Cerita Anak

Let’s Read : Menumbuhkan Minat Baca Anak di Era Digital

Memperkenalkan buku pada anak adalah hal yang sangat baik. Ada banyak riset yang menunjukkan bahwa perkembangan anak yang suka membaca lebih baik dalam kemampuan linguistiknya. Selain itu, membaca juga menjadi kegiatan yang menarik, alih-alih untuk menghindarinya dari menatap gawai yang terlalu lama. Lalu, bagaimana cara menarik minat baca anak?

Jika ingin bercerita tentang pengenalan buku pada anak, membuat saya ingin flashback, nih. Dulu, sewaktu anak saya, Nahla, masih berumur sekitar 5 bulan, bertemulah kita dengan temannya suami dari Amerika. Saat berpamitan, dia memberikan dua buah buku karangan Eric Carle. Tentu saja saya nggak tahu siapa itu Eric Carle, saya pun tidak begitu kekinian, termasuk untuk urusan buku anak.

Ternyata Eric Carle adalah seorang ilustrator Amerika dengan bukunya yang terkenal ‘The Very Hungry Caterpillar’. Kebetulan buku itu yang diberikan teman suami untuk Nahla.

Saya bacakan buku tersebut berulang-ulang. Hingga Nahla berusia 2 tahun, dan akhirnya buku tersebut sudah hampir sobek saking seringnya dibaca dan dibanting-banting.

pengenalan Nahla dengan buku Eric Carle menjadi bekal, buat saya maupun Nahla. Membaca memang bisa dimulai kapan saja, tapi membaca bisa menjadi ketertarikan sendiri jika ada figur yang memberinya teladan.

Alhasil, saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah saya suka membaca? Berapa buku yang sudah saya baca? Apakah saya bisa bercerita dengan baik ? Apakah saya sudah menjadi figur teladan agar anak suka baca?

Dari pertanyaan tersebut, saya menjadi malu sendiri. Ternyata saya bukan orang yang cukup gila dalam urusasn membaca. Paling cepat baca buku ya tentu saja buku-buku non-fiksi. Tapi, jika ditanya siapa penulisnya? penerbitnya? Nah, itu saya juga nggak ngerti.

Faktanya, ambisi orangtua pada anaknya, tidak sebanding dengan tuntutan orangtua pada dirinya sendiri. Anak ingin hobi membaca, orangtuanya hobinya main gawai, anak diminta pinter ngaji, orangtua pegang Qur’an juga jarang. Jadi, siapa sebenarnya yang harus berubah terlebih dahulu?

Hahaha, semua harus diniati berbarengan ya. Nggak apa-apa terlambat, daripada tidak sama sekali. Yuk, Bimsillah!

Cara Menarik Minat Baca Anak

Menjadi Figur yang Baik

Tentu, sebelum meminta anak suka membaca, kita orangtua terlebih dahulu memberikan contoh. Diharapkan, dengan kegiatan kita yang seringkali berkutat dengan buku memberikan ketertarikan sendiri pada si buah hati.

Buku Bergambar dan Penuh Warna

Saya bukan tipe orangtua yang ingin membelikan semuanya untuk anak ternyata. Buku pertama Nahla, dikasih teman, buku selanjutnya beli buku bantal. Belum ada buku yang paling mahal, apalagi yang sampai berjuta-juta.

Keadaan kami belum memungkinkan untuk memiliki banyak barang, selain kami masih sering berpindah-pindah tempat, kami juga sedang belajar untuk hidup lebih minimalis. Jadi, ya secukupnya aja. Tim minimalis mana suaranya?

Nah, karena keadaan demikian, saya mencoba untuk lebih santai. Apapun bisa menjadi sarana membaca, nggak perlu yang boardbook segala, jika yang tipis-tipis pun bisa dipahami. Pokoknya inginnya seminimalis mungkin.

Dalam masa pertumbuhannya, yang paling penting dalam memilih buku yang sesuai dengan usianya adalah buku yang penuh warna dan gambar. Entah itu buku anak sepuluh ribuan, Majalah anak baik edisi baru maupun edisi lama juga tetap bisa dipakai.

Buku gambar memberikan keterrtarikan sendiri untuk anak. Dari gambar juga kita bisa mengenalkan banyak hal. Bukan hanya terpatri pada isi cerita saja. Kita bisa mengenalkan warna, benda yang ada di buku, ataupun tebak-tebakkan cerita selanjutnya.

Orangtua Mendampingi

Hal ini juga menjadi penting. Kita bisa saja membelikan anak buku yang banyak, atau bahkan yang mahal. Tapi, jika kita berharap dia akan membuka bukunya sendiri, dan dibiarkan membaca sendiri apa ya dia akan melakukan?

Ketertarikan pada buku tidak bisa datang begitu saja. Kita butuh pemicu. Nah, pemicu utama ketertarikan anak pada suatu hal adalah sikap orangtua. Haha, lagi-lagi orangtua ya.

