Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tips Menikmati Membaca Al-Qur’an dengan Khusyuk

3 min read

tips membaca al-qur'an dengan khusyuk

Membaca Al-Qur’an dengan khusyuk adalah keinginan yang banyak diharapkan oleh seorang muslim. Apalagi ketika memasuki bulan ramadhan, keinginan untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an menjadi target. Jadi bagaimana tips untuk membaca Al-Qur’an dengan khusyuk?

tips membaca Al-Qur'an dengan khusyuk

Apapun baik, selama diniati dengan baik dan hati yang ikhlas. Ini bukan ajang perlombaan. Jadi tidak perlu selalu melihat pada kuantitas yang di dapat. Tidak perlu juga membandingkan satu sama lain. Masing-masing memiliki prioritasnya masing-masing kan?

Baca juga : Ramadhan, Al-Qur’an, dan Relijiusitas Kita

Eniwei, karena memang Bulan Ramadhan ini adalah bulan turunnya Al-Qur’an, kebanyakan targetnya adalah khatam Al-Qur’an. Sudah ada banyak sekali sih tips bagaimana caranya agak bisa khataman minimal sekali selama Bulan puasa ini. Kalian juga mungkin punya tips tersendiri, nih.

Memang, hampir seluruh ummat Muslim berlomba untuk melakukan kebaikan. Salah satunya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Yang tadinya sehari cuma sekali, jadi tiba-tiba merubah target menjadi 5 kali. Yang tadi satu halaman sedudukan ngaji, ingin naik lagi sampai seperempat juz. Lalu, apakah mudah untuk melakukan itu? Hmm, alah bisa karena biasa donk. Koentji.

Jadi nih, tidak ada yang segalanya tiba-tiba berubah dengan mudahnya, ya. Baca 1 halaman tiba-tiba ingin seperempat juz, ya abot banget. Apalagi cuma dilakukannya selama Bulan puasa thok.

We need to make it as a habit first.

Gimana cara membangun sebuah habit/kebiasaan?

Cek di sini ya : Habit Tracker : Tips Jitu agar tidak Kehilangan Waktu

Lalu, gimana kira-kira caranya untuk menikmati membaca Al-Qur’an?

So, here I wanna share some tips and stories for you.

Adab Membaca Al-Qur’an agar Khusyuk

Pertama, Baca pelan-pelan saja

As we know, kita harus membaca Al-Qur’an dengan khusyuk. Nggak boleh baca Qur’an tapi kok nggrasa nggrusu. Koyok dikejar sapi ae.

Suatu pengalaman nih, ketika pindah dari Pandanaran ke Krapyak. Pertama kali ngaji langsung di setop, terus didawuhi Ibuk Nyai : “Ngopo kok ngebut kesusu ngono,Gin? Arep pup tah?. Wes ngebut, gratol-gratol meneh ngajine. Baleni.” (ngapain kok ngebut keburu-buru gitu, Gin? Mau pup kah? Udah ngebut, nggak lancar pula. Ulangi!) Ya Allah, rasanya isiiin banget. Aku harus mengulang lagi. Tapi, wes ilang kabeh bacaane. Jadilah, aku mundur aja. Aku siap menanggung malu ini sendiri. Hiks. *eh kok curhat

Acapkali membaca Al-Qur’an cepat itu capek sendiri lho jadinya. Ya, jangankan meresapi maknanya yang kita aja nggak paham. Meresapi kata-katanya aja nggak nyantol-nyantol di hati.

Baca juga : Kita yang Sibuk Berbuka Puasa

Ternyata ada fokus yang perlu di bentuk saat membaca Al-Qur’an ini. Kita butuh ketenangan, maka kita kudu menyiapkan diri dengan tenang dan membaca yang tenang. Coba, kamu dengarkan orang ngomong cepet. Apa kamu mendapati ketenangan dan kenyamanan?

Jadi, sebenarnya nek sudah melihat orang membaca dengan tenang itu, kalo kata Pak Kyai Zaki ‘bacaane iku metu dewek tanpa dipikir‘ (Bacaanya bakal keluar sendiri tanpa difikir). Ini nek semisal lagi dzikir gitu ya. Atau saking menikmati bacaan Al-Qur’an tiba-tiba kepala jadi geleng-geleng tenang tanpa sadar gitu.

Kedua : Jangan pasang target waktu

Yaaa nggak tahu ini ada yang mraktekin juga nggak ya. Tapi aku, iya. Dulu pas MI, karena kata Mimih ngajilah sehalaman aja dulu. Ya aku tiap ngaji set timer atau lihat waktu. Lalu, dengan songongnya ku pasang target 1 halaman itu 1 menit. Bayangin itu ngebutnya kek apa?

Terus Mimih bilang sembari manas-manasin. “Coba ngajinya naik lagi targetnya. 1 juz cuma 30 menit kok. Setengah juz juga mayan, seperempat jam doank kan”. Aku panas, donk. Aku praktekkin deh.

Mimih sih maksud mau mengajarkan aku untuk lebih banyak meluangkan waktu untuk mengaji. Tapi aku dibilangin yang seperti ditantang begitu yaa jadi panas. Aku praktekin deh.

Lagi, aku merasa puas. Tapi, hmmm, jangan tanya kecepatan dan ketenanganku kayak apa. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengejar kita. Padahal, memangnya setelah ngaji mau melakukan apa, sih?

Ketiga : Jangan lihat halaman yang belum dibaca

Hayo siapa yang suka begitu? Akuuuuuu. Huhuhu. Niat udah ditata, mau ngaji semisal 1 juz sekali dudukan. Oke, 1 juz itu 10 halaman ya. Lalu mulai baca. Ditengah baca, suka iseng deh, bacaanku tinggal berapa halaman lagi ya. Eh ternyata masih 6 halaman lagi. Kendor deh semangatnya. Hati nggak tenang. Kerasa capek. Gitu ga? Gitu sih.

Melihat hasil itu ga bagus kan. Coba rasakan prosesnya. Baca dan bacaaaa aja terus. Menikmati setiap ayat yang dibaca. Lembaran kertas yang dibuka. Menikmati suara bacaan sendiri yang agak merdu mungkin. Dan memperhatikan detail kecil lainnya. Kan nggak kerasa. Karena fokus baca jadi malah tiba-tiba kelar aja gitu kan.

Keempat : It’s A Healing

Membacan Al-Qur’an dipercaya menjadi obat. Hal tersebut tertera sendiri dalam ayat-ayat yang tertulis dalam Al-Qur’an. But, how to feel it?

Topik mindfulness semakin menjadi trending belakangan ini. Jika kita menyelaminya baik-baik, kesadaran itu memang butuh fokus. Sadar dengan melihat aspek-aspek sekitar yang sering kita abaikan. Seperti: Waktu. Ketenangan. Kesadaran saat melakukan sesuatu. Menikmati helaan nafas yang sering terabaikan. Menikmati apa yang dilakukan. Berhenti dari rutinitas.

Berhenti untuk lanjut.

Kita butuh jeda. Berlarut-larut mengurusi urusan hingga penat itu tidak baik. Kita butuh spasi, untuk melanjutkan hidup yang lebih baik dengan berhenti terlebih dahulu.

Baca juga : Haamilul Qur’an

Membaca Al-Qur’an bisa menjadi penjeda. Dalam prakteknya, membaca Al-Qur’an pun melatih pernapasan kita. Berjeda untuk mengganti topik cerita. Berjeda untuk membedakan makna. Berjedalah untuk memberikan ruang ambil nafas terlebih dahulu. Karena salah henti bisa jadi salah makna.

Dalam proses membaca Al-Qur’an, penting kiranya untuk memperhatikan helaan nafas kita. Ketika membaca ayat, beberapa hal yang harus diperhatikan helaan nafasnya seperti : saat hendak membaca, berhenti saat di akhir ayat atau jika ada tanda waqof, memilih untuk melanjutkan bacaan ataupun berhenti terlebih dahulu, menjadi hal yang sangat penting.

Kita menikmati hela dengan henti. Kita berhenti untuk melanjutkan bacaan lagi. Kita mendapati ketenangan. Insya Allah.


Nah, sekian tips sekaligus curhat yang semoga manfaat ini. Selamat menikmati hela demi hela nafas kita saat membaca Al-Qur’an. Semoga sehat selalu. Marhaban Yaa Ramadhan.

Sabtu,

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

2 Replies to “Tips Menikmati Membaca Al-Qur’an dengan Khusyuk”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!