Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Mengenal Gaya Hidup Sehat dari Pare

4 min read

mengenal gaya hidup sehat dari pare

Mengenal Gaya Hidup Sehat dari Pare– Siapa yang belum kenal dengan Pare? Sebagian besar orang pasti sudah tahu ya kalo Pare merupakan Kampung Inggris. Betul, kita akan menemukan banyak sekali kursusan bahasa. Bukan sekadar bahasa inggris lho, ada juga bahasa arab, mandarin, maupun bahasa lainnya. Namun, tempat kursusan yang saya tinggali kemarin tidak hanya mengajarkan tentang hal tersebut.

mengenal gaya hidup sehat dari pare
20200712 164347 0000

Adalah Miss Uun Nurcahyanti yang memperkenalkan pola hidup sehat kepada saya. Pola hidup yang memang beliau terapkan tersebab penyakit yang beliau derita.

Beliau memiliki stroke sejak usianya masih muda, 23 tahun, CMIIW. Alhamdulillah, hingga kini beliau masih sregep dan senang beraktifitas seperti mengajar, membaca, dan menulis. Kharisma dan pola hidup beliau mengubah banyak orang yang pernah tinggal di asrama tertular secara tidak langsung pada pola hidupnya.

Pernyataan beliau yang cukup terngiang-ngiang dalam benak saya hingga sekarang ialah, bahwa penyakit keturunan itu tidak selalu benar, tapi keturunan disebabkan oleh pola hidup (buruk) yang menurun pada keturunannya, hal itu yang mungkin terjadi.

Saya hampir menyela dan menampik dengan berbagai argumen. Namun, penuturan selanjutnya dari beliau membuat mata saya lebih terbuka. Ah, nyatanya memang iya, kita tanpa sadar melakukannya.

Sadar akan penyakit yang dideritanya, hal yang pertama beliau lakukan adalah back to nature. Beliau meyakini, bahwa segala produk alam yang ada diciptakan oleh Tuhan untuk memberikan khasiat-khasiat tertentu bagi hambaNya yang mengetahui.

Back to Nature ala SMART ILC
Back to Nature ala SMART ILC

Hidup sehat ala dapur Asrama SMART ILC Pare

Bisa jadi, ini sebenarnya hal yang sudah kita ketahui, tapi tidak banyak dipraktekkan. Namun, dari dapur memang kehidupan kita bergantung. Kita butuh energi dari makan, makanan dibuat di dapur. Kita penentu isi dapur.

Sebagai pembuat keputusan dapur yang semua anggota memiliki basic pas-pasan tentang perdapuran, mau nggak mau ya kudu masak, dan hasilnya ya kudu diterima oleh semuanya. Kemampuan dompet yang tidak kuasa untuk makan ‘enak-enak’ setiap hari membuat kami mau tidak mau harus meramaikan dapur.

Waktu itu saya masih anak baru di asrama. Saya nengok ke dapur lalu saya bertemu dengan minyak kelapa, bukan kelapa sawit yang dengan mudahnya kita temukan di pasaran. Minyak ini kembali mengingatkan saya kepada almarhumah Nenek yang pada masa hidupnya sering membuat minyak kelapa, dan ampas minyaknya dibuat galendro.

Ketika tiba-tiba saya dimintai saran mau makan apa oleh senior, saya jawab dengan songong dan polosnya bahwa saya mau ayam. Mata senior langsung mendelik dan melihat dengan hati-hati ke kanan dan kiri. ‘ssstt, jangan bilang ayam kenceng-kenceng. Di sini hanya boleh makan ayam kampung, bukan ayam broiler, lho.’

Itulah momen kedua yang saya temui. Bukan hanya menggunakan minyak kelapa, tapi harus memilih ayam kampung. Wah, bisa jebollah dompet saya jika harus memasak dengan ‘bahan yang mahal-mahal tersebut’, fikir saya.

Akhirnya, menu harian dibuat. Tak jauh-jauh dari olahan berbagai sayuran dengan lauk tempe, tahu, telur, ikan, dan jamur yang terus berputar bergiliran.

Kebetulan, di samping asrama para tutor sudah menanam beberapa sayuran dan bumbu dapur. Yang paling menonjol di antara tumbuhan tersebut adalah kelor.

Kelor ini selalu digaung-gaungkan oleh para tutor jika ada yang sakit. Kasih kelor pokoknya. Mau makan makanan yang enak dan penuh cabe, kelor wajib banget dikonsumsi berbarengan ataupun setelahnya. Bahkan, pernah ada lomba makan biji kelor juga lho. Siapa yang merasakan pahit dari biji kelor berarti tubuhnya tidak baik. Nah lho.

Karena kelor pula, kami dikenalkan pada pola detoksifikasi tubuh. Jadi, jika ada anak yang sedikit kurang sehat, perutnya mules-mules terus, atau bau badannya nggak enak, atau bahkan ngantukan, itu hampir dipastikan ada masalah dengan pola makan, pola jajan, pola tidur, dan pola pikirnya.