Saya sendiri seringkali malas, tapi melihat anak yang tiap hari bilang : Mamah, tolong bacakan adek buku” membuat saya sadar. Jika dia berkata begitu, itu berarti intensitas saya untuk membacakannya buku itu berkurang.

Dari mendampingi anak membaca buku manfaatnya ada banyak sekali. Menguatkan bonding anak dengan orangtuanya, meningkatkan kemampuan literasi anak, menstimulasi imajinasi dan rasa penasaran anak dan banyak manfaat lainnya.

Menggunakan Intonasi Suara dan Ekspresi yang Menarik dengan Read Aloud

Nah, ini juga ternyata menjadi daya tarik tersendiri.

Saya menyadari bahwa tanpa sadar menjadi Ibu berarti akan ada banyak hal yang dipelajari, termasuk mendongeng ini. Mendongeng dengan suara datar memang terdengar tidak menarik ya. Saya sendiri ternyata merasakan itu, apalagi anak kecil yang lebih peka ya.

Intonasi dan ekspresi adalah hal perlu diketahui oleh anak-anak. Mereka pasti merasakan, tapi bisa jadi mereka tidak memahami maksud dan penempatannya. Maka, bereksplorasi tentang intonasi dan ekspresi lewat bercerita inilah kuncinya.

Bercerita memberikan ruang validasi rasa dan ekspresi yang dirasakan manusia pada umumnya. Kita mengenalkan bahwa siapapun valid untuk menangis, sedih, tertawa, marah dan perasaan lainnya.

Tidak semua hal harus selalu dilewati dengan senang hati dan riuhan tepuk tangan, bukan?

Let’s Read : Perluas Pengetahuan, Perluas Lahan Berekspresi

Nah, seperti yang diterangkan di atas ya, saat ini kami sedang berada dalam kondisi yang serba minimalis. Pindah sana-sini alias kontraktor, menjadikan kami sungkan untuk beli segala macam kebutuhan dalam jumlah banyak. Jadilah, alih-alih males beli-beli, kami pun ikut teknik yang memang lagai ngetrend saat ini, Hidup Minimalis.

Untuk kebutuhan sandang dan pangan kami pun batasi. Tapi untuk kesadaran akal dan fikiran, pemenuhan terhadap buku yang tidak bisa kami hentikan begitu saja.

Akhirnya, kami pun mengikuti arus yang diiukti oleh kebanyakan penganut minimalis. Membaca melalui aplikasi perpustakaan digital.

Mengubah kebiasaan dari yang biasanya meraba kertas menjadi tinggal swipe/sentuh saja ternyata bukan hal mudah bagi saya. Dan hal itu berlaku juga buat anak saya, Nahla.

Beberapa kali, saya coba tawarkan untuk membaca lewat gawai, dengan melihat kegiatan saya, akhirnya dia pun tertarik. Akhirnya, justeru memegang sekarang seringnya untuk minta dibacakan buku, bukan lagi nonton. Nah, setelah bertemu dengan aplikasi let’s Read yang bisa diunduh langsung lewat Appstore, anak semakin betah baca lewat gawai deh.

Selain itu, ternyata banyak kemudahan sekali kepada kami sebagai orangtua. Selain lebih hemat, juga tentu lebih simpel. Tidak banyak tumpukan yang menjejali setiap sudut rumah. Mendukung sekali buat kami yang sedang mencoba hidup Minimalis ini.

Aplikasi Let’s Read : Membaca Dari Genggaman Itu Seru

Saya senang sekali ketika dengan mudahnya, saat ditinggal masak atau melalukan aktifitas bebersih rumah, anak sudah duduk terpekur di depan buku-buku.

Dengan penanaman bahwa membaca itu adalah asyik. Perubahan metode dari kertas menuju dijital ternyata syukurnya tidak terlalu njlimet.

Let’s Read, aplikasi membaca bagi anak memberikan banyak sekali tawaran kemudahan yang membuat anak betah berlama-lama membaca. Saya senang sekali menemukan aplikasi ajaib ini. Nah, ini dia kelebihan dari aplikasi Let’s Read tersebut :

Pemilihan Bahasa

Ada banyak bahasa yang ditawarkan. Bahkan, untuk kita, orang Indonesia yang terdiri dari berbagai bahasa dan budaya, Let’s Read menampung kebutuhan tersebut.

Keberadaan fasilitas bahasa ini sangat memudahkan sekali buat anak saya yang orangtuanya mix languange (sunda dan jawa). Selain itu, untuk mengikuti perkembangan bahasa lainnya, bahasa inggris pun beberapa sudah dia kuasai.

Jadi, adanya aplikasi Let’s Read ini menyokong sekali buat kemampuan bahasa anak. Terutama buat kami, biar tetap mengenal bahasa asli orangtuanya.

Bisa Memilih Level Membaca Anak

Nah, karena tiap tumbuh kembang anak, kebutuhannya berbeda, kebutuhan akan bahan bacaan juga demikian.

Aplikasi Let’s Read paham betul dengan kebutuhan tersebut. Ada beberapa level yang yang ditawarkan. Mulai dari bayi di level ‘my first book’, anak-anak batita di level 1, anak-anak balita di level 2, dan seterusnya.

