Story

Menguji Peduli dalam Pandemi

WHO menetapkan bahwa virus yang menyebar sebegitunya pesatnya ini sebagai Pandemi. Waw, ini menjadi fokus penting. Pandemi berarti bahwa penyakit ini menyebar di banyak tempat dan menyerang banyak orang. Itu berarti virus ini sangat mengerikan dan berdampak pada semua aspek kehidupan manusia.

Maret awal, ketika diumumkan bahwa ada 2 orang warga Negara Indonesia yang terkena covid-19, Indonesia menjadi geger. 2 hari kemudian, bertambah lagi. Bertambah dan terus bertambah. Hingga per 21 April 2020, warga yang terkena virus ini sudah mencapai 7135 jiwa.

Jelang 2 bulan, himbauan untuk #dirumahaja oleh pemerintah disuarakan. Beberapa kantor, perusahaan dan sekolah diliburkan. Akibatnya, ternyata memiliki dampak yang sangat besar. Saya agak kaget, ketika tanya teman yang masih bekerja ke kantornya. Ketika ditanya, dia bilang : Iya, Mbak. Saya masih bersyukur masih bekerja meski harus ke luar rumah. Bapak saya dirumahkan, tapi tidak di gaji soalnya”.

Baiklah, dampak dari #dirumahaja ternyata sangat besar, meluas dan hampir menyeluruh.#dirumahaja tentu tidak bisa diperlakukan untuk setiap aspek dan pekerjaan. Mereka yang pekerjaan berupa pekerja harian, penjual makanan, bahkan bagi tukang ojek sekalipun. Tentu banyak sekali pihak yang terdampak.

Dibalik itu semua, tentu ada hal yang peru disyukuri. Alhamdulillah, alhamdulillah, tsumma alhamdulillah. Syukur masih diberikan nikmat sehat dan makanan sehat setiap hari. Dengan keadaan seperti ini, berribu-ribu syukur dan ampun katanya harus semakin sering dilafalkan. Sebagai wujud keterikatan dengan Sang Pencipta (hablumminallah). Kita memang sering lalainya daripada syukurnya.

Sementara itu, sebagai manusia yang memiliki nurani, maka kita perlu peduli. Tentu ada banyak tangan-tangan yang membutuhkan uluran tangan. Bahkan, dalam kasus covid-19 ini, bantuan kita dengan tidak keluar rumah pun bisa menjadi bantuan yang sangat peduli bagi Para perawat, dokter, dan Rumah Sakit.

Ya. Peduli pada orang tidak hanya melulu materi. Meski tentu bantuan berupa materi pun sangat berharga bagi mreka. Tapi, ada banyak hal bisa kita lakukan. Seperti yang belakangan saya lakukan. Ternyata, Berbagi itu membahagiakan.

Ayo, Peduli dalam Pandemi

Beri Informasi lengkap dan akurat pada Keluarga dan Orang-orang terdekat

Saya rasa memang harus diutamakan dalam melakukan segala sesuatu adalah: utamakan keluarga. Ini penting, terutama pada orangtua. virus ini bukan asal penyakit yang bisa disembuhkan dengan memakan obat tertentu. Bahkan, untuk menangkal virus ini obatnya belum ditemukan sampai saat ini.

Informasi yang berhamburan tidak terelakkan harus dipilah dan disaring terlebih dahulu. Namun, seringkali orangtua kerap menangkap semua informasi mentah-mentah. Parahnya lagi, meski mereka tidak bisa lepas dari televisi namun info yang didapat dan yang dipraktekkan tidak sejalan. Ada lagi, telpon genggam yang bisa membuat pintar, hanya bisa beliau gunakan untuk menelepon dan berkirim pesan.

Tugas besar ini tidak bisa disepelekan ternyata. Dengan keadaan kami anak-anaknya yang sudah berhamburan jauh dari orangtua, mengingatkan menjadi tantangan tersendiri.Benar saja, beberapa kali mengingatkan melalui pesan singkat maupun telepon untuk tetap tinggal di rumah, eh mereka ternyata sedang berurusan di luar rumah dengan perlindungan yang tidak memadai.

Bahkan beberapa kali bertanya : Kapan pulang? lebaran pulang nggak? heum. Kenapa mesti ditanyakan. Berulang kali bertanya, berulang kali juga dijawab ‘nggak’. Bukan, bukan karena kami tidak sayang orangtua. Justeru karena kami sayang sekali, makanya kami tidak ingin membahayakan orangtua.

