Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Bagaimana Muslim Asia Berdamai dengan Musim Dingin

3 min read

dealing with winter as moslemah

ghinarahmatika.com – Ketika musim dingin datang, hanya ada satu yang banyak didambakan orang-orang, melihat salju dan mungkin foto dengan nuansa salju. Selain itu, musim dingin nampak sangat membosankan. Kita harus memakai pakaian berlapis, orang-orang lebih banyak menggunakan pakaian berwarna gelap, dan kita harus menghemat agar tagihan pemanas ruangan tidak naik. Oh iya, penelitian pun menunjukkan bahwa musim dingin banyak membuat orang-orang frustasi. Lho!

Itu sungguh benar, haha. Saya sendiri merasa lebih baik tinggal di rumah saja daripada keluar rumah dengan kerepotan yang harus dilalui. Meski di rumah terus pun rasanya bikin bosan, tapi keluar rumah terlalu merepotkan, bukan? Apalagi buat orang asia seperti saya yang nggak begitu kuat dingin.

Baca juga : Ramadan, Belajar untuk Berkesadaran

Namun sebagai muslim, kita tetap harus melaksanakan sholat lima waktu, yang mana berarti kita tetap harus sering terkena air minimal lima kali sehari, bukan? Lalu bagaimana seorang muslim asia seperti bertahan melewati musim dingin?

Berdamai dengan Musim Dingin bagi Seorang Muslim Asia

Meski rasanya memang cukup berat melewati musim dingin ini, namun ternyata ada banyak hal juga yang patut kita syukuri sebagai muslim saat tinggal di negara dengan empat musim seperti di Belanda ini. Apa saja itu?

1. Menikmati siang yang pendek dan malam yang panjang

Bagi seorang muslim, pertimbangan waktu menjadi hal penting saat akan melakukan sesuatu. Ada kewajiban untuk menghamba yang tidak boleh terlewatkan.

Waktu-waktu tertentu menjadi penanda bagi kita sebagai umat muslim untuk melakukan ritual bertemu dengan sang Khaliq melalui sholat. Lima waktu dalam sehari yang berarti kita harus berpapasan dengan air untuk melaksanakan sholat. Namun ternyata Allah memberikan kemudahan, lho.

Masya Allah. Mengetahui perbedaan waktu ini membuat saya semakin berdecak kagum atas kuasaNya yang sudah sedemikian rupa mencoba memberi kemudahan kepada hambanya untuk beribadah.

Iya, kita memang harus tetap melakukan sholat lima waktu sebagai perwujudan hamba kepada Tuhannya. Namun Allah juga mudahkan dengan mengatur waktu sholat yang ternyata sangat berdekatan.

Meski setiap harinya waktu sholat terus bertambah maupun berkurang 1–2 menit, dalam 3 bulan pergeserannya bisa sampai 1 jam lebih, namun kurang lebih waktu sholat kita di sini seperti ini : 

Subuh : pukul 5 hingga pukul 7 pagi

Dhuhur : pukul 12 hingga pukul 1 siang. 

Ashar : pukul 2 hingga pukul 3 siang.

Maghreb : pukul 4 hingga pukul 5 malam.

Isya : pukul 6 hingga pukul 7 malam.

Kurang lebih seperti itu perbedaan waktunya. 

Lalu apa yang menakjubkan?

Yup, waktu siang semakin pendek dan malam semakin panjang. Selain itu, waktu sholat dhuhur, ashar, dan maghrib lebih berdekatan tentunya. 

Jika tidak ada acara, tidak terburu, dan tidak keburu batal, saya biasanya menggunakan satu wudhu untuk sholat dhuhur – ashar dan maghrib – isya. Jujur saja, bersentuhan dengan air memang bikin malas di musim dingin ini. Dari sini saya malah belajar untuk menjaga wudhu. 

Dari menjaga wudhu ini saya jadi teringat cerita ibunya imam Syafi’i yang senantiasa menjaga wudhu selama hamil imam Syafi’i. Saya merasakan menjaga wudhu itu sangat sulit, apalagi saat hamil. Seringkali rasa was-was akan kentut saja sangat menghantui. Jangan saat hamil, saat musim dingin saja kita acapkali terburu–buru saking tidak kuatnya menahan dingin, atau mengabaikan beberapa bagian karena itu hanya sunnah semata.

Menjaga wudhu iya, tapi kita juga harus menyempurnakan wudhu juga. Melengkapi seluruh bagian badan yang harus terbilas atau terusap secara sempurna, melafalkan niat wudhu dengan penuh kesadaran, dan berdoa sesudahnya dengan penuh kekhusyukan. 

Jika harus batal karena kentut misalnya, ya belajar untuk lebih menerima dan mensyukuri. Alhamdulillah masih bisa kentut, toh. 😀

2. Tetap menjaga kebersihan

Saat musim dingin, kita tidak dianjurkan untuk mandi setiap hari, lho? Karena justru hal itu tidak baik untuk kesehatan kulit dan rambut kita.

Enak banget emang. Haha. Allah sudah mengatur sedemikian rupa dengan segala kemungkinannya, ya.  

Namun meski kita tidak mandi hampir setiap hari, lewat wudhu kita tetap masih bisa kok menjaga kebersihan tubuh kita. 

Makanya itu tadi, kita berwudhu dengan menyempurnakan wudhu semampu kita. Membasuh dengan benar ke setiap anggota tubuh yang terkena. Meski ada beberapa bagian yang sunnah, tentu ada baiknya untuk tidak melewatkannya juga.

Tapi ya jangan kelamaan nggak mandi juga, lho ya! 

3. Lebih peduli menjaga kesehatan

sebagai orang asia yang setiap harinya bisa menyapa matahari, di sini saya diingatkan lagi tentang kesyukuran itu. hampir sepanjang musim, selain musim panas, kita harus mengonsumsi vitamin d dan lebih peduli merawat kulit karena biasanya akan kering bahkan sampai lecet–lecet.

4. Waktunya qodho puasa

Hai wanita muslimah, ini adalah waktu terbaik untuk kita membayar puasa ramadan kita, lho. Sudah bayar puasa berapa nih?

Enak banget kan, subuhnya lebih siang. Itu berarti kita masih bisa menikmati sahur tanpa perlu terburu-buru harus bangun di pagi buta. Saat berbuka puasa pun lebih awal. Bahkan mungkin jam pulang kantor belum selesai kita sudah bisa menikmati makanan yang kita siapkan.

Enaknya lagi, musim dingin ini membuat kita tidak begitu mudah lapar bukan? Ya karena dingin jadi rasa lapar sepertinya tidak begitu mudah datang. Eh atau malah karena dingin jadi ingin makan terus? Haha

Saya sendiri merasa puasa di musim dingin itu cukup ringan. Apalagi waktu sahur dan buka puasanya juga berdekatan. Masya Allah, nikmat mana lagi yang kita dustakan?

5. Belajar lebih mindful dalam memanfaatkan waktu

Waktu subuh lebih siang apa kita harus bangun lebih siang juga? Hmm, boleh saja asal jangan terlalu siang. Tapi memanfaatkan waktu sebelum subuh dengan baik juga tentunya lebih baik bukan?

Konon waktu sebelum subuh adalah waktu yang sangat tepat untuk kita bermunajat kepadaNya. Kita bisa mengisinya dengan mengaji dan mengkaji Alqur’an, membaca, sholat sunnah atau kegiatan lain yang lebih memberi ruang untuk kita lebih mengenal diri sebagai seorang hamba.

Baca juga : Quran Journal dan Pengalaman saya Menggunakannya

Buat saya sendiri, waktu di pagi itu menjadi momen untuk menikmati me time. Sepi, sendiri, belajar mengenal diri. 

Sementara waktu isya yang lebih cepat, sekitar pukul 6 malam, memberikan kita ruang untuk mengistirahatkan tubuh lebih cepat. Jika memang tidak ada hal yang perlu disegerakan, setelah sholat isya, makan malam, bercengkrama dengan keluarga, lalu bergegaslah menuju ke kamar tidur lebih cepat.

Musim dingin seperti mengajak kita untuk lebih memperbanyak istirahat. Tiga bulan bukanlah waktu yang cepat. Mari kita nikmati dengan hangat. Mendekap diri untuk menghamba lebih erat. Kepada Sang Maha Kuat.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!