Banyak Pilihan Materi Cerita

Ini juga unggulan yang sesuai banget dengan kehendak kami, para orangtua. Ketika ingin mencoba mendalami sains, alhamdulillah tersedia banyak buku yang terkait. Bukunya yang menjelaskan tentang bagaimana memecahkan masalah, juga tersedia.

Pilihan-pilihan tersebut tidak hanya memperluas wawasan anak-anak semata. Kami, para orangtua pun, harus sembari menyelam sambil minum air, sambil bacain, kami pun belajar kembali.

Tips Membaca dengan Gawai

Nah, ini juga penting banget nih. Membaca buku lewat gawai memang asyik dan menyenangkan. Tapi, eits jangan lupa. Bagaimanapun, media yang digunakan adalah gawai.

Bagi anak-anak, tentu memegang ataupun berhadapan dengan gawai terlalu tidak baik. Maka berikut hal-hal yang kiranya dapat dilakukan agar membaca tetap baik untuk tubuh dan otak anak-anak kita :

Gunakan Metode Pomodoro

Metode Podomoro, yang diciptakan oleh Francesco Cerillo, sangat bagus untuk melatih disiplin waktu. Apalagi tantangannya yang digunakannya adalah gawai.

Meski yang memegang gawai tak lagi untuk menonton, namun untuk membaca, waktu tetap harus dibatasi.

Penggunaan metode gawai ini ialah 25 menit membaca, 5 menit istirahat. Nah, istirahat ini memberika jeda agar mata tidak bekerja berat terus menerus. Selain itu, istirahat tersebut memberikan waktu buat anak untuk melihat tempat lain, menyuplai kebutuhan tubuh oleh makan dan minum, serta menggerakkan badan.

Atur Jarak anak dan Gawai

Memberikan jarak berlaku tidak hanya untuk menonton, tapi juga saat membaca lewat gawai. Karenanya, kita sebagai orangtua bisa menaruh gawai tersebut di tempat yang nyaman untuk membaca, baik itu dalam phone holder maupun alat bantu lainnya.

Atur Posisi Duduk Anak

Nah, saking serunya membaca, bisa jadi posisi duduk anak berubah, bisa membungkuk, tiduran bahkan sampai tengkurep. Tentu saja hal tersebut tidak bagus, baik untuk matanya, maupun posisi tubuhnya.

Membiasa anak untuk berposisi dengan baik perlu perhatian peuh orangtua. Juga, contoh yang diberikan orangtua juga. Hal ini, tentu saja sangat berpengaruh pada kebiasaan nak hingga kelak.

Nah, sekian sekelumit uraian, pengalaman dan tips yang bisa saya ceritakan. Bisa jadi, ada banyak tambahan lainnya nih dari Ibu-Ibu kreatif.

Yuk, ciptakan generasi cinta buku mulai sekarang, mulai dari keluarga kecil kita.

4 Comments

  • Amalina

    Halo Nahla! Sudah lama gak ketemu ya. Masya Allah makin pinter dan sholehah pastinya sekarang 🙂
    Buku The Very Hungry Caterpillar favorit bangetttt 😀

    Salam,
    Amalina

  • Ghina

    Hallo Teh, alhamdulillah selama di rumah aja, emang kudu siapkan amunisi banyak ini. Mbak Dinara pun makin sholehah dan cerdas nih pastinya. Iya nih, emang favorit pisan bukunya, sevideonya pun ditontonin terus

  • Anton

    Si kribo, putra semata wayang kami saat ini sudah memiliki koleksi bukunya sendiri. Dia baru saja lulus SMA. Buku itu dibelinya, sebagian pakai uang sendiri, sebagian lagi hasil membujuk bapaknya supaya mau mengeluarkan dompet..:-D

    Koleksinya beragam, tapi dia suka membaca novel.

    Entah berapa banyak sekarang buku yang dimilikinya.

    Saya terus terang tidak berpikir terlalu rumit untuk membuatnya menjadi sama dengan bapaknya, gemar membaca. Hanya ingat ketika masa kecil, saya membiasakannya untuk membaca. Buku bergambar adalah awal mulanya, komik adalah jenis buku kedua, sebelum kemudian merangkak ke novel dan berbagai jenis bacaan lainnya.

    Tapi yang paling penting adalah orangtuanya juga gemar membaca. Dengan begitu ia seperti memiliki contoh nyata dan bukan sekedar bujukan.

    Saya tidak berpikir perlu teori banyak dan rumit untuk menggiring anak menjadi gemar membaca. Kenalkan dan ajak anak untuk berteman dengan buku sejak awal. Caranya terserah kondisi masing-masing.

    Sebuah perjalanan yang panjang, tapi pada akhirnya, tanpa disuruh pun si anak akan menjadikan buku sebagai temannya juga

    Cuma pengalaman pribadi saja

  • Ghina

    Wah, nggih. Memang perlu menjadi figur dulu ya. Tanpa sadar, anak akan terbentuk pola tanpa perlu babibu dengan berbagai ocehan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *