Story

Cerita dibalik #30haribercerita

Sembilan hari yang lalu, saya masih berfikir  untuk menulis satu cerita. Dalam sebulan kemarin setiap hari saya dituntut untuk menceritakan sesuatu. Cerita apapun.

Saya mengikuti tantangan 30 hari bercerita yang diadakan oleh akun @30haribercerita. #30haribercerita menantang kita untuk bercerita selama 30 hari berturut-turut selama bulan Januari. Aturannya tidak begitu ketat. Baru ikut dihari kesepuluh pun tak mengapa. Saya sendiri baru ada keinginan untuk ikut di hari kedua.

Ternyata banyak sekali antusias orang-orang untuk mengikuti tantangan #30haribercerita. Termasuk sepupu saya. Tantangan ini, menurut saya melatih disiplin dan tanggungjawab pribadi. Tidak ada bonus yang didapat. Tidak pula sanksi yang dikenai. Yang ada, jika beruntung maka postingannya akan di repost oleh admin 30 hari bercerita. Saya belum pernah. Sepupu saya bahkan dua kali di repost mereka.

Memenuhi target biasanya memang agak susah dilakukan jika tidak ditantang. Saya begitu. Ketika ditantang menulis, ada saja ide yang muncul. Ketika tidak ada tantangan, hidup terasa selo dan berjalan lambat, bahkan terasa hambar. Hidup memang harus sering ditantang. Entah dengan pengalaman baru, teman baru, tempat kerja baru, hobi baru, dan hal yang baru-baru.

Menantang tanpa bonus berarti melatih diri untuk berkomitmen. Segala yang dimulai harus disudahi. Segala yang diniati harus dilaksanakan. Segala yang diimpikan harus diraih. Apresiasi cukup dari diri sendiri. Mengapresiasi diri bisa jadi menjadi suatu hal yang jarang kita lakukan.

Saya sendiri mengalami hal-hal baru yang saya dapati dari kegiatan #30haribercerita ini, antara lain:

  • Menulis tidak selalu harus menggunakan laptop; mungkin karena awalnya dirasa caption tidak perlu banyak-banyak. Tapi lama-kelamaan ternyata tulisan bisa sampai ratusan  kata. Ide pun terus mengalir. Lama-lama akhirnya terbiasa menulis menggunakan gawai.
  • Menulis bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, sambil melakukan apa saja; Karena perbedaan waktu di Indonesia dan di Belanda, mau tak mau saya harus menyesuaikan. Ketika waktu tidak sempat, maka menulis bisa disambi. Seringnya saya  menulis sambil memasak, sambil berjalan kaki, sambil tiduran, dan sambil melakukan hal lainnya.
  • Menemukan gaya tulisan baru; Peserta yang ikut tantangan #30haribercerita memiliki model tulisan yang beragam. Saya senang sekali membacanya. Tanpa disadari saya terkadang ikut model tulisan mereka. Atau saya seringkali menulis cerita dengan tulisan berrima, atau berulang-ulang.
  • Menemukan kebebasan menulis yang berbeda dengan di blog; ini mungkin hanya menurut saya saja. Karena saya bermain blog juga, dan tulisan saya cukup formal-personal di blog. Sementara di Instagram, secara tidak sengaja saya merasa menemukan kebebasan menulis. Sebenarnya bisa saja disamakan, hanya mungkin memang saya yang sengaja membedakan model penulisan diantara keduanya.
  • Belajar berkomitmen itu tidak mudah; setiap hari harus menulis satu cerita itu awalnya bukan hal yang mudah, karena terbiasa. Maka mengikuti tantangan ini membiasakan kita untuk terbiasa melakukan hal yang dikomitmenkan oleh diri sendiri. Iya, oleh diri sendiri untuk diri sendiri. Karena jelas tidak ada yang memaksakan.
  • Mengisi feed instagram lagi; saya jarang sekali menampilkan foto untuk ditaruh di feed instagram. Rasanya cukup berat hati. Saya juga sering bingung karena harus memasang caption. Bingung nulis caption apa lebih tepatnya.
  • Belajar mengambil foto yang bagus; kebetulan Januari kemarin ada salju. Saya jadi greget sendiri karena tidak bisa menampilkan foto yang bagus. Lupa kalau ada aplikasi yang membuat cantik foto nih. Meski tidak wajib, tapi kan bagus juga kalau hasil fotonya bagus-bagus.
  • Menulis bisa tentang apa saja, hal sederhana di sekitar kita pun bisa kita ceritakan.

Kedepannya, mungkin saya akan membuat kategori sendiri. Untuk menampilkan jenis tulisan seperti di #30haribercerita dengan sub-kategori ’cerita sebelum tidur’ bagian dari kategori ‘Story’. Saya memilih nama sub-kategori tersebut karena saya sekarang lebih sering tidur paling akhir, dan lebih suka menulis lewat gawai. Mencoba berkomitmen pada diri sendiri untuk mengapresiasi cerita sehari-hari.

Yang penasaran dengan ceritanya, bisa dicek di @neenarahma. *teteppromosiyak 😀

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!