Generasi kini

Ada perbedaan yang cukup menarik di acara Halal bi Halal yang diadakan oleh Warga desa RT 4, 5, 6 kali ini, dengan tema yang diusung “Pemuda desa membangun Desa” para pengunjung cukup banyak dipadati oleh para pemuda. Berbeda dengan kegiatan Halal bi Halal yang diadakan biasanya yang dipenuhi oleh para sesepuh dan rombongan para ibu yang membawa anak-anaknya. Ternyata acara halal bi halal kali ini memang digagas oleh para pemuda warga RT 4, 5, 6 Desa Cikeusal Kidul. Halal bi halal ini merupakan serangkaian acara Ramadhan yang diadakan oleh pemuda pemudi sana. Cukup tercengang aku melihatnya, karena konon katanya pemuda didaerah sini cukup banyak dan suka “mabuk” gitu deh.

Ke-iri-an dan keheranan saya mulai muncul. Ini pemuda dan warga kenapa sangat kompak? Padahal jika dibandingkan dengan potensi di daerah tempatku juga hampir sama, bahkan di daerah tempatku sudah banyak yang menginjak bangku kuliah. Ah, diri serasa tak berguna. Ternyata yang berada di bangku kuliah tidak ada bedanya dengan pemuda lain yang hanya menginjak bangku MTs atau Madrasah Aliyah. Keilmuan yang didapatkan percuma saja jika hanya kita simpan untuk kita sendiri. Bukankah ilmu yang barokah itu yang banyak manfaatnya untuk orang lain? Dan kita? Sudah bergerak sejauh mana untuk mengaplikasikan ilmu kita? Masih SECUIL!!

Pemuda memang katanya akan membludak, bahkan katanya Indonesia akan mengalami yang namanya Bonus demografi. Yaa, kita memang pemuda, pemuda yang katanya akan menjadi penerus perjuangan para tetua. Memang tidak dipungkiri bahwa pemuda adalah penerus perjuangan bangsa. Ya kita adalah generasi penerus, penerus yang harusnya menjadi “regenerasi” setiap titik perjuangan beliau-beliau yang sudah tua. Tapi kita sepertinya terlalu terleha dengan sebutan kita sebagai pemuda sehingga kita lupa apa saja yang harus kita lakukan untuk membuktikan diri sebagai yang katanya “pemuda”. Acara Halal bi Halal diatas mungkin hanya segelintir dari sekian banyak potensi yang seharusnya bisa dikembangkan lebih banyak untuk masyarakat. lalu kita selama ini apakan itu potensi lainnya? Atau mungkin kita belum tahu potensi kita saat ini, atau mungkin kita belum diberikan kesempatan untuk berada di lini para tetua itu, Begitu?

Sepertinya yang ketiga ini memang demikian nyatanya. Kegiatan keagamaan seperti Marhabanan, yang meramaikan masjid dan mushola, yang mengisi pengajian-pengajian. Hampir semua kegiatan tersebut diisi oleh orang yang sebagian masih sama sejak aku masih di bangku MI. Kita sebagai pemuda memiliki potensi tapi justeru kita lebih suka mengembangkan potensi kita di daerah yang bukan tempat tinggal kita. Kenyamanan menjadi satu hal yang kebanyakan menjadi alasan. Kita memiliki potensi, tapi sendiri acuh dengan potensi yang kita miliki. Yang seperti ini banyak dan menjadi penyakit masyarakat yang memabahayakan. Mereka berkeliaran dengan belagu-nya tapi, modalnya Cuma tampang doank, motor punya orangtua, baju yang dipake juga pake uang orangtua. Dan yang terakhir ini yang cukup miris, kita punya potensi dan tahu tentang potensi kita tapi kita diberikan sedikit atau bahkan tidak sama sekali kesempatan untuk kita bisa berkembang dan kemampuan kita untuk mengembangkan masyarakat. Lalu siapa yang salah?

Tidak ada yang patut dipersalahkan, tapi seharusnya kita menyalahkan diri sendiri dan berkaca jika memang kita hingga saat ini belum bisa melakukan perubahan secuil pun bahkan untuk diri kita sendiri. !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!