Lalu, muncullah interogasi. Habis makan apa? Tidur jam berapa? Mikirin apa? Pertanyaan yang mungkin bahkan saat kita sakit di rumah pun nggak ada yang bakal menanyakan hal-hal tersebut secara detail beserta solusinya yang alami.

Jadilah, anak-anak yang candu sekali makan makanan bermicin pun tobat mendadak. Mereka disuguhkan air madu ramuan dari Pomosda. (Sila kalian cek profil pondoknya, bakalan amaze banget bacanya) Ujung-ujungnya, jika memang pola makannya tidak bagus, kebanyakan dari mereka akan muntah-muntah.

Baca juga : Menjadi cantik yang sehat

Katanya itulah proses detoksifikasi yang terjadi. Racun-racun yang berasal dari makanan yang tidak sehat dan segala penyebabnya dikeluarkan bersamaan dengan muntah-muntah yang terjadi.

Esoknya, anak yang sakit tersebut memberanikan diri makan sayur meski tadinya nggak suka. Mengurangi makan di luar, padahal jelas enak-enak dan jadi nggak dapat jadwal masak yang mengganggu. Beberapa dari kami bahkan jadi kecanduan kelor dalam berbagai racikan, baik itu bubuk, biji, minyak, coklat, kue dan olahan kelor lainnya.

Kenapa kursusan ini memilih kelor sebagai obat ampuh? Tentu saja karena kandungan yang dimiliki oleh kelor ini sangat luar biasa. Sila cari sendiri ya khasiatnya di google.

Oh iya, kami pun tidak mengkonsumsi air minum sembarangan. Air minum galon yang murah jelas banyak, namun kami diminta merogoh kocek lebih dalam untuk meminum air yang berasal dari Pomosda juga. Yang konon PH-nya lebih tinggi, dengan tanpa digodok terlebih dahulu, dan mudah lumutan kalo kelamaan. Nah, disitu titik bagusnya ya.

Menilik ke Dapur sehat SMART ILC

Wah, kalau masuk ke dapurnya SMART, isinya bakal lebih bikin kita penasaran. Bahan-bahannya lebih ‘sehat’. Tidak hanya pilihan minyak kelapa, namun untuk beras pun ternyata harus organik. Beberapa bunga yang bahkan saya nggak tahu namanya apa, malah dijadikan racikan minuman.

Dapur asrama belum apa-apa dibandingkan dengan isi dapur di sini. Dapur tempat para tutor berkecimpung selain di kelas-kelas. Selain mengajar, mereka bahkan selalu bersanding dengan buku, obrolan, dapur, dan tanaman.

Mereka mengobrolkan makanan tidak secara dangkal. Namun, meluas hingga pada sejarah, jejak leluhur, dan seringkali ditutup dengan pertanyaan yang susah terjawab. Pertanyaan yang merujuk kepada beberapa akhir ayat dalam Al-Qur’an, Afalaa tatafakkarun, afalaa tatadzakarun, afalaa ta’qiluun?

Baca juga : Kita yang sibuk berbuka

Dedaunan yang kami anggap tak ada gunanya, atau bebungaan yang kami taunya hanya sekadar bunga, dengan tanpa tau manfaatnya, diramu dengan ajaib sebagai olahan oleh mereka.

Dengan penuh penasaran, minuman kambocha, daun telang dan beberapa minuman herbal lainnya yang baunya saja sudah menyengat, menjadi minuman sehari-hari kami. Minuman yang diracik oleh para tutor disela kegiatan-kegiatan mereka.

Karena kesehatan tak hanya sekadar dilihat dari pola makan semata, di sini ada pula yang namanya kelas bahasa. Kelas yang mengungkap hal-hal kecil dari ciptaanNya yang bahkan kami sering abai untuk memperhatikannya.

Semisal, kala itu kami membincang tentang daun di depan rumah. Beliau bercerita tentang sejarahnya, manfaatnya, dan meminta kami yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia untuk menyebutkan macam-macam tanamannya yang biasa ada di halaman rumah.

Ah, bahkan dari lingkungan sekitar saja, saya nggak tahu apa-apa tentang manfaat dari keberadaan mereka. Tidak tahu, dan tidak mencari tahu, tepatnya.

***

Mengenal hidup sehat tak hanya sekadar wejangan dan obat-obatan. Di sini saya semacam menemukan hal baru tentang pola hidup sehat. Bahwa ketika terjadi sesuatu, seharusnya harus muncul berbagai tanyaatas penyebabnya, sebelum memberi solusi yang nggak jelas atau hanya sekadar memberi obat.

ketika tubuh kamu bermasalah, tanyakan kembali pada tubuh dan dirimu. Apa iya kamu merawat tubuh dengan baik? dengan makanan yang sehat dan bersih? dengan memberikan porsi istirahat yang cukup pada tubuh? dengan memenuhi hak-haknya anggota tubuh?

