Nomaden life,  Story

Oase Haul Guru Sekumpul

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu tiba, Haul Guru Abah Sekumpul. Keramaian jumlah jamaah yang datang, keberkahan orang-orang yang banyak bersedekah, keberkahan orang-orang yang berbagi rejeki, serta kebahagiaan orang yang kecipratakan rejeki, adalah hal yang banyak digaungkan orang-orang sini. Ngalap berkah dari haul Guru Sekumpul.

Baiklah, memang kurang lengkap rasanya, jika tinggal di suatu tempat tapi tidak mengenal asal-usul dan ragam cerita di dalamnya kan. Nah, kali ini aku mau cerita tentang hiruk-pikuk yang terjadi selama Haul sebulan yang lalu ya. Btw, draft ini sudah ada sejak sebelum Haul tapi malesnya mau dikelarin nggak kelar-kelar, heuheu.

Saya mau sedikit flashback dulu ya, biar yang nggak tahu tentang Guru Sekumpul nggak bertanya-tanya. Sekumpul adalah sebuah daerah yang dahulunya adalah sebuah hutan. Lahan ini dibuka karena Guru Sekumpul, seorang ulama tersohor yang bernama Asli Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, merasa bahwa beliau butuh tempat yang lebih luas untuk menampung jamaah yang lebih banyak. Beliau pun akhirnya membuat musholla juga, meski namanya musholla/langgar eh ternyata bisa menampung jamaah sampai 2000 orang, lho.

Ajaran yang diajarkan oleh Guru Sekumpul kepada para jamaahnya lebih menekankan pada akhlaq,tasawuf, dan yang paling meleka lagi ialah menghidupkan shalawat. Shalawat inilah yang masih menggaung hingga sekarang.

Sepeninggalnya beliau, ajaran-ajarannya masih melekat pada masyarakat di sini, terutama pembacaan sholawat. Dari mulai rutinan rathib haddad, simtudduror, bacaan-bacaan wirid sebelum solat dan sesudahnya, bacaan jelang subuh, hingga nada wiridannya pun semua sama. Rekaman Guru Sekumpul ketika mengadakan pengajian pun masih sering diputar. Jika begini, beliau yang tiada seperti tetap ada terus ya.

Kebetulan sebelum ke Sekumpul, kita sempat ikut meramaikan Haul Gus Dur. Konsep keduanya jelas sangat berbeda. Gus Dur seperti pada umumnya haul di Jawa. ada khataman dulu, bazar sosial, malamnya pengajian, selesai. Nah, kalau di sini terasa berbeda banget, sih.

Konsep Guru Sekumpul dalam pengajaran agama, penekanannya dalam sholawat. Karenanya, jelang haul beliau, dimana-mana pembacaan marhabanan macam burdah, simtudduror dan aneka ratib sangat digalakkan. Konsep berdakwah seperti ini bisa menarik perhatian sampai kalangan anak-anak juga, lho. Adanya kegiatan berkerumun sembari memainkan rebana dan bersholawat bersama menjadi daya tarik sendiri bagi mereka.

Acara Haul beliau pun sebenarnya singkat sekali. Baca simtudhdhuror seperti malam senin biasanya. Baca itu thok ya, nggak ada sambutan-sambutan blasss. Saya yang penasaran pun sebenarnya pengen bilang ‘oh gini aja toh’ tapi melihat pada segala persiapan, setiap pendatang yang datang dari segala penjuru, seluruh dapur umum yang mengepul, sekian rumah yang menampung jamaah, sekian rupiah yang tak terbilang, dan berton-ton sampah yang terkumpul, nggak bisa cuma bilang ‘gini aja’, ini tuh ‘waw’ banget. Subhanallah.

Persiapan bahkan sudah dimulai 2 bulan sebelumnya, Sejak Februari pun suami yang memang intens untuk melakukan riset ini ikut serta untuk ngantor sebulan bareng Pak Lurah Sekumpul. Melihat suami yang tiap pagi-sore ikut ngantor, tiap malam ikut koordinasi, bangun tenda, rapat tentang sampah yang beuh emang masalah banget, sampe ngurusin air, itu berarti bahwa ini adalah acara yang dilingkupi pemerintah juga, nggak cuma masyarakat dan keluarga Sekumpul doank. Tentu saja, jumlah jamaah yang datang kan perlu disambut, dijamu, dan diberikan pelayanan terbaik. Ini tentu saja tidak sederhana.

