Ghinarahmatika.com – Saat salah satu guru Qur’an panutan saya, Ibu Durroh Nafisah Ali, putri dari Mbah Ali Maksum, meninggal dunia, dunia santri terutama santri quran pun gempar dan merasa kehilangan. Kehilangan yang dalam namun menyisakan hal-hal baik yang menjadi pengingat kita, terutama orang-orang yang sedang berjuang menjaga hapalan Alquran. Tak heran kepergiannya menyisakan banyak kenangan indah. Dulu ketika saya mondok di Krapyak, tapi beda komplek, saya mendengar banyak cerita harum tentang beliau.
Maka dengan kepergian beliau, menyisakan banyak duka kehilangan dalam sekaligus mengungkap banyak kenangan cerita kebaikan beliau.
Beberapa hari setelah kepergian beliau, mulai beredar beberapa video-tentang kegiatan beliau saat muroja’ah sambil menyetir mobil, memvideokan santri-santrinya yang lagi simaan, dawuh/petuah beliau dengan para santri, hingga bahkan beliau masih sempat muroja’ah saat menjelang tindakan operasi.
Gambaran seperti itulah yang kira-kira menggambarkan bagaimana Ahlul Qur’an berkegiatan sehari-harinya. Beliau senantiasa muroja’ah Al-Qur’an dari mulutnya dimana pun, kapan pun, bahkan dalam kondisi sulit sekalipun.
Tiba-tiba pikiran saya terhenyak sesaat setelah melihat video tersebut. Sama halnya seperti melihat video simaan ngajinya Bu Nyai Hannah maupun Ning Sheila yang saya kagumi juga keshalihahannya. Mereka benar-benar menunjukkan diri bahwa orang yang menghapal itu memang sudah seharusnya menjadikan Qur’an tidak lepas dari kegiatannya.
Sebagai seorang santri, tugas kita adalah mengikuti jejak kebaikannya, melaksanakan petuah-petuahnya, dan tentu saja mendo’akannya. Bahkan jika memang kita adalah santri yang juga lulusan pondok tahfidz maka tentu kita pun memiliki tanggung jawab untuk menjaga hapalan sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh guru-guru kita.
Cara Merawat Hapalan: Pekerjaan Personal Sepanjang Hayat
Saya yakin ada banyak dari kita yang sangat mengagumi orang-orang yang memiliki kemampuan menghapal Alquran dengan baik. Tapi jarang ingin tahu bagaimana cara mereka menjaga hapalannya?
Kalau saat di pondok, semua sudah terjadwal. Setoran ada gurunya, simaan ada partnernya, malas keduanya agak ga mungkin untuk skip karena ada keharusan yang menuntun kita untuk bisa mengerjakannya, mau nggak mau.
Tapi saat sudah boyong dari kehidupan pondok dan menjalani kehidupan sehari-hari, penopangnya adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita menghadapi mood, aktivitas, dan jadwal ngaji kita. Jika tidak menjadikan hal ini sebagai bagian penting yang menjadi kebiasaan dan kewajiban rutin sehari-hari, bisa buyar hafalannya, sih.
Karena kalau urusan menghapal saja, itu cukup mudah. Sementara menjaganya hapalan itu perlu usaha keras, sangat keras.

Maka ingatan saya kembali pada masa-masa di pondok dulu. Ketika itu ada seorang Mbak yang mau melakukan Riyadhoh selama 40 hari. Jujur sebagai anak baru saya belum begitu paham maksud dari makna Riyadhoh tersebut. Tapi yang saya lihat Mbak itu terus mengaji dan ada mbak ndalem yang menyimaknya, karena ibu punya kesibukan di kampus juga.
Ternyata Riyadhoh itu adalah tahapan lanjutan yang bisa dilakukan ketika seseorang sudah khatam dan disimak glondongan (sebutan untuk orang yang sudah disimak hapal 30 juz sekali duduk/dalam satu hari khatam). 40 hari maka maksudnya adalah Mbak tersebut khatam selama 40 hari, yang berarti dalam sehari khatam sekali.
MasyaAllah, udah kebayang belum bagaimana perjuangannya?
Sebagaimana katanya man ra’a khamsa la tansa (barangsiapa membaca lima juz maka tidak akan lupa hapalannya) yang berarti memang interaksinya dengan Alquran memang lebih sering daripada kita memegang gawai pintar bahkan.
Saat saya mencoba ngobrol dengan Mbak tersebut, pernah lupa nggak? Beliau jawab, tentu saja ada banyak yang lupa, selain yang terlihat orang hapalannya selancar jalan tol.
Di situ beliau bilang bahwa menghapal Alquran selain perlu mengerahkan waktu dan ingatan juga ternyata tentang pengelolaan emosi. Iya, perlu emosi yang tenang agar hapalan bisa terus terlafalkan dari mulut kita. Perlu pengelolaan emosi yang baik juga agar saat ada banyak yang lupa tidak langsung menyerah, tapi malah semakin mendekap Alqurannya.
Tak ayal memang lupa itu seperti pengingat. Bisa jadi memang kita kurang pengulangan, bisa juga jadi pengingat agar kita tidak sombong dengan hapalan tersebut. Tapi tentunya Allah memang ingin hamba-hambaNya berlama-lama berinteraksi denganNya lewat Alquran.
Usaha keras lainnya dalam menjaga hapalan Alqur’an adalah lewat majelis simaan. Saya inget sekali pertama kali ikutan, tentu saya sebagai tim penyimak untuk menyimak teman yang hapal. Kalau tidak salah kala itu atas undangan orang yang punya hajat sunatan anaknya. Teman senior membagi jumlah hapalan dan siapa saja yang akan melafalkannya, hingga mempertimbangkan target dalam sekian jam kelar 30 juz.
Ternyata cara ini unik dan cukup menantang. Karena kita disimak teman, pilihan juz kadang sudah ditentukan dari jauh-jauh hari sehingga kita bisa mempersiapkan dengan lebih baik. Tapi tantangannya urusan hati seringkali bergumul saat melihat kualitas hapalan sendiri dengan hapalan orang lain. Antara minder, sombong, kesal, ngelu (karena nyimak hapalan yang nggak lancar), dan perasaan lainnya.
Projek Sepanjang Hidup: Berjalan Tegak Pada Kaki Sendiri
Tapi hidup acapkali tak selalu menemukan orang-orang satu frekuensi dan satu misi. Maka berjalan tegak pada kaki sendiri adalah hal yang semestinya berjalan.
Sendirian menjaga hapalan memang berat. Tak seperti saat di pondok yang mana selalu ada yang mengingatkan, menagih hapalan, ada yang harus disetorkan. Atau saat dengan teman di majelis simaan yang mana menantang kita untuk melancarkan hapalan karena bakal disimak oleh teman kita. Kalau sendirian, kita harus mengupayakan sendiri, menyemangati diri oleh diri sendiri, dan mencari lingkungan yang mendukung.
Iya berat memang. Tapi dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa justru di sinilah saatnya kita lebih berpasrah. Menyerahkan semuanya kepada Allah, dan memang hanya untuk mendapatkan ridho Allah dan syafaat Alquran di hari akhir kelak.
Maka belajar dari para Ibu Nyai Nafisah tersebut saya akhirnya tersadar bahwa kita bisa dan memang perlu untuk memasukkan Alquran dalam keseharian, tidak hanya dalam ucapan dan hapalan, tapi juga dalam pemaknaan, dan tentunya dalam akhlaq keseharian.
Ruang untuk melafalkan Alquran itu luas. Apalagi karena kita merupakan penghapal Alquran. Maka dengan tanpa perlu membuka Alquran dan hapalan yang sudah lancar, maka harusnya membuat kita lebih ringan untuk melafalkan Alquran dalam berbagai kegiatan apapun, di kondisi apapun.
Sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak berinteraksi dengan Alquran. Karena jika sudah hapal maka dalam rengekan tangis anak, saat jalan kaki, dalam perjalanan di kendaraan, mulut bisa melafalkan ayat-ayatNya. Sebagaimana doa senandung Alquran yang senantiasa kita lafalkan seusai mengaji, Warzuqna tilawatahu aana allaili wa athrofannahar, bisa membaca Alquran siang dan malam itu adalah rejeki dan kenikmatan tak terkira yang Allah berikan. MasyaAllah, semoga Allah mampukan kita menjaganya dengan baik. Aamin.