Berbagi pada sesama

Ada banyak sekali pihak yang mengajak untuk berdonasi. Selain itu, ada banyak pula ajakan untuk melakukan kecil yang bisa membantu pihak-pihak yang membutuhkan. Seperti membeli masakan tetangga, membeli makan online untuk Tukang Ojek, dan warung online dadakan yang dibuat oleh kelompok masyarakat. Semua dilakukan untuk mendudung agak kebutuhan pangan terpenuhi, serta ekonomi masyarakat tetap jalan.

Saat ini, artis yang memang memiliki pengaruh cukup besar bagi masyarakat pun turut serta. Seperti Didi Kempot yang mampu menghasilkan donasi sebesar 2 Milyar dari konsep di rumahnya. Selain Didi Kempot, ternyata influencer seperti Rachel Vennya, yang aku ajak baru tahu gegara donasi ini, bahkan menyumbang sampai hampir 4 Milyar. Alhamdulillah, masih ada banyak orang-orang baik ternyata.

Salah satu yang mengusik saya justeru undangan yang diadakan dari teman-teman Himpunan Mahasiswa daerah tempat dulu saya ikut bergabung. Yok, anak Brebes yang kuliah di UGM mana suaranya?

Karena berasal dari tempat yang sama, kami menjadi sangat akrab. Tidak hanya keakraban yang bisa kami jalin. Alhamdulillah, dengan mengumpulan dana dari berbagai alumni HIMABES UGM (Himpunan Mahasiswa Brebes UGM) yang sudah merantau ke banyak daerah dan bekerja di berbagai instansi, dapat memberikan sumbangan kepada Beberapa Rumah Sakit dan Puskesmas yang ada di Brebes.

Alhamdulillah, meski tak seberapa ternyata bisa sangat membantu.

Beli sayuran lewat Pesan Antar dan Paman Sayur

Selama tinggal di Sekumpul, seperti biasa, saya memilih untuk berbelanja kebutuhan rumah secara langsung. Senangnya, saya ketemu penjual yang sudah seperti teman. Cuma mbak ini yang pertama akrab dengan saya selama di sini. Sayangnya, pasar cukup jauh dari rumah. Agak riskan juga untuk sering belanja ke luar, apalagi ada yang terkena suspect dekat pasar. Akhirnya, tanya-tanya untuk pesan belanjaan dan diantarkan, alhamdulillah bisa.

Selain itu, Ternyata setiap hari ada sekitar 3 penjual sayur keliling yang melewati komplek saya. Saya sering abai karena memang sudah beli langsung ke pasar. Tapi, ternyata di kondisi begini memang akan lebih memudahkan kita untuk membeli langsung ke Paman sayur aja. Terutama bagi saya yang tidak memiliki kulkas.

Jadilah, membeli sayuran ke Mbak di pasar lewat pesan antar, dan membeli lauk pauk pada Paman sayur. Alhamdulillah ya, Allah mudahkan.

Di Rumah Aja

Satu hal yang membuat kami yang bukan dokter pun merasa sangat berjasa. Tinggal di rumah aja, yang bisa gegoleran sepuasnya, berkreasi semaunya, dan melakukan aktifitas apapun di rumah ternyata sangat membantu.

Bahkan, ada kan itu meme yang sampai bilang, bahwa dengan kita tinggal di rumah aja, kita sudah berjasa. Berjasa mengurangi penyebaran virus dan mengurangi beban para Garda Terdepan untuk mengurangi penyebaran virus.

Meski tidak bisa jalan-jalan, kulineran, dan bahkan rencana untuk mengurus visa terkendala (karena kantornya juga tutup), pilihan untuk tetap tinggal di rumah aja adalah pilihan terbaik. Jika bukan kita yang bertindak untuk mengurangi penyebaran ini, siapa lagi?

Yuk, bantu Indonesia dan Dunia lepas dari COVID-19 dengan di rumah aja, ya.

Nah kan, tentu masih ada banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Baik material maupun spiritual. Semoga usaha-usaha kita dapat meringkan beban mereka, dan corona pun segera berakhir. Aamin.

Lebih banyak #dirumahaja

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x