Baca juga :Membangun kebiasaan sehat perempuan

Pertanyaan tersebut diharapkan akan menjadi diri kita lebih mawas. Bahwa jika memang tubuh kita bermasalah karena sesuatu, maka kita harus menghindarinya. Jika tubuh kita akan bermasalah karena sesuatu, maka jangan mencobanya.

Sederhana yang nggak sederhana ya. Apalagi, kalau udah urusan jajan. BOOM!

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

14 Replies to “Mengenal Gaya Hidup Sehat dari Pare”

  1. saya suka kelor, kalo di sayur rasanya kaya bayam. bagus buat ibu ASI, dulu waktu nyusuin saya tiap hari makan ini ampe kadang pengen ongkek, hahahaha. tapi ampuh sebagai asi booster

    1. itu kelor apa daun katuk mbak? hehe, soalnya mirip bentuknya..

      keduanya memang bagus ya busui. kandungan gizinya sangat luar biasa, cuma sayang skrg jadi kurang hits terkalahkan oleh booster menyusui ya

  2. Kadang suka sama daun2an itu. Kadang jg ngga suka huhu. Jadi kayak nunggu mood gitu. Aduh padahal gabole yaah itu kan kebutuhan tubuh kita sendiri 😅😅

  3. Kelor. Ya ampun itu tanaman ada di samping rumah. Mamaku suka masak itu, tapi syedihnya anggota keluarga lain gak begitu suka. Hihi termasuk aku yg susah makan sayur hijau.

    Tapi, pelan2 aku mau ubah pola hidup sehat kok hihi

  4. pare memang terkenalnya kampung inggris ya. Temanku banyak juga yang belajar bahasa di sana. Jadi inget dulu waktu di pondok kadang suka makan daun kelor. Dan aku naru tau ternyata banyak manfaatnya ya untuk kesehatan.

  5. Jujur, kalo di Bali daun kelor, daun turi, berikut bunga-bunganya, itu dikonsumsi. Tapi kalo di Medan, semua itu nggak kepake, huhu.. Dan ternyata manfaatnya banyak ya mbak. Semoga kita bisa ya untuk membiasakan hidup sehat, hehe..

  6. kelor mba, ibu saya bikinin saya itu waktu abis lahirin kilan, hehehe. emang aneh ya, tapi beneran kelor. kata ibu, justru lebih gede manfaatnya buat jadi asi booster dibanding katuk

  7. Bener nih, aku tahunya selama ini juga Pare itu Kampung Inggris, ternyata bisa juga ya belajar bahasa-bahasa lain di sana. Dan bahkan ada tempat belajar yang pendekatannya sudah holistik begini ya, sambil mengajarkan perlunya penerapan pola hidup sehat juga.

  8. Serius saya baru tau mba, saya taunya pare ya cuma kampung inggris. Wah bisa tambah ilmu ttg daun kelor nih. Saya malah kebalikannya mbak, nggak terlalu suka makan buah tapi suka bgt sama sayuran

  9. Td aku pikir kamu bakal bahas sayuran pare yg pahit itu, favoritku bangettt :D. Ternyata pare nama daerah :). Aku prnh kesana, tp hanya sekedar lewat, dan mampir sbntar, waktu itu sedang road trip kliling Jawa Ama suami 🙂

    Aku jadi pengen ngerasain tinggal di sana. Bisa kenal banyak makanan sehat yg diolah sendiri, dan jd pengen tau rasa minumannya itu mba.

    Sayuran Kelor aku suka rasanya. Biasa hanya direbus sih, Krn aku LBH suka gitu. Aku tau sayuran ini banyak khasiarnya. Beberapa temen malah bilang bisa utk mengobati orang yg kena guna2, ntr bener, ato terlalu berlebihan? Aku cm tau itu sayuran bagus utk tubuh.

    1. hahaha, mbak fani kecele yaa..

      Kebetulan kemarin dapat kursusan yang ngajarin hal kayak gitu mbak. kalo yg lain sih belum tentu.Btw, sekarang udah bnyk sih aku liat produk2 hasil olahan dari telang, kelor dan kambocha. lagi booming juga. coba aja mbak fani cari di lapak e commerce.

      Enak lho, pahit kecut tapi nagih. hihi
      btw, kalo yg guna2 aku nggak tahu jg. Tapi pas kmrn di sana ada temen yg kek kesurupan gt, diminta ambilin kelor jga sih sama garam. ga tahu juga sih gimana gimananya

  10. jadi bukan cuma belajar bahasa aja ya Mbak tinggal di Kampung Pare itu tapi juga jadi belajar cara hidup sehat dari bahan-bahan alam yaaaa.. 🙂

    pernah lihat itu kambocha, tapi gak berani minum hihihh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!