Mengabdi

Riang gembira pasca wisuda telah usai, kini aku memasuki dunia” nyata” untuk membaktikan diri dengan ilmu yang telah kudapatkan selama strata satu 4 tahun kemaren. Ya, sebagai mahasiswa yang di biayai oleh Kementerian Agama, mewajibkan untuk mengabdikan diri kembali ke Pondok Pesantren tempat bersekolah MA dulu. Setidaknya ini sebagai balas budi atas segala biaya yang dikeluarkan oleh Kemenag melalui program PBSB.

Seusai wisuda, abah dan mimih langsung membawaku pulang ke rumah. Kembali pada kamar hijau di pojok rumah yang akan menjadi teman “pingit” selama di rumah. Tapi, keesokan harinya, aku mencoba untuk mengunjungi sekolahanku. Ceritanya sebagai survey untuk melihat kondisi sekolah setelah ditinggal selama 4 tahun. Langsung diberikan tugas untuk mengajar  Al-Qur’an kelas X, dan kelas XI, Dan, menjadi guru itu bukanlah tugas yang mudah, Men!

Untuk cara mengajar, sengaja aku memasang tampang agak “seram”. Sampai-sampai ketika masuk ke kelas dan mengawali kegiatan belajar mengajar, kelas langsung hening dan anak-anak terlihat sangat tegang. Cara pertama ini sebenarnya digunakan karena memang menghadapi anak setingkat sekolah tingkat atas itu sudah bertingkah liar dan nakal. Ya, saya bisa mengatakan demikian, karena empat tahun lalu pun saya pernah merasakannya. Sering keluar ketika jam pelajaran kosong, atau ketika sedang pergantian guru. atau bahkan kebablasan jajan ketika jam istirahat sudah habis.

Cerita zaman sekolah aliyah dulu memang sangat menyedihkan. Jadwal sekolah siang karena guru-guru yang mengajarlkami, paginya mengajar terlebih dahulu di sekolah SMP atau SMA di kecamatan, sedangkan perjalanan ke kecamatan menuju Cikeusal cukup melelahkan, apalagi denga jalanan yang masih terjal dan belum aspal. Akhirnya, dengan terpaksa (atau bahkan senang sih) kita masuk sekolah pukul 14.00. dengan jadwal pelajaran seharinya 3 mata pelajaran tentu waktunya tidak cukup, dan seringnya pun guru hanya memberikan tugas kepada kita. Jelas saja ketika seperti teman-teman yang laki-laki berkeliaran main bola atau di warung untuk sekedar numpang nonton tivi, sedangkan para siswa perempuan biasanya tetap di kelas sambil cerita kemana-mana. Yah, sangat jarang sekali yang mengisi waktu kosong di kelas dengan belajar. hoho.

Tapi sekarang? Alhamdulillah sudah mengalami perkembangan yang cukup besar. Sekarang sekolahnya kelas pagi semua.mulai pelajaran pukul 07.00 dan selesai pukul 14.00. Guru-guru yang diangkat pun sekarang sudah sesuai dengan mata pelajarannya masing-masing, dan jumlah murid pun meskipun tesaingi oleh SMK di desa tetangga syukurnya masih cukup banyak yang masuk ke sekolah MA ini.

Menjadi guru di sekolah seperti yang diceritakan oleh teman-teman yang ikut acara Indonesia Mengajar itu sepertinya jauh lebih enak dibandingkan dengan sekolah disini. Mereka mendapatkan gaji yang sangat jelas dan dana yang cukup banyak. Sementara itu, Mengabdi menjadi seorang guru di sekolah disini hanya digaji Rp. 17.000,00 satu jam pertemuan, bahkan gaji transport pun tidak jelas. Bisa dibayangkan biaya segitu digunakan untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari. padahal kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga semakin naik. Bisa dibayangkan, perjuangan yang sangat besar dengan proses yang cukup berat harus dilalui. Kelak, ini akan menjadi sebuah cerita manis, bahwa berjuang mendirikan sebuah sekolahan, sekolah di sekolah yang baru didirikan, jumlah siswa yang sedikit, dan fasilitas yang sangat minim ini akan menjadi sejarah yang tidak terlupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *