Merawat mimpi seorang mama/ibu bukanlah hal yang mudah. Kadang bukan tentang materi. Tapi justru lebih dalam, tentang nilai yang dipegang, ajaran yang dilestarikan, dan pesan yang tersampaikan untuk kesejahteraan bersama. Hal itu pula yang ingin terus dirawat oleh masyarakat adat di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua.
Pohon Mangrove adalah sesuatu yang bernilai tinggi bagi masyarakat kampung adat Friwen. Mereka menjaganya dengan memegang nilai yang selama puluhan tahun diterapkan oleh leluhur mereka. Keistimewaan kondisi mangrove di Raja Ampat ini memiliki fenomena blue water mangrove. Hal ini karena mangrove tumbuh di atas air laut jernih berpasir putih yang berdampingan dengan terumbu karang.
Sayangnya, kondisi mangrove kini kian pudar. Seiring perkembangan zaman, eksplorasi berubah menjadi eksploitasi yang merugikan mereka. Padahal nilai yang kuat membutuhkan sistem yang bekerja agar nilai tersebut terrealisasi. Bukan hanya sekadar pengakuan semata, karena kelestarian bukannya harus hadir dari kebijakan yang mendukung, kan?
Impian Mama-Mama Friwen pada Pohon Mangrove
Di Raja Ampat mangrove merupakan wilayah kekuasaan perempuan. Maka tumbuh kembangnya bagaikan anak yang diasuh oleh para Mama (panggilan untuk para ibu). Bahkan mereka meyakini, karena ada perempuan lah maka hutan bisa hidup. Jika mau jaga hutan maka perlu memperkuat perempuan terlebih dahulu.
Keberadaan hutan mangrove tak sekadar menjadi rumah bagi ekosistem ikan, maupun benteng dari abrasi dan erosi dari pesisir pantai. Bagi masyarakat kampung Friwen, mangrove memiliki peran dalam keberlangsungan hidup mereka. Aturan adat yang menetapkan perempuan menguasai hutan bahkan menjadikan mangrove sebagai tempat mereka hidup dan belajar untuk lebih berdaya. Karena selama suami berada di laut, segala kebutuhan rumah tangga justru berada di pundak para mama.
Namun kini fakta berkata bahwa hutan mangrove semakin tedegradasi. Eksploitasi menjadikan ekosistem mangrove rusak hingga 60 hektar. Sekitar tahun 2000 – 2010 mangrove banyak pohon ditebang dan kayu-kayunya dijadikan rumah untuk menjadi rumah turis. Kondisi ini diperparah juga dengan kondisi masyarakat yang semakin sedikit yang peduli pada pengelolaan hutan, mirisnya hasil hutan seperti tepung dari buah mangrove (aibon) pun semakin pudar ditelan zaman dan produk impor yang semakin liar. Sementara regenerasi pun terhambat oleh digitalisasi dan modernisme yang terus menggerus masyarakat adat.

Keberadaan Loesye Ermy Fainno atau biasa disapa Lusy bersama Kawanan Pesisir pada 2018 menjadi angin segar untuk mewujudkan kembali impian Mama-Mama Kampung Friwen. Lewat restorasi hutan, penguatan kebijakan yang memberikan perlindungan pada hutan mangrove, serta pemberdayaan pada perempuan kamung Friwen telah memberikan secercah cahaya untuk keberlanjutan hidup hutan mangrove.
Berbagai kegiatan berupa pemetaan partisipatif, idenitifikasi mangrove, serta pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai bahan pangan lokal semakin terlihat keberhasilannya untuk menunjukkan bahwa hasil hutan tetap bisa menyesuaikan zaman tanpa menghilangkan fungsi dan keberadaannya sama sekali.
Pengelolaan Kawasan Hutan Desa Kampung Friwen bersama dengan kemitraan Kawan Pesisir dan The Asia Foundation memberikan investasi pada keberlangsungan ketahanan pangan lokal masyarakat, tantangan global, dan perubahan iklim. Tentunya hal ini berdampak besar pada kehidupan mangrove ke depannya.
Keunggulan Peran Ganda dari Ekosistem Mangrove di Tangan Mama-Mama Kampung Friwen
Lewat obrolan bersama Kak Wawiyai Steve dari Kawan Pesisir dan Kak Danial Kbarek dari The Asia Foundation, saya bersama kawan-kawan Eco Blogger Squad mendapati bahwa kini melalui kelompok perempxxsxaxubad,4tkn, pemanfaatan mangrove sudah semakin membaik. Lewat restorasi hutan mangxxrove, pada 2022 Kelompok Tani Mangrove (KTM) mengajukan usulan Hutan Desa kepada KLHK. Lewat KTM ini akhirnya mereka punya pegangan untuk mengelola hutan untuk Ruang lindung, Ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan dan konservasi.
