Random Thought

Romantisme dalam Tirakat Istri

Tirakatmu menentukan masa depan suamimu

Ibu Nyai Hj. Noor Khadijah Chasbullah (Istri Mbah Wahab Chasbullah).

Suatu ketika ada pesan dari grup mamak-mamak muda. Sebuah pesan berisi gambar seorang Ibu yang sudah tua renta, menggunakan sehelai kerudung. Yang menarik, ada sebuah quote di dalamnya, dan sosok disebalik gambar tersebut.

Saat itu saya masih hangat-hangatnya menyandang status sebagai seorang Istri. Foto yang dikirim tersebut menggugah hati saya. Berkali-kali bertanya kepada diri sendiri. Meski belum ada yang benar-benar dilakoni sebagai sebuah bentuk ‘tirakat’.

Iya, kutipan yang muncul dari foto tersebut adalah sebuah pesan bagi saya agar melakukan tirakat dalam hidup. Sosok yang digambarkan dalam foto tersebut tidak tanggung-tanggung. Beliau adalah istri seorang kyai besar.

credit picture : santrionline

Pesannya beliau : Tirakatmu menentukan masa depan suamimu. Fikir saya, lah kok bisa? Kok berat sih? Kok harus istri sih? hehe. Belum apa-apa udah protes aja yak. 😆

Jadi saya membayangkan, tirakat yang dilakukan adalah sebuah perjuangan besar. Terutama untuk kebaikan keluarga beserta anak keturunannya. Mungkin kudu puasa sunnah terus. Sholat malam terus. Wiridan terus. Terus melipir sama ibadah sendiri aja, masih segitu-gitu aja.

Bisa jadi memang Beliau tirakatnya kuat. Ada banyak ulama dan orangtua dahulu yang mentirakati hafalannya, mimpinya, keluarganya, keturunanannya. Ada juga kisah seorang kyai yang melakukan tirakat untuk santri-santrinya. Yang terbukti kemudian para santri tersebut menjadi orang sukses dan manfaat di kemudian hari.

Seperti pepatah, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Memang perlu merasakan susah untuk kemudian senang. Memang perlu tirakat, untuk mendapati bahagia di kemudian. Harta memang mampu menjadi penjamin kualitas tempat mendidik anak (red: sekolah mahal). Tapi tidak selalu, apalagi untuk urusan masa depan dan kebahagiaan. Siapa yang tahu?

Apa itu tirakat?

Tirakat adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab thariqoh. Jalan yang dilalui. Sederhananya, jalan untuk menyederhanakan keinginan untuk mencapai keinginan yang lebih tinggi. Lebih pada laku spiritual. Laku untuk mengendalikan nafsu dan memperbanyak kendali pada materi dan juga hati.

Bisa jadi, ada banyak lelaku tirakat yang bisa dilakukan. Secara kasat mata kita mengetahuinya, apalagi untuk hal-hal yang bersifat ritual. Semisal berpuasa, banyak ibadah, dan lain sebagainya.

Saya menemukan beberapa hal unik, yang mereka bilang hal tersebut termasuk dalam tirakat. Dalam hal makan misalnya. Menahan diri untuk puasa seharian itu terdengar biasa kan? Nah orang saya temui itu katanya sedang ‘ngrowot’. Istilah baru yang saya temukan pasca menikah dan ngontrak di Jogja.

Ngrowot itu ternyata makan dengan menghindari nasi. Jadi makannya biasa diganti dengan jagung, umbi-umbian dan lainnya. Bisa juga roti kali ya. Ada juga puasa yang menghindari makanan dari hewani. Bahkan untuk pemilihan bihun dan juga bumbu, kudu benar-benar non-hewani, mungkin bisa dibilang seperti vegan kali ya.

Hal-hal demikian menjadi agak aneh. Orang pasti bilang, saya sendiri bahkan heran lho. Kenapa kita harus repot-repot membatasi suatu hal yang jelas-jelas itu boleh. Ya itulah, tirakat.

Tirakat salah satu bentuknya ialah keprihatinan. Karena biasanya dari prihatin menderita lalu ingat terus kepada Tuhan. Ini jelas hal yang tidak mudah. Apalagi di jaman yang segalanya bisa dinilai dari luar, terutama dari sosial media. Sementara itu, kita selalu mengharap penilaian bagus dari orang lain.

Tirakat seorang Istri

Hal-hal yang bersifat ritual sepertinya memang mudah dilakukan. Bagi yang bisa melakukannya. Meski sebenarnya, apapun lelaku kita, segalanya kembali pada niat masing-masing. Urusan duniawi bisa jadi termasuk ibadah. Urusan ibadah juga bisa menjadi urusan duniawi.

Hal yang bagi saya terasa berat saat mentirakati hidup itu lebih pada mengendalikan diri dan gaya hidup. Saya sendiri belum bisa lepas lama dari handphone, dari godaan iklan, dari pergosipan yang muncul, atau dari model-model baju terbaru. Oh, gaya hidup itu memang berat diongkos dan di timbangan akhirat! *eh

Sebenarnya, tirakat tak hanya lelaku yang bisa dilakukan perempuan saat menjadi istri. Atau lelaki yang menjadi suami. Karena harusnya, lelaku itu bawaan. Tidak juga serta merta setelah menikah lelaku itu muncul. Bisa jadi, istri menjadi tempat doa yang maqbul karena “Surga ada di bawah telapak kaki Ibu”. Mungkin karena itu juga, Abah saya sering minta Mimih untuk lebih rajin mendoakan keluarga dan anak-anaknya, dibanding bilang “Iya Abah doakan”.

Lelaku tirakat bagi saya sendiri seperti masih menjadi pelajaran yang cukup sulit untuk dilakukan. Sulit, karena kita dihadapkan pada era di mana menjadi istri tak hanya sekedar memberi bakti lahir bathin pada suami semata. Tapi, lelaku untuk menjaga, melindungi, dan mengasihi saat ini banyak tantangannya.

Menjadi Ibu pun demikian. Ibu tak hanya mampu ngomel mewanti-wanti anak agar terhindar dari hal-hal buruk. Jelas, pemikiran dan ilmu saat menjadi ibu juga harus menyesuaikan. Maka selalu meng-upgrade ilmu itu sangat perlu. Tirakatnya juga harus lebih di-gethol-kan.

Saya belum bisa memberikan contoh banyak. Sementara diri masih saja banyak ke-tidak konsistenan-nya. Saya melihat sekitar, orang-orang terdekat dan kisah para tokoh dan cerita-cerita memukaunya. Berikut beberapa lelaku tirakat -selain ibadah ritual- dalam bentuk prihatin yang banyak dicontohkan.

Tirakat yang dapat dilakukan oleh seorang istri antara lain :

  1. Berbakti pada suami, orangtua, dan mertua;
  2. Memberi contoh yang baik pada anak;
  3. Selalu merapal doa dan meniati segala hal untuk kebaikan;
  4. Mampu mengendalikan diri dari segala hal yang tidak baik;
  5. Senantiasa belajar;
  6. Menerima/cukup;
  7. Berhati – hati.

Mungkin beberapa yang membaca juga bisa memahaminya yaa. Emm, lalu romantisnya dimana tirakat ini ?

Romantis itu kan salah satu definisinya adalah ‘hal yang mengasyikkan’. Nah lelaku tirakat ini juga merupakan hal mengasyikkan lho. Karena hal mengasyikkan itu muncul dari hal yang baik. Tidak hanya baik, tapi bisa jadi ibadah.

Tapi maaf, ini rada maksa juga. Karena tema #1minggu1cerita di awal bulan ini bertema Romantis. Jadi disambung-sambungin aja.

Ingat iklan Thailand yang mengharukan itu nggak? Ketika ada seorang lelaki yang setiap harinya selalu membagikan uangnya kepada pengemis, menggeser pohon yang membuat orang lain tertabrak, membeli makanan untuk memberikannya kepada orang lain. Romantis bukan? Hal yang romantis muncul dari kebaikan. Apalagi kebaikan yang disembunyikan. Lebih romantis tentunya.

Hal-hal kecil dari setiap kebaikan seperti itu adalah hal yang seringkali diremehkan. Padahal bisa jadi, kebaikan tersebut berbuah manis. Seperti yang di iklan itu. Uang yang selalu di bagikannya, mampu membuat si anak pengemis tersebut sekolah lagi.

Nah, jika hal romantis yang dapat dilakukan seorang istri mah jelas banyak juga. Segala kebaikan istri kepada suami itu adalah ibadah. Akan tetapi, contoh ini agak susah dan sering tidak disadari nih. Semisal, Istri yang mengurangi waktunya untuk berselancar di sosial media. Dia lebih memprioritaskan waktu untuk keluarganya. Hal tersebut jadi ibadah. Ada juga kebaikan didalamnya. Bahkan ada ke-hati-hatian pula dalam lelakunya.

Contohnya lagi, Istri yang lebih banyak diamnya, juga romantis. Daripada banyak ngomongnya, sering ngomelnya, malah bikin suasana rungsing. Wahaha itu mah saya denk. Tapi memang susah buat banyak diam. Lah wong perempuan memang lebih suka ngomong kok.

Banyak juga contoh lainnya. Setidaknya kebaikan-kebaikan kecil itu selain romantis, juga berpahala, dan pasti membuat orang lain nyaman kok. Yuk, bersikap romantis.

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!