Membiasakan Jalan Kaki

Jalan kaki adalah kegiatan yang ringan dan sehat. Semua bisa melakukannya. Tapi sayang seribu sayang, banyak orang enggan melakukannya, bahkan untuk jarak yang dekat sekalipun. Selain itu, transportasi juga semakin memanjakan kita.

Saya sendiri mulai berjalan kaki dengan rutin ketika hamil, jalan di  pagi hari menjadi rutinitas. Untungnya, tidak jauh dari rumah ada jalanan sepi. Menjadi tempat yang menentramkan untuk jalan jalan.

Saya sering ditemani suami jalan kaki. Rasanya memang cukup malas untuk menikmati sendiri. Berjalan bersama teman, teman hidup pula, tentu tidak akan membosankan.

jalan kaki dekat sawah

Berjalan kaki menikmati jalan sepi adalah keniscayaan. Kini, pagi ataupun malam, semesta selalu penuh dengan suara. Maka, menikmati suasana pagi yang sepi, ditemani sayup-sayup tanaman di sawah, atau berpapasan dengan orang-orang yang lewat, adalah kebahagiaan.

Jalan kaki tak hanya sekedar rutinitas pagi. Selalu saja ada cerita. Entah melihat segerombol santri yang usai mengaji. Segerombol bebek yang siap mencari santapan pagi. Melihat petani yang sudah bekerja di sawah. Atau hanya sekedar melihat birunya langit dan berjemur di bawah Mentari yang mulai muncul.

Berjalan kaki merupakan hal yang mudah dilakukan, tanpa ongkos pula. Tapi, melakukannya menjadi kebiasaan adalah hal sulit. Saya pun mengakuinya.

Usai melahirkan, jalan kaki di pagi hari pun terhenti. Pagi menjadi kegiatan yang penuh drama sekali. Tak ada lagi menikmati pagi yang santai. Anak kecil selalu minta ditemani. Sementara Ayah sibuk mengajar ngaji. Dapur minta disentuh lagi.

Ibu baru bingung mengatur pagi. Sementara raga tetap harus digerakkan lagi. Meski jiwa sudah lelah duluan. Baiklah Ini hanya permulaan. Lama-lama pasti akan mudah dilalui. Yakini.

Perlahan, ritme pagi mulai teratur. Kuncinya semua kendali pagi memang ada di Ibu. Urusan dapur dan anak harus terkendali dengan baik. Tidak ujug-ujug juga. Perlahan semua dinikmati, dijalani, dan dipelajari.

Jalan kaki kembali dijalani. Lebih sering lagi. Saya kembali mengajar di tempat yang dekat dari rumah. Menghitung langkah kaki sembari menyapa orang-orang yang bertemu di jalan.

Jalan kaki memang penting. Apalagi setelah tinggal di negeri Kincir Angin ini. Agar kita menjadi tidak kaget. Kemana-mana jelas harus bersepeda dan berjalan kaki. Lumayan menghemat biaya, sekalian olahraga.

Karena terbiasa dengan jalan kaki, syukurnya anak pun ikut tertular. Nahla sering mengartikan jalan-jalan dengan jalan kaki. Artinya dia tidak mau menggunakan sepeda.

Di sini, kami mendapati cerita-cerita lucu saat kami berjalan kaki. Sepertinya semua terpana melihat anak kecilku ini.

Ketika iseng saya mengajaknya berangkat sekolah jalan kaki, Nahla ketagihan. Jika ketika berangkat tak sempat berjalan kaki. Pulang sekolah dia selalu jalan kaki duluan meninggalkan saya sendirian. Artinya satu kilometer jalanan harus ditempuh dengan jalan kaki.

Nahla main di taman sepulang sekolah

Nahla sepertinya ketagihan jalan kaki. Menikmati jalanan dengan segala tingkah lucunya. Saya yang berjalan sembari membawa sepeda, butuh banyak kesabaran. Dia seringkali berjalan pelan, berada di belakang sepeda, atau bahkan hanya sekedar melenggok-lenggok di jalanan. Sambil bercerita, sambil menunjuk sesuatu, sambil bertanya-tanya. Jelas, saya harus menunggu dan merespon semua tanya.

Ada banyak cerita lucu saat kami berjalan kaki. Suatu ketika, seorang perempuan tua mendekati. Dia menyapa Nahla dan ingin menyentuh kepalanya. “Hai Meisje Mooi‘.

Aku menanggapinya sembari tersenyum. Nahla mendekatiku dan menjauh darinya. Dia selalu menjauh dari orang asing, tapi kemudian cari perhatian dari kejauhan. Anak ini, ada aja tingkahnya.

Kejadian ini cukup sering terjadi. Mungkin mereka yang sudah tua rindu menimang cucu. Atau mungkin mereka memang sangat antusias melihat anak kecil. Setiap kita berpapasan, pandangan orang kebanyakan langsung tertuju pada tingkah anak kecil kami. Interaksi dengan mengapresiasi itu lebih penting rasanya daripada tanya basa-basi yang berhubungan dengan hal pribadi.

Dari berjalan kaki, selain belajar tentang menyapa dan apresiasi, kita belajar tentang alam hayati.

Daun yang berguguran. Salju yang bertebaran. Angin yang berdesiran. Burung yang berkicauan. Indah bukan?

Di jalan, kita belajar tentang prioritas kesabaran. Pengguna mobil dan bus bersabar menunggu pengguna sepeda motor. Sepeda motor bersabar menunggu pengguna sepeda onthel lewat. Semua pengguna kendaaran jelas harus lebih bersabar menunggu pejalan kaki lewat. Cukup menanti. Mengantri. Tidak mendahului.

Interaksi antara alam dan manusia yang berlalu lalang, kita nikmati. Perlahan. Proses memberi banyak arti, cerita dan pelajaran.

16 thoughts on “Membiasakan Jalan Kaki

  1. bener neng…kita seharusnya sejak kecil harus kembali membiasakan diri untuk berjalan kaki, soalnyah sejak lama acara jalan kaki jadi sangat jarang, selalu saja pake motor padahal tebang 100 meter misalnya teh…jadinya otot kaki jadi nggak pernah di olah ragain…sok kasih contoh sebanyak-banyaknya dulu deh yah ku neng

  2. Saya juga, termasuk pecinta jalan kaki. Meski di Jakarta yang cuacanya seringkali panas membara 🤭🤭🤭. Buat saya yang terpenting bawa minim, dan ada playlist. 😂😂😂

  3. di istanbul kami biasa banyak jalan kaki, apalagi banyaknya naik turun tanjakan..saking terbiasanya jalan kaki, pernah pas mudik 2017, kita berdua jalan kaki ke minimarket yang jaraknya sekitar 100an lah dari rumah.., anehnya malah ditanya: kooo jalan kaki, emang ga ada motor:D..laaahhh, melihat kami jalan kaki banyak yg merasa kasian…pukkpukkk

  4. ramahnya ya sekedar senyum, say hay doank mbak. beberapa ada yg exited saya anak kecil, tp ya ada jg yg nggak..

  5. saya juga suka jalan kaki, walaupun jarang-jarang keseringan naik motor hihihi
    tapi jujur sekarang kalo ada orang jalan kaki malah nganggepnya kesian di kota tercintaku ini, padahal sehaaaaaat gagal paham sama orang-orang ini pfttt

  6. Halo Mbak Ghina, salam kenal!
    Saya juga senang sekali jalan kaki, cuma sedihnya sekarang udara mulai banyak polusi, pohon-pohon juga mulai ditebangin. Disana sepertinya asik ya pemandangannya, ingin lihat foto-foto pemandangannya.

    Saya merasa masih beruntung bisa jalan-jalan di sekitar kompleks yang nyaman, sekarang kalau jalan di trotoar jalan raya udah bisa ketabrak motor yang motong jalan macet. Hahaha

  7. Hai Mbak Fiola, Salam kenal juga. Iya bener bgt ya, di kita emng ga begitu aman jalan kaki, apalagi di jalan raya. Prioritas seperti yg saya sebut kan di atas saya nemu di sini. Kalo di Indo nyebrang jalan aja adalah hal yg saya takutkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!