Keanekaragamam hayati mangrove memberikan keunggulang mangrove sebagai habitat esensial (yang menjadikan akar sebagai tempat berlindung), kekayaan spesies (varietas pesisir yang mendukung rantai makanan lokal berkelanjutan) dan sebagai laboratorium alam (rumah bagi biota endemik yang langka).
Pesisir laut yang merupakan wilayah kekuasaan laki-laki menjadi area stok ikan dan non ikan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga kampung Friwen. Sementara itu hutan mangrove dan berbagai olahannya berada di tangan perempuan. Di tangan mereka hasil hutan berubah wujud menjadi tempt belajar tentang kehidupan.
Lewat pemberdayaan perempuan, pangan lokal berubah menjadi penyokong sumber karbohidrat lokal, peningkatan ekonomi lewat UMKM lokal, serta tentunya pelestarian hutan mangrove itu sendiri. Buahnya bisa menjadi tepung, mie, hingga cemilan, sementara bunganya bisa juga menghasilkan madu.

Dari Mangrove ke Sukun, Sama-sama Mengemban Tugas Menjaga Kelestarian Alam dan Sumber Pangan
Pohon sukun (artocarpus artilis) menjadi salah satu pohon kesayangan saya selain pohon mangga dan sawo. Pohon yang ditunggu saat panen datang, karena kenikmatan rasanya membuat kenangan pada masakan ibu saya menguar.
Saya ingat sekali karena pohonnya terletak di samping musola dan dekat jalan raya, jalanan dekat situ selalu nyaman untuk berteduh. Bahkan saat saya bermain petak umpet dengan teman-teman, dedaunan pohon sukun yang cukup besar bisa untuk menjadi penutup muka agar tidak ketahuan oleh teman yang lagi mencari saya. Ghina kecil saat itu juga gemar sekali manjat, tapi sayangnya saya dulu nggak bisa naik untuk ambil pohon sukunnya, seperti yang biasa kakak saya lakukan.
Olahan sukun biasa Mimih sajikan dengan cara sederhana, cukup dibumbui garam, bawang putih dan ketumbar lalu sukun pun direndam sebentar lalu digoreng. Olahan sederhana tapi citarasanya luar biasa banget. Huhu
Menariknya setelah saya baca beberapa literatur, pohon sukun ini memiliki fungsi yang tak kalah bagusnya dengan mangrove. Pohon sukun sangat membantu dalam penyerapan karbondioksida dari atmosfer. Sementara buah sukun sendiri bisa menjadi diversifikasi pangan sebagai pengganti nasi juga, selain sebagai karbohidrat juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang bagus untuk tubuh. Kayu-kayunya pun ternyata bisa digunakan untuk perabot rumah tangga maupun industri kerajinan. Dan daunnya bahkan bisa menjadi kanopi alami karena ukurannya yang lebar.
Hal yang paling menakjubkannya, pohon sukun ini bisa tahan berpuluh-puluh tahun lama, tapi panen selalu rutin dan banyak. Saat cuaca kering atau kemarau panjang uniknya ia tetap tumbuh dan bahkan bisa panen banyak, padahal saat itu tanaman biasanya ikut mengering karena butuh air.
Bangkok Climate Action Week 2026: Tawaran Solusi Ketahanan Pangan Lokal dengan Peran Ganda
Menyongsong kegiatan Bangkok Climate Action Week 2026 oktober ini, mari kita melihat lebih berbagai macam tawaran dari sumber ketahanan pangan lokal yang ada di daerah-daerah. Seperti mangrove maupun sukun yang menjadi solusi dengan peran ganda, memberikan perlindungan terhadap alam serta menjadi sumber ketahanan pangan dan sumber ekonomi masyarakat lokal.
Eco Blogger Squad berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF) menawarkan solusi perubahan iklim lewat ruang-ruang diskusi bersama masyarakat dan para pemangku kebijakan serta menyebarkan informasi lewat postingan di berbagai media sosial maupun blogger. Dengan begitu diharapkan ruang-ruang publik dan komunitas semakin banyak yang berkesadaran pada hutan. Karena jaga hutan berarti jaga sumber pangan.
