Sudahkah kita belajar kepada orang-orang terdekat kita?

Saat saya kecil, mendapati rumah yang dekat dengan mushola adalah hal yang menyenangkan. Meski ketika kantuk datang, suara tabuhan kokol datang menjadi hal yang tidak menyenangkan. Tapi, Alhamdulillah saat kecil saya masih mendapati Emak -Mbah dari Ibu saya- yang selalu rajin membangunkan saya sholat shubuh jadi jelas mau tidak mau saya harus bangun. Tidak tanggung-tanggung lho, diteriakin sama si Mbah dari Mushola langsung. Kebayang kan betapa kencang suara si Mbah?

Saat itu, Mbah saya tinggal di rumah Mbak dari Ibu saya. Maka membangunkan saya lebih mudah lewat teriakan daripada harus masuk ke dalam rumah. Mbah Putri sangat rajin untuk urusan ibadah, hingga tua saya mendapati beliau selalu menderes Qur’an-nya minimal satu juz setiap harinya.

Saat itu, Musholla pun masih di-Imami oleh adiknya Mbah Putri, ialah Aki Bahrawi, adiknya Mbah saya rumahnya berada di sebelah rumah saya. Hidup di desa memang biasanya tetangga-tetangga itu ya pasti masih saudara.

Mendapati Mbah yang Alhamdulillah juga pintar dalam hal Agama adalah kebahagiaan tersendiri. Hal yang paling saya ingat adalah Kenangan saya mengaji kepada Aki Bahrawi. Saat itu, sekitar usia 11 tahun Aki Bahrawi mengajak saya dan adik saya untuk mengaji kepada beliau setiap habis Isya. Ngaji tentang aqidah dasar, apalagi kalau bukan kitab “Aqidatul ‘Awam”.

Ngaji bersama beliau adalah yang sangat berkesan. Dengan usia yang sudah cukup sepuh, beliau dengan tekun mengajarkan kepada kami bab demi bab dari kitab tersebut. Dengan suara yang sudah agak serak dan sesekali diiringi dengan batuk, ngaji menimbulkan suara magis tersendiri. Apalagi setelah isya suasana di desa saat itu sudah benar-benar sepi.

Ngaji tentang kitab ini adalah pedoman sebenarnya. Pedoman Aqidah berkehidupan sebagai muslim sejati. Saya dikenalkan dengan istilah ‘aqoid seket’ yang terdiri dari sifat-sifat wajib dan sifat mustahil bagi Allah, serta sifat wajib dan sifat mustahil bagi Rasul. Sifat jaiz bagi Allah, dan sifa jaiz bagi rasul.

Kitab ini merupakan karya dari Sayyid Ahmad Al-Marzuki al-Makki. Saya mendapati kemudian kitab ini menjadi nadzoman yang dibaca sembari menunggu Guru datang. Karena seringnya dibaca, secara tidak langsung menjadikan kita yang sering membacanya menjadi hafal.


Seiring perkembangan jaman, saya yakin ada banyak orang yang kemudian lebih suka mengaji lewat youtube atau dari google. lebih simpel, cukup sekali sentuh. Mencari pemecahan atas suatu masalah, tinggal menulis masalahnya, tanya mbah google, lalu muncullah berbagai website yang menawarkan jawaban.

Kini mungkin semakin jarang orang sowan langsung menanyakan tentang suatu masalah kepada mereka yang berilmu. Kini juga mungkin semakin jarang orang mengikuti kebaikan yang ada di sekitar, namun tergesa-gesa untuk mencari hal lain yang jelas-jelas jauh darinya. Kini, seakan berilmu hanya sekedar mencari surga, kita lupa ada bab thaharah sebagai awal pengantar untuk menjadikan amal wajib kita diterima.

Kita lupa, ada kebaikan dari sisi seseorang, karena yang kita lihat hanya buruknya semata. Kita juga sering lupa, ada keburukan dari seseorang, karena yang kita lihat dan yang kita fikirkan, “seharusnya dia baik, karena dia itu begini dan begitu”. Selalu ada putih diantara hitam, ada juga hitam diantara putih. Karena kita manusia, dimana ada salah dan khilafnya.

Lalu saya jadi teringat sebuah pepatah “ yang paling rugi diantara kedekatan kita dengan seseorang ialah, kita tidak mendapati ilmu dari mereka”.

Psst, Tulisan ini mengantarkan saya pada kerinduan pada Emak kaler dan Emak Kidul, Mbah-Mbah saya, serta Uwa-Uwa saya yang memiliki kenangan sendiri dalam kehidupan saya. Semoga arwah mereka diterima di sisiNya, dan meninggal dengan husnul khatimah. Aamiin.

4 thoughts on “Sudahkah kita belajar kepada orang-orang terdekat kita?

  1. Amiiin… Saya pingin tua seperti Mbah. Yang tetap mau berbagi apa yang diketahuinya. Saya ingin tua seperti si Mbah. Yang meski sudah sepuh, tetep selalu ingat kepadaNya. Semoga saat ini dan akan datang saya bisa memiliki semangat seperti Mbah. Berbagi dan mencari RidhoNya. Amin 🙏

  2. Mbaaa, damai banget masa kecilnya.
    Terbiasa dengan suara mushola, jadinya malah adem dan menenangkan.

    Saya nih kayaknya kurang agama banget wkwkwkw.
    Jadinya kalau dengar suara azan apalagi suaranya melengking, langsung kayak setan aja jadi sedikit kesal wkwkw
    Apalagi kalau dengar suara orang ngaji kayak ngerap pakai toa, masha Allah… sungguh kuberdosa huhuhu.

    Emang ya, zaman sekarang, banyak yang lebih memilih Googling, termasuk ilmu agama.
    Padahal belum tentu semua yang ada di Google itu sumbernya terpercaya 🙂

  3. Saya jg kadang kesel kok, tp masa kesel sama nenek sendiri. Hehe.. Malah jadi kenangan tersendiri ya.
    Bisa aja sih belajar dr google tp kudu bener2 terpercaya sumbernya. Kalo ada kyai yg deket rumah mh disowanin aja, sekalian dapat berkah ilmunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *