Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Belajar Berkomunikasi dengan Pasangan, Harus Mulai Dari Mana?

2 min read

Bekal komunikasi dengan pasangan suami istri


Ghinarahmatika.com – Belajar berkomunikasi adalah hal yang terlewatkan saat awal-awal aku menjadi istri. Rasanya pernikahan mengalir saja begitu. Ada sih crash-crash kecil dalam rumah tangga, tapi alhamdulillah kedua belah pihak menghadapinya dengan kepala dingin. Kadang suami yang ngalah, kadang istri yang coba pendam sendiri, tapi jarang ngalah sih wkwk. Maka saat saya kemarin ikut acara dengan tema demikian, saya seperti merasa jauh tertinggal dan banyak bersalah.

Namun belajar memang kadang ada yang prosesnya sambil jalan learning by doing ada juga yang perlu perbekalan lebih dahulu. Seperti pernikahan kami mungkin karena suami lebih tua jadi dia lebih mengayomi dan memberi contoh komunikasi itu sendiri, jadi saya yang lebih muda lebih polos untuk manut-manut aja, wkwk. Tapi memang tidak kita pungkiri pula bahwa untuk urusan menikah dan memiliki anak banyak dari kita yang justru baru belajar saat langsung menghadapinya. Penuh dengan uji coba, meraba-raba, dan acapkali berakhir dengan luka, air mata, dan tentu juga bahagia.

Sebelum nasi berubah menjadi bubur yang sampai benar-benar melebur, lewat washilah salah satu teman yang berbagi tentang pembelajaran menjadi istri, saya mencatat beberapa hal penting agar memiliki bekal lebih siap saat menjadi istri.

Komunikasi Pasangan adalah Kunci, Tapi Komunikasi Yang Seperti Apa?

Banyak orang bilang bahwa dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah kunci. Iya, tentu kunci. Ya masa kan dua sejoli hidup bersama nggak ada ngobrol sama sekali. Atau kalaupun ngobrol, tentu nggak seru juga kalau nggak nyambung, hanya itu melulu yang dibahas, atau respon pasangan maupun respon kita sendiri malah justru bikin malas untuk ngobrol.

Maka dari itu kita tentu perlu tahu, jenis komunikasi yang seperti apa yang bisa membuat dua sejoli bisa menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, bukan?

1. Komunikasi efektif

Sederhananya komunikasi efektif adalah komunikasi yang memiliki efek langsung yang mudah diterima dan dipahami secara utuh oleh penerima pesan.

Rasanya komunikasi ini memang sering menjadi kendala, apalagi saat kondisi diri sedang berkecamuk emosi. Jadilah ngomongnya muter-muter kemana-mana, sehingga malah hal yang dimaksud tidak tercapai.

Maka dari itu untuk mencapai komunikasi yang efektif perlu memperhatikan tiga kaidah, antara lain:
⁃ Bagi penyampai pesan: tentukan waktu yang tepat, ngomong yang jelas, berbentuk klarifikasi, ada eye contact, dan sentuhan kalau bisa.
⁃ Pesan yang disampaikan: harus jelas dan fokus pada tujuan yang diinginkan, tidak berbelit-belit.
⁃ Bagi penerima pesan: perlu memperhatikan informasi yang disampaikan secara personal, fokus dan global.

2. Komunikasi Asertif

Komunikasi asertif adalah penyampaian pesan yang disampaikan diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan penyampai pesan dengan tetap menghargai kondisi/kebutuhan penerima pesan.

Jadi dalam komunikasi ini ada beberapa frame yang perlu diperhatikan, yaitu dari frame kehidupan kedua belah pihak, maksud dari komunikasi yang diinginkan, dan pengalaman dari masing-masing pihak.

Dengan demikian pesan yang disampaikan harus seimbang serta disampaikan secara santun. Setelah itu kedua belah perlu menerima hasilnya secara terbuka.

Mungkin ini jenis komunikasi baru, dan jarang dipakai oleh kebanyakan orang Indonesia. Apalagi ada kebiasaan jelek seperti sungkan, nggak enakan dan atau pekewuh yang bikin kita nggak berani untuk berbicara secara terbuka.

Contoh komunikasi asertif dalam rumah tangga nih seperti:
Mamah tahu ayah suka main games, tapi bisa nggak kalau mainnya di pagi hari setelah anak-anak berangkat sekolah aja. Nggak di sore atau pun malam hari, please!

Kebaca kan, kalau sungkan kita pasti nggak bakal berani untuk bilang tentang hal yang sebenarnya kurang nyaman untuk kita, menyampaikan hal yang tidak kita sukai, dan sebagainya. Atau bahayanya malah kalau kita menyampaikan hal tersebut tapi disertai dengan marah-marah, muncul labelling, . Hemm, nggak sampai sih pesannya kalau gini mah ya!

Kalau Komunikasi adalah Kunci, Maka Bermula’abah pada Suami-Istri adalah Bumbunya

Bermula’abah/bercanda adalah hal yang acapkali terlewatkan saat menjalani komunikasi suami-istri. Pesan whatsapp acapkali penuh dengan obrolan tentang anak, tagihan, jadwal tertentu, di rumah pun seringnya ngomongin hal itu lagi. Kita nggak merasa hal itu aneh karena kita menganggapnya hal itu adalah hal penting, makanya terus berulang.

Padahal komunikasi dalam pernikahan memang perlu beragam emosi, tidak melulu bahagia pun tentu tidak melulu terluka. Kadang menggebu berbunga-bunga, kadang juga hampa tapi terus mencari makna dan belajar mengevaluasi bagaimana komunikasi bisa tercipta dengan baik.

Komunikasi efektif dan asertif memang menjadi bekal utama untuk menyampaikan berbagai maksud untuk terciptanya suasana yanga hangat dan berbagai urusan agar berjalan dengan lancar. Dalam hubungan suami-istri, komunikasi tentu tidak untuk hal yang serius-serius saja. Kita perlu memelihara rasa cinta dan saling memiliki justru lewat hal-hal ringan, canda tawa mesra, dan obrolan seputar suami-istri saja tanpa perlu melibatkan anak-anak, tagihan, jadwal dan lainnya.

Psst, coba cek pesan terakhir dengan pasangan isinya ngomongin anak dan tagihan bukan tuh?!

Sesekali bahkan sering-seringlah harusnya kita ngomongin tentang diri kita, rasa cinta, dan hal yang lucum menggemaskan, membahagiakan serta membuat kita terus jadi jatuh cinta berkali-kali. Mungkin bisa dengan bercanda membicarakan suatu hal, saling membagikan postingan terkait, melaksanakan aktivitas yang membuat koneksi suami istri terrefresh lagi dan lain sebagainya.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...

error: Content is protected !!