Konsep memuliakan tamu dan ngalap berkah adalah dua konsep yang sangat diagungkan. Haul yang mendatangkan ribuan orang tentu tidak bisa disepelakan. Mereka adalah tamu yang perlu dijamu. Karenanya, orang-orang di sini berbondong merelakan dirinya untuk menjadi sukarelawan. Entah itu untuk bagian acara, kebersihan, keamanan, transportasi, konsumsi, dan lainnya.

Ada bahkan nih rombongan dari Sulawesi yang mereka ingin membuktikan keberkahan dengan tidak membawa uang sama sekali. Karena konon, di sini ada banyak sekali warga yang membagikan rejekinya. Entah berupa bensin, makan, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Eh, ternyata benar donk, benar-benar GRATIS. Katanya banyak juga orang yang nekat begitu dalam Haul ini.

Mengumpulkan berkah dengan mengebulkan dapur

Salah satu yang paling mencolok perhatian adalah urusan makan. Di Sekumpul hampir tiap komplek membangun dapur umum. Semuanya ada 173 tenda dapur umum. Tidak hanya itu, beberapa orang yang memiliki uang lebih bahkan mendirikan tenda sendiri, dan memasak sendiri untuk para tamu tersebut.

Yang kefikiran, relawan yang masak berapa orang? yang distribusikan makanan gimana? kebersihan makanan? tempat tinggal jam’aah?

Urusan lauk menjadi fokus saya sih, hehe. Sebelumnya pernah ngobrol sama orang sini yang memang lebih suka makan daging. Yang mau sedekah sapi juga banyak ternyata, sampai kewalahan nerima tawaran tersebut malah *banyak orang kaya*. Ternyata memang, lauk yang mereka sediakan juga kebanyakan nggak jauh dari daging-daging. Daging adalah mahal, menghormati orang lebih baik dengan memberikan yang mahal dan bagus. begitukah?

Meski acara intinya hanya di malam senin yang dimulai dari habis maghrib dan selesai isya, ternyata keramaian Haul ini berlangsung selama 3 hari 3 malam. malam pertama diramaikan dengan pembacaan haul untuk kalangan keluarga Guru Sekumpul, malam kedua untuk kalangan tamu undangan khusus, malam ketiga adalah acara inti yang dibuka untuk umum.

Maka, jamaah yang datang kebanyakan di hari kedua. Saya sendiri sudah mempersiapkan rumah nih wanti-wanti nanti ada jamaah ke rumah. Beberes dan belanja jadi prioritas, selama 2 hari pasar nggak bakal buka, akses kemana-mana juga sulit karena jalanan penuh dengan jama’ah.

Untuk meramaikan acara ini, dan merasakan keriweuhan yang terjadi, aku pun memutuskan untuk ikutan rewang-rewang. Awalanya ikutan tetangga depan yang akan buka stand sendiri. ternyata yang rewangnya udah banyak sodara-sodara dan para tamu yang datang, yaudah saya pun pindah ke tempat lain.

Iseng-iseng datanglah ke Dapur Umum Komplek. Eh, di sini lebih dibutuhkan nampaknya, orang-orang yang bungkus makanan kurang banyak. Sementara itu, distribusi dan nasi yang perlu dibungkus bertambah terus.

Komunikasi bahasa coba saya perhatikan. Meski, karena memang tidak saling kenal satu sama lain dan mereka nggak begitu ingin tahu juga, yaudah rewang-rewang sambil memperhatikan pergerakan sekitar aja. Ada ibu-ibu yang membungkus sembari mengatur-atur daun pisang, bapak-bapak yang ngambil-ngambil nasi bungkus, melihat rombongan pemuda yang baru turun setelah keliling mengisi air di tandon warga. Oh iya, air menjadi kendala selama haul ini. Makanya, mobil PAM langsung datang ke tiap komplek.

Keisengan lainnya, saya merasakan ini seperti kondangan a la di kota, yang suka pindah-pindah stand makan buat nyobain menu baru, haha. Ketika lapar di pagi hari dan nggak sempat memasak karena keburu rewang, iseng datang ke stand depan yang udah ramai, eh siangnya ke stand dapur umum, dan sorenya dapat kiriman dari rumah depan. Alhamdulillah nih, selama 2 hari nggak masak sama sekali karena gas habis dan untungnya makan gratis terus, hihi.

Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar. Banyak jamaah yang langsung pulang setelah acara usai, banyak juga yang baru pulang keesokan harinya. Semoga acara ini terberkahi olehNya dan menjadikan kita hamba yang semakin dekat padaNya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *