Cerita Anak,  Cerita Nahla

Cara Bahasa Bekerja pada Anak

Dewasa ini, banyak sekali para Ibu yang dengan idealisnya ingin memperkenalkan berbagai bahasa terutama bahasa asing kepada anaknya. Aku masuk salah satunya sih. Hoho. Ya gimana donk, saat ini kebutuhan akan penguasaan bahasa asing semakin dibutuhkan. Ya kan?

Lagi-lagi aku teringat sama polyglot. Kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa itu lho. Kebetulan minggu kemarin aku nonton channel YouTube-nya Nathaniel Drew. Dia ngomong sama neneknya yang menguasai 5 bahasa. Seru banget dan kagum gitu lihatnya.

Baca juga : Mempelajari Bahasa, Mengenal Polyglot

Bahasa adalah kunci untuk berkomunikasi bukan? Tapi jangan lupa, bahasa juga investasi jiwa dan raga. Lewat bahasa kita memperluas khazanah keilmuan dan relasi atau bahkan kayak neneknya Nathaniel Drew itu, tampak awet muda dan berpengetahuan luas, belajar bahas juga bisa mencegah penyakit pikun ataupun skizophrenia yang menyerang orang sepuh lho.

Itu juga salah satu alasan yang memantapkanku untuk belajar bahasa di pare. Meski materinya tidak benar-benar dari nol, tapi praktek bahasanya emang benar-benar dari nol banget. Padahal kunci dari menguasai bahasa itu ya PRAKTEK. Nggak praktek ya nggak nancep.

Setelah kelas speaking kelar, nyatanya semakin dengerin video atau film luar gitu masih juga balelo, gitu. Ada banyak yang di luar apa yang kita ketahui. Yup, mereka memiliki bahasa slang ataupun idiom yang masih sedikit kita kuasai. Ya, karena emang ga boleh langsung ngerasa puas kan meski udah kelar kelas. Praktek aslinya kan di dunia luar bukan di kelas!

Jadi keputusanku untuk belajar bahasa sembari bawa anak adalah keputusan yang tepat banget bagiku. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, kan. Yang belajar ibunya, nanti pasti yang banyak nangkep anaknya. Pikir ku gitu sih. Kan anak kecil cepat nangkep materi. Haha.

Well, selama 8 bulan ikut aku ke kelas ataupun program di asrama, Nahla belum menunjukkan mau speak gitu. Dia masih dalam tahap saving memory nampaknya.

Kadang, one day when we were outside, Nahla lagi bareng sama aku dan ayahnya, dia suka tetiba speak English mempraktekkan kosakata bahasa inggris yang dia dengar.

Kata awal yang dia tanyain tuh begini : Mama, impolite itu artinya apa sih? Wkwk, btw ini kata-kata misuh kalau lagi sebal sama anak asrama sih sebenarnya. Atau tiba-tiba dia ngomong ‘ and, the first speaker is… Mamah’, gaya moderator kalau lagi speech program. Kita yang lagi sholat shock, siap-siap dalam benak mau konfirmasi itu. Eh, pas dikonfirmasi dia jawabnya ‘ngga tahu, kan kayak mamah itu lho’.

Okay, selama 8 bulan ternyata dia mencoba merekam semua yang dia dapatkan. Oh iya, Nahla ikut ke Pare tepat di usia 3 tahun. Jadi, mengutip dari National Institute of Health, masa-masa ini nih berati bahwa anak bisa menyusun kat dengan baik, bisa berkomentar bahkan berargumen. Waktu yang tepat sekali nih!

So, setelah usai kelas Pre-class yang berarti akan meninggalkan Pare, di dalam kereta menuju Jakarta aku kaget tiba-tiba Nahla mengomentari sebuah jembatan dengan bahasa inggris. Ngomongnya udah lebih dari 3 kosakata pula.

Ternyata speak gitu berlanjut sampai kini kami bermukim di Martapura, lho. Dia malah yang sering mengajak atau mengawali untuk ngobrol dalam bahasa inggris.

Yuk, Bantu Anak Kelola Bahasa mereka!

Aku mencoba untuk mencermati pengelolaan bahasa dalam percakapan kesehariannya Nahla dan beberapa pengetahuan kebahasaan yang didapat dari kelas bahasa. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  • Mengajarkan bahasa itu sangat mudah untuk anak-anak; ajak anak ngobrol aja terus. Taruh di jawa, sunda, batak sekalipun dia bakal cepat nangkap. Tapi, hm, jangan coba-coba untuk membandingkan kemampuan bahasa anak yang satu dan yang lainnya. Setiap anak itu berbeda dan mereka tetap istimewa. Catat!
  • Ajarkan pilihan kosakata yang baik; Anak akan nderung meniru gaya bahasa yang sering dia dengar. Nyata lho, saking seringnya nonton Spongebob, ada anak yang kalau ngomong suka nambahin kata ‘mungkin’ padahal jelas-jelas yang dibahas itu lagi ngomongin fakta. Kan kalo misal lagi menjadi saksi di persidangan jadi repot. *eh
  • Ajarkan pula makna kata yang benar; Anak belum tahu kan makna dari suatu kata. Tugas kita yang memberitahu mereka. Hal yang paling penting, artikan bahasa dengan makna yang positif, makna yang sebenarnya, dan hindari makna negatif atau kata-kata negatif.
  • Ajarkan susunan kata yang benar; Basically, mereka akan benar-benar mengikuti apa yang kita ucapkan. Tanpa sadar kita juga kadang ngucap dengan susunya SPOK atau seenggaknya mudah dipahami. Tapi tentu lain halnya dengan mempelajari bahasa asing, Inggris atau Arab misalnya. Agak repot sebenarnya karena kita perlu mengubah tulisan dan pengucapannya. Ya balik lagi, kita kudu ngasih tahunya yang betul.
  • Perluas kosakata dengan banyak membaca dan bercerita;
  • Praktekkin terus; tentu saja. Apalagi kalau bukan praktek dalam keseharian, bukan?
Bersama Guru Bahasa, Miss Uun sekeluarga

Sekian segitu aja dulu sepertinya.

Oh iya, Selamat Hari Pers Nasional, btw. Semoga masa depan anak kita nanti pilihan kata dalam Pers mereka di masa yang akan datang akan lebih baik dan berkualitas ya.

23.29 WITA

Martapura, 8 Februari 2020

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
lisa lestari
5 months ago

Saya hanya sering mengajak si kecil bercakap-cakap bahasa jawa dan indonesia. Terkadang menceritakan cerita dalam bahasa jawa. TErkadang dia akan tertawa, merasa lucu kali ya dengan apa yang dia dengar.

Reyne Raea
3 months ago

Saya dong cuman lancar berbahasa Indonesia, bahasa Buton nggak bisa, tapi tahu artinya meskipun nggak semuanya.
Bahasa Jawa juga, lebih separuh usia saya habiskan di Jawa, saya belom bisa bahasa Jawa dong.

Penyebabnya? nggak terbiasa kayaknya 😀
Lidah saya itu kayak cuman fokus ke 1 bahasa, bahkan bahasa Inggris, sejak kecil saya suka bahasa Inggris, sekarang ngomong pakai bahasa Inggris, orang kudu pakai payung biar nggak kena muncratan saya hahahahaha

Nah karenanya saya selalu pakai bahasa Indonesia, kayak tulisan saya ini.
Dan memang anak saya jadi ikutin bahasa saya, meskipun saya kagum pada anak pertama saya, dia masih bisa switch dengan lihat, saat ketemu temannya dia berbahasa Jawa dengan sangat fasih dan medok, dan pas ngomong di rumah, medoknya hilang hahahahaha

3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x