Asyiknya Media Audio ceriakan hariku!

Hallo listener, kembali lagi bersama saya dalam acara…..

Kurang lebih itu adalah kalimat pembuka dalam sebuah acara. Hampir kebanyakan acara mengawalinya dengan kata-kata demikian. Tapi, jika sudah menggunakan kata ‘listener’ tentu saja tidak jauh dari hal yang sering kita dengarkan, apalagi kalau bukan Radio dan sejenisnya.

Radio bukan hal asing bagi saya, sejak kecil saya sudah jatuh cinta dengan radio. Ada banyak kenangan manis yang telah saya lewat bersama radio ini.

Ingat dulu saat masa-masa MTs sempat ada radio di kampung. Penyiarnya mendapatkan gaji dari atensi yang kita beli. Selembar atensi seharga 500 rupiah saat itu. Eh apa itu atensi? Semacam sarana untuk mengirim pesan, titip salam serta rikues lagu. Saat ini jelas sudah bisa digantikan dengan WhatsApp dan sejenisnya ya.

Bagi saya sendiri radio memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh televisi. Perbandingannya dengan televisi dulu ya. Soalnya jaman dulu belum begitu ngetren dengan youtube. Pun ada, kuotanya boros kali.

Saya menyukai radio karena digit tersebut tidak membuat fokus saya beralih ketika melakukan sesuatu. Hal ini penting bagi saya, karena saya hobi mendengarkan berbagai musik, meski pada akhirnya musik hanya sambil lalu saja. Tidak ada musik yang kemudian benar-benar saya hafal liriknya. Akan tetapi, hal yang saya kerjakan dapat terselesaikan.

Iya, radio menjadi teman saya selama belajar. Seringkali saya yang memang lebih suka belajar di pagi buta, agar suasana tidak terlalu sepi, saya setel radio. Akhirnya suara radio pun menjadi kode buat Ibu saya, hingga beliau tidak perlu repot-repot lagi untuk membangunkan saya.

Istimewanya lagi, karena radio terasa lebih personal. Entah sih mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi, semenjak saya menempatkan beberapa channel favorit saya. Saya sebarkan ke teman-teman saya. Di tempat yang berbeda kita mendengarkan channel yang sama. Kita merasa akrab dengan penyiarnya, kita juga merasa akrab dengan teman sehobi kita.

Jadi yang membuat terasa personal itu ya saat mendengarkan suara Penyiarnya. Entah gitu ya, mendengarkan obrolan penyiar yang responsif aja langsung ngefans. Apalagi jika sedang membacakan pesan-pesan yang masuk. Lebih kerasa special lagi kalau ada yang menitipkan salam buat kita. Ya Allah menulis ini serasa nostalgia lagi ya.

Demi radio ini pula, tape recorder punya Abah saya, saya bawa ke Jogja. Tentu untuk menemani pagi saya. Sembari bergegas menyiapkan keperluan kuliah, sembari sarapan, ditemani radio.

Media sambil lalu, media pengingat

Seperti saya sebutkan di atas, hal yang saya sukai dari radio adalah saya bisa mendengarkannya sambil lalu. Sambil belajar, sambil memasak, sambil bebersih,  sambil menikmati macet jalanan, sambil mandi pernah juga sih.

Saya suka mendengarkan media sambil lalu, karena hal tersebut tidak mengganggu fokus utama saya. Tapi, tidak pula membuat saya mudah lupa atas apa yang saya dengarkan, kadang-kadang sih gitu.

Saya juga bingung, kenapa justru ada hal yang saya dengarkan sambil lalu, tapi hal tersebut lebih terngiang-ngiang di benak saya.

Semisal nih, hobi saya dari mendengarkan radio itu salah satunya karena ada channel yang menyambungkan ke VoA di Washington DC. Jaman dulu kan agak susah mendapatkan akses untuk streaming ya, jadi ada channel tersebut istimewa sekali buat saya. Meski cuma 5 menit, sangat saya tunggu-tunggu.

Belajar sambil lalu, ternyata juga membuat ingatan cukup kuat juga, kadang-kadang. Kenapa kadang-kadang? Ya, karena tidak melulu semuanya menjadi ingat, tapi tidak melulu juga mudah lupa.

Ternyata setelah saya baca beberapa referensi, belajar sambil lalu itu membuat otak tidak begitu terbebani, dan kita juga menyukainya, makanya mudah ingat. Tentu hal ini bisa menjadi cara bagus saat fikiran kita sedang butek tapi ujian sudah di depan mata yaaa. telat saya baru mengetahuinya. Huhu

Jelas hal ini bisa diterapkan dalam mempelajari apapun ya. Mau mendengarkan berita radio sambil menyapu. Mendengarkan pengajian sambil nyuci, Mendengarkan murottal sambil masak, bisa juga. Eh tapi kalau mendengarkan murottal harus benar-benar fokus didengarkan ya, ini adabnya ya.

Media Audio terbaru kaya ilmu : Podcast

credit picture : pexels

Semakin kesini, perkembangan media voice pun semakin canggih, dan lagi kita di buat terkesima. Saya mungkin cukup telat sih, tapi tidak mengapa daripada tidak sama sekali kan. Psstt, beberapa sumber bilang jika Radio sudah semakin tergantikan oleh hal sejenisnya yang baru, Podcast.

Media yang satu ini membuat saya benar-benar kagum. Meski disatu sisi saya tidak memungkiri memang media semakin berkembang, tapi tentu saja masing-masing media memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Sebagai seorang Blogger, saya sendiri merasa harus bisa desain konten. Eh, semakin kesini kok orang-orang yang tadinya Blogger semakin mengepakkan sayapnya menjadi vlogger, bahkan podcaster. Tapi saya mah masih sebagai blogger pengheboh saja. 😆

Eh balik lagi ke podcast ya. Di podcast ini, kamu bisa mendengarkan suara orang seperti di radio. Orang ngoceh sendiri atau berbanyak sepanjang acara.

Tapi bedanya, isi Podcast lebih bertema seperti di blog, kadang temanya bersambung gitu. Hingar bingar iklan yang menggelegar pun tidak akan kamu dapati di sana. Kalau pun ada iklan tidak akan semenggelegar kayak radio deh. Dan yang paling menonjol ya tidak ada telpon atau pesan buat rikues lagu serta titip titip salam begitu.

Yang membuat saya jatuh cinta dengan podcast, saya bisa mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan baru dari sana. Ada banyak topik atau tema yang ditawarkan. Ilmu berharga apalagi gratis, jelas tidak boleh disia-siakan donk.

Berhubung kebanyakan Pengguna Podcast itu dari Amerika, jadi sekalian juga ya kita akan ditawarkan pada channel yang kebanyakan speaking in English ya. Hitung-hitung melatih listening kita kan. Iya nggak?

9 thoughts on “Asyiknya Media Audio ceriakan hariku!

  1. Saya juga penggemar berat radio mba, dulu 5 menit sebelum chanelnya mulai aku udah persiapin SMS salam salam biar nanti bisa dibacain sama penyiarnya haha norak ya. Sekarang paling kalo mau dengerin radio aku streaming, dan aku juga baru tau kalo ada podcash kayaknya aku perlu mencoba juga nih

  2. Hi, mbak Ghina .. saya juga suka lho mendengarkan lewat radio. Saya sejak SMA dulu suka belajar listening lewat siaran radio VOA, BBC atau yang bahasa Jerman DeutcheWelle. Alhamdulillah sampai sekarang setiap ada penilaian listening, Alhamdulillah nilai saya diatas teman-teman guru lainnya. Itu berarti kegiatan mendengarkan lewat radio itu sangat melekat untuk menguatkan kemampuan listening.

  3. Waaaah keren. Seneng ya mbak, jd tajem pendengaranny karna sering ya. Karena kita kan emg kudu bnyk mendengar drpd melihat. Hehe

  4. waaah toslah yang suka salam-salaman di radio. ayo mbak main podcast, di indo udah mulai booming jg kok yng main podcast. aku liat beberapa blogger jg ada yang jadi podcaster juga.

  5. Haha, ada yg samaan juga jaman atensi2an nih.. Wah keren donk, stasiun podcastnya apa mas? Nanti tak dengerin deh..

  6. Sumpah aku sering banget dulu ngirim atensi ke radio2 jaman masih sekolah kak hahhaha. Dan kmrn di kontak jg sama salah satu poadcaster untuk menjadi narasumber, ah senangnyaaaa 🙂

  7. Iya sama, saya juga suka denger radio mbak. Karena sekarang zamannya sosmed, jadi kirim2 rikues lagunya via Twitter. Seneng aja pas penyiarnya bacain. Eh pernah juga on air di radio karena ikutan semacam kuis yg kita harus mengemukakan pendapat, trus menang. Masih inget waktu itu dapat uang 300rb, dan disuruh ambil sendiri ke stasiun radionya. Bela2in naik ojek demi hadiah haahaha…..

  8. Wah bisa ya kirim Salam dan rikues lagu lewat twitter? Saya malah baru tau mbak. Udha ga ngikutin heboh2an radio lg. Cma denger aja. Hehe

  9. Wah bisa ya kirim Salam dan rikues lagu lewat twitter? Saya malah baru tau mbak. Udah ga ngikutin heboh2an radio lg. Cma denger aja. Hehe. Haha keren donk demi 300 rebu mayan bisa buat 2 minggu belanja ya mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!