Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Update info COVID-19 lewat Radio, Yuk!

2 min read

tmp cam 1777353151339676425

Edisi Majalah Bobo bulan Februari kemarin memperkenalkan kepada anak-anak tentang Coronavirus. Nahla, anak saya, sempat abai mendengarkan saya ketika menjelaskan hal tersebut. Entah, belum terdengar menakutkan atau dia belum paham. Tapi, semenjak mendengarkan Radio Republik Indonesia (RRI) yang dinyalakan setiap pagi, akhirnya dia bertanya: Mah, Coronavirus itu apa, sih?


Mengenalkan virus yang satu ini merupakan hal penting yang perlu dijelaskan kepada anak. Bagaimana tidak, ada banyak hal yang disukai anak, menjadi tidak boleh dilakukan di saat Pandemi ini. Main nggak boleh, ngaji ke Mushola nggak boleh, jalan-jalan nggak boleh, dan banyak nggak boleh lainnya.

Tentu saja, memberitahu dengan menakut-nakuti tidak sebaiknya dilakukan. Kita perlu memberitahu segala info tentang virus ini secara ilmiah. Di usia 3 tahun ini menjadi masa- masa awal kritis dimulai. Jadi, tentu saya nggak bisa nih ngasal untuk memberitahu atau melarang hanya dengan menakuti-nakuti semata.

Majalah Bobo Edisi Coronavirus

Awalnya saya mencoba untuk mengenalkan berkali-kali lewat Majalah Bobo tersebut. Panduan mengenai do and don’t dalam Majalah ini sudah lumayan lengkap. Tentu, perkembangan yang muncul terkait dengan virus senantiasa di-update. Saya pun nggak ingin ketinggalan. Jadilah, awalnya saya hampir setiap hari mengupdate info ini lewat linimasa media sosial.

Nyamannya update info lewat Radio

Saking merasa pentingnya, saya mengupdate segala info tentang covid-19. Linimasa media sosial menjadi acuan saya. Ternyata, nggak sekadar media berita saja yang menginfokan tentang perkembangan covid-19 ini. Ada beberapa teman yang menginfokan lewat status media sosialnya juga. Jadilah, hari-hariku penuh dengan pemberitaan tentang covid-19 yang membuatku jenuh. Stres bahkan.

Ternyata dampak apdet berita ini bahaya sekali untuk keseahatan mental. Padahal, orang yang mentalnya sehat ini tidak rentan sakit lho. Orang yang terkena virus saja harus dihibur sama perawatnya. Nggak cuma perawatan medis lho, tapi merawt mental juga penting agar lekas sembuh. Baiklah, STOP SCROLLING SOCIAL MEDIA.!

Tetiba, suami ngasih ide untuk buka radio. Wah, ini kan salah satu hobiku yang kini ditinggalkan. Padahal enak banget dengerin segala hal lewat radio tuh. Apalagi jika bemu channel yang cocok.
Tinggal di kalsel ini, lumayan susah juga nemu radio yang memutar lagu kekinian. Ya hanya RRI yang paling cekas diputar. Well, I DO STOP TO LISTEN RADIO.

Eh, rasanya kok nyaman gitu ya. Beban mental serasa hilang tiba-tiba.

Berhubung radionya milik pemerintah, jadi ya mau nggak mau kita akan selalu dengerin iklan layanan masyarakat yang agak ngebosenin. Tapi, enaknya, karena radio pemerintah jadilah kita dengerin update berita terbaru setiap hari.

Mendengarkan radio menjadi cara nyaman untuk mengupdate info, diantaranya karena hal-hal berikut :

  • Waktu yang dibutuhkan tidak se-intens dan selama bermain sosial media; Tentu ini karena dibatasi oleh radio, bukan oleh kita. Jika berita selesai, ya sudah. Buka sosmed, baca info di satu akun, kurang puas buka lagi di akun lain. Begitu terus.
  • Diselingi lagu; Beberapa radio ada yang menginfokan berita, lalu memutar lagu. Ternyata hal ini yang bikin kita nggak tambah beban juga. Setelah berat otak menangkap berita yang berat-berat, lalu diselingi oleh lagu masa lalu, jadilah kita di dapur nostaliga barengan deh.
  • Nostalgia masa lalu; Karena usia saya dan suami yang lumaya jauh, jadilah kami seringkali tebak-tebakan lagu dan penyanyinya. Jika kita kenal lagu dan liriknya, sering pula jadi ajang karokean bareng, haha
  • Lebih mengupdate info untuk daerah terdekat rumah; Ini juga menjadi kelebihan radio. Radio lokal akan fokus memberitakan info terbaru di daerahnya. Ini jadi penting, karena kan kita yang tinggal disekitaran harus tahu keadaan sebenarnya, orang kita akan melewati jalan-jalan sekitar sini juga kan?

Jadi, dari Radio, kita jadi tahu…

Bahwa iklan layanan yang diputar berulang-ulang itu sangat mempengaruhi hingga alam bawah sadar kami, termasuk juga Nahla. Nahla menjadi faham, bahwa di luar sana ada virus yang berbentuk seperti Mahkota. Makanya disebut sebagai corona, yang berasal dari bahasa latin corona dan bahasa Yunani korone. Tapi, sayangnya mahkota ini jahat. Dia bisa membuat kita sakit, bahkan bisa mematikan.

Nah, tanda-tanda virus beberapa diantaranya yaitu : mengalami demam tinggi, batu pilek, dan gangguan pernasan, bahkan ada yang tidak bergejala sekalipun. Jadilah, ketika bersih, dia langsung menutup mulutnya dengan sikut, lalu langsung cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun, dan gunakan masker jika akan keluar rumah.

Nahla akhirnya menjadi pengingat kami sendiri. Saat ayahnya akan keluar rumah, dia langsung menyuruhnya untuk menggunakan masker. Saat masuk rumah, langsung lari ke kamar tapi sambil teriak “Ayah, langsung cuci ya, terus mandi”.

Dengan pemahaman ini, menjadikan dia maklum bahwa bermain di luar itu sedang tidak baik untuk sekarang. Meski awalnya sempat merengek ingin bermain, akhirnya perlahan dia tahu akibatnya. Sayang nih belum terbiasa pake masker. Ajakan untuk sering mengajak dia berdoa bersama pun menjadi hal yang sering dilakukan. Doa anak kecil insyaAllah diijabah.

Semoga kita sehat selalu, dan lekaslah tiada, Corona.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!