Random Thought

Mempelajari bahasa, Mengenal dunia Polyglot

Ada cerita menarik saat masa aliyah (setara dengan SMA) yang saya jalani. Saat mata pelajaran Bahasa Inggris kita biasanya diminta untuk menerjemahkan kosakata dari materi yang diajarkan oleh Guru. Saya selalu diminta tolong teman untuk menterjemahkan. Sampe dibilang ‘kamus berjalan’. Haha, tapi masa kejayaan itu sudah berlalu. Sekarang kalah jauh sama suami.

Mempelajari bahasa asing adalah sebuah keharusan di era digital seperti sekarang ini kan. Nah, Bahasa Inggris ini menjadi kunci pembuka yang mengajarkan kita untuk mengenal lebih luas tentang banyak. Konon katanya bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di berbagai Negara.

Di sekolah kita belajar bahasa arab juga, karena sekolah kita berbasis agama. Setidaknya dasar-dasar bahasa, entah itu tata bahasa atau kosa kata baru menjadi pelajaran yang harus dipelajari saat mempelajari bahasa asing.

Aku suka sih dengan pelajaran bahasa. Tapi sayangnya masih sebatas mempelajari kosakata. Ini sangat terasa saat ada tugas menerjemahkan. Kalo urusan ngomong sama nulis mah udah keok duluan deh. Haha

Mempelajari bahasa adalah hal yang ditekankan juga di keluarga. Abah selalu mewanti-wantiku untuk senantiasa menambah kosakata baru setiap pagi. Beliau juga menjejali aku dengan beberapa buku berteks bahasa inggris dan beberapa bahasa Arab. 

Membaca berbagai teks dalam bahasa Inggris mulai kutekuni saat MTs, begitupun juga bahasa Arab. Eh, tapi Abah ngenyoh-nyohin-nya buku bahasa Inggris mulu, yaudah kan bahasa Arabnya mah entah kemana. Bahasa Arab hanya biasa didengar saat ngaji ba’da shubuh dan maghrib, menyima’ ngaji kitab. Yap, masih dengan metode bandongan sih. Kegiatan pondok pun masih dengan metode bandongan kebanyakan.

Mendengarkan pembicaraan dalam bahasa asing pun aku membiasakannya bahasa Inggris. Ada hobi unik yang susah untuk dilupakan hingga sekarang. Mendengarkan radio. Menunggu saat-saat VOA learning english disiarkan di channel yang agak pojokan. Nggak hafal channel berapanya.

Hobi mendengarkan radio emang sudah kugandrungi sejak melihat walkman yang dipake kakakku, saat itu udah akhir Mts. Aku adalah tipe adik yang suka ngintil si kakak, dan si kakak yang selalu sebel kalo dingintilin mulu sama aku, haha. Kakak punya walkman, ya aku pun beli walkman. Menyisihkan uang jajan untuk beli walkman di warung punya Uwa Ono. Baterai-nya menjadi saksi betapa seringnya aku radio-an. Untung dikasih tape recorder sendiri. jadi ga headset-an mulu deh.

Sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, meski kemampuan bahasa lain ngga jago-jago amat, tapi setidaknya aku tetap bisa belajar. Saat ini ada banyak media untuk belajar bahasa. Mendengarkan VOA Learning english saat ini nggak perlu nunggu siaran di radio setiap subuh, sudah ada di appstore.  Youtube juga sudah sangat banyak mewadahi untuk belajar bahasa lain. Ada yang fokus bahasa pada speaking, pada writing, maupun untuk fokus menghadapi tes-tes bahasa asing. 

Tinggal kamunya, udah manfaatin kemudahan fasilitas tersebut belum, Na? 

Belajar bahasa itu asik?

Sangat asyik. Kita bisa tahu bahasa orang lain, memahami budaya dan ilmu dari bahasa lain, serta memperbanyak pertemanan tentunya.

Pada suatu selasa pagi, saat aku dulu masih bolak-balik sekolah, aku bertemu dengan Bu Dewi. Guru keren yang mengajar pelajaran Akidah, tapi udah keliling Asai Tenggara dengan kemampuan bahasa inggrisnya, untuk meng-guide turis belajar bahasa Indonesia. Aku pun mengenal polyglot dari beliau.

Obrolan ringan pada selasa pagi itu lumayan membekas dibenakku. Pertama kali nih mendengar polyglot yang aku belum paham sebenarnya jenis bahasa apaan itu. Agak jaim juga buat nanya lebih lanjut. haha

Bu Dewi bercerita tentang hobinya ikut kegiatan polyglot, aku lupa sih dia lagi menekuni bahasa apa. Tapi, katanya dalam forum tersebut kita akan duduk berhadap-hadapan dengan native-nya, dan kita ngobrol. CMIIW.

Sesampainya di rumah langsunglah aku ubek-ubek google. Mencari informasi tentang polyglot. Oh, ternyata poyglot itu berarti ” speaking or using several different languages.‘ Menarik nih. Kebetulan kan aku mau wus-wus ke negeri dambaanku, Londo.

Belanda, negeri dambaan isteri, tapi melalui perantara suami. Suami sih ingin belajarnya di Jerman. Nggak papa, kan deketan. Suatu saat kan bisa mampir sana. Amiin

Eh, back to polyglot ya. Penasaran dengan polyglot aku cari di youtube dan ternyata ada banyak yang tertarik dan punya niche khusus tentang polyglot, terutama yang aku ikutin sih vlognya mbak Lindie Botes. Wanita aseli Afrika selatan tapi udah menguasai banyak bahasa, seperti Jepang korea, Inggris, dan bisa juga bahasa Indonesia sedikit-sedikit. 

Dari Mbak Lindie botes ini,  akhirnya kubelilah buku Alex Rawlings yang berjudul “How to speak any language fluently”. Ada banyak tips untuk belajar berbagai bahasa. (semoga suatu ada waktu buat ngereview bukunya ya)

Belajar bahasa bagiku, bukan untuk sok-sokan sih. Lebih pada memperluas wawasan. Jika salah harus mau dibenarkan. Jika tidak tahu ya harus mencari tahu. Yang belum nemu solusi nih jika males. Kelamaan malesnya daripada rajinnya. Heuheu

Belajar banyak bahasa menurut Alex Rawlings ada banyak manfaatnya. Antara lain : untuk melatih otak agar tetap aktif, melihat dunia dengan cara yang berbeda, mendapatkan uang, dan meningkatkan kemampuan kognitif. 

Meski bisanya masih dikit-dikit, lumayanlah. Berarti bisa bahasa indonesia, sunda, jawa, arab, inggris dan belanda, haha. Tapi beneran masih dikit dikit banget sih. Dibanding kamu mah aku cuma remahan peyek doank kemampuannya. 😔

Yuk, Belajar!

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!