipastikan memiliki mainan ya. Sampai saat ini mainan yang dimiliki Nahla masih sekitaran alat masak, pensil warna dan buku mewarnai, puzzle, dan block/lego. Mainan-mainan tersebut lebih saya pilih karena akan memunculkan interaksi dan kreatifitas pada anak.

Kenangan di Belanda sangat melekat di benak dia. Maklum, dulu sering banget beli mainan. Belinya tapi mainan bekas. *hemat. Jika sudah tidak dipakai bisa dikasihkan lagi ke tukang loak, jadi merasa tidak ada beban aja nanti bisa jika sudah bosan, begitu maksudnya. Jadi kalau Nahla membicarakan mainan yang di Belanda nanti dia akan bilang “Adek punya sepeda, tapi di Belanda”, Adek mainan lego-nya di Belanda” atau bahkan sampai bilang “Mamah ayo ke Belanda, ambil sepeda merahnya Adek.” Wkwk, Belanda tidak sedekat itu, Dek!

Uniknya, dari satu mainan, dia bisa membuat berbagai mainan dengan imajinasinya. Semisal pencil warna dia nih, dia jadikan stetoskop kayak dokter di video yang pernah dia lihat, atau jadi tongkat buat taruh jemuran kayak yang biasa Mbak-Mbak asrama lakukan, atau menjadi alat buat mancing ikan, atau menjadi tangga. Ada-ada saja emang. Saya pun tidak mengira dia bisa berimajinasi demikian. Memang ya, seharusya kita tidak perlu khawatir bahwa anak akan bosan. Anak memiliki banyak imajinasi dari hanya satu benda saja.

Nahla dikasih gadget nggak? hehe, dikasih donk. Saya menggunakan aplikasi Youtube Kids. Jadi, dengan aplikasi ini saya bisa membatasi waktu anak menonton. Sebelum menonton saya akan bilang efek tidaknya jika menonton terlalu lama, dan saya kasih tahu jatah waktu dia untuk menonton. Channelnya kebanyakan lagu-lagu dengan bahasa Inggris, seperti Cocomelon, BabyBus, Peppa Pig, LBB dan lainnya. Tentunya, saya harus mendampingi dia. Menonton sambil menceritakan ulang, itu tugas yang saya lakukan. Jadi, nanti setelah menonton kita kadang mengobrolkan video tersebut dan menirukan ucapan dari video tersebut. Berefek sangat baik kok, jika kita mendampinginya.

Gimana Nahla berinteraksi dengan teman seumurannya? Nah, di sini kebetulan ada teman yg setahun lebih tua dari Nahla. Awal-awal main tiba-tiba langsung lekat. Saat Zahra mau pulang ke rumahnya, Nahla pasti nangis. Memunculkan gampang marah layaknya anak yang sewot saat hpnya diambil. Akhirnya konsep privasi untuk urusan waktu dan rasa memiliki pun saya terapkan.

Nahla dan Zahra

Di Usia 3 tahun dia tidak hanya menolak sesuatu dengan mengucap kata : Nggak, No, Ney, atau emoh. Ternyata sekarang kalau diminta atau diarahkan, dia akan mengucap “Bukan itu Mamah, yang ini aja,” “Adek tidak mau, karena itu kekecilan”. Jadi, tidak hanya sekedar memberikan tanggapan, tapi juga memberi alasan atas tanggapannya dia.

Karena pola pikirnya sedang berjalan begitu, akhirnya saya pun mencoba untuk mengajak diskusi ketika ingin memutuskan sesuatu, mengenalkan gender, mengenal sebab-akibat, mengadu argumen sebelum melakukan sesuatu, dan lain sebagainya. Tentu masih banyak hal yang perlu dilakukan, dan ada lebih banyak hal pula yang saya pelajari dari anak usia 3 tahun ini. Ah, senangnya. Sekarang ada yang sudah bisa diajak diskusi, bercerita yang lebih komunikatif, dan mendebatkan sesuatu.

Semoga bertumbuh dalam kebaikan, kemanfaatan dan kasih sayang ya, Nak.

4 thoughts on “Nahla 3 tahun

  1. Selamat bertambah umur Nahla yang ke 3 tahun, semoga tumbuh sehat, tumbuh ceria, menjadi anak kebanggaan mama dan papa dan selalu melakukan segala sesuatu dengan senang 😀

  2. Udah gede aja Nahlaaaaaa.. ! Selamat bertambah umur, makin cantik , sehat selalu, makin pinter, dan bahagia sepanjang masa.. (ini telat ya.. ? 🤭🤭🤭) . Tapi doa kan berlaku sepanjang masa.. hihihi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *