Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Sebuah Tirakat : Melakukan Hal yang Dibenci

3 min read

melakukan hal yang dibenci sebagai sebuah tirakan

Saya melihat pada pencarian di Jetpack blog saya, ternyata banyak dari orang-orang mencari hal tentang tirakat untuk meraih sesuatu. Sampe ada yang kirim pesan langsung, Mbaknya baca blog saya lalu kita ternyata kebetulan ada di satu grup whatsapp, dan dia nanya ada nggak tirakat untuk yang masih jomblo?

melakukan hal yang dibenci sebagai sebuah tirakan
SEBUAH TIRAKAT LAKUKAN HAL YANG KAMU BENCI

Tirakat tetap menjadi pembahasan yang menarik ya, meski masa sekarang ini sudah ada banyak cara cepat untuk meraih sesuatu.

Tirakat ini mungkin dikenal hanya pada sebagian kalangan. Kalau kalangan santri/yang pernah mondok di pesantren salaf biasanya sudah dibiasakan untuk melakukan hal ini. Namun tirakat sendiri erat kaitannya dengan adat jawa, tirakatan.

Dulu, ketika saya masih di Mlangi, Jogja, saya menemukan kata-kata itu dalam budaya masyaratat di sana. Tirakat dilakukan pada malam 17-an, pada malam peringatan hari besar, dan lainnya.

Baca juga : Melepas Rindu pada Jogja

Kegiatan tirakatan yang dilakukan antara lain : berkumpulnya orang-orang di satu rumah tertentu, mengundang banyak orang untuk melek semalaman sambil melakukan sesuatu. Kegiatannya seperti membaca dzikir bersama-sama dengan nada bacaan yang dilagukan, dan diakhiri sambil wedangan sembari meramaikan malam.

Mereka bilang, cara tersebut menjadi salah satu cara untuk mengingat perjuangan para Pahlawan ataupun orang-orang terdahulu. Cara ini juga menjadi salah satu kegiatan yang mengakrabkan masyarakat agar tetap guyub rukun.

Nah, tirakat juga diidentikkan dengan kegiatan yang dilakukan oleh tertentu untuk mendapatkan satu hal tertentu. Misalnya, mendapatkan jodoh, mendapatkan pekerjaan, maupun mendapatkan rumah, dan lainnya.

Baca juga : Romantisme dalam Tirakat Istri

Oleh karena itu, tirakat disebut sebagai usaha bathin yang dilakukan, selain usaha-usaha lahiriah, untuk meraih sesuatu. Orang yang beragama mempercayai bahwa selalu ada campur tangan Tuhan atas apa yang ia kehendaki. Maka keduanya dianggap perlu untuk dilakukan.

Jenis Tirakat Baru Ala Cak Nun

Pagi ini, ditengah scrolling media sosial, saya menemukan hal baru dari tirakat yang cukup mengganggu fikiran saya.
Ada status seorang teman yang mengutip wejangan yang dituturkan oleh Cak Nun. ‘Tirakat itu berwujud : ‘ lakukan sesuatu yang kau benci’.

Apa yang ada dalam fikiran kamu saat membacanya?

Kalau saya, baca tulisan tersebut saya merasa hal yang selama ini saya lakukan ini agak useless. Saya masih melakukan banyak hal hanya karena memang saya suka untuk melakukannya. Karena itu, hal yang tidak saya sukai saya enggan bahkan untuk bersinggungan dengan hal tersebut.

Hal demikian semakin dipertegas dengan ajakan para influencer masa kini yang lebih menekankan kita untuk melakukan apa yang kita sukai. Kalau kita suka, pasti kita enjoy melakukannya, dari hobi bahkan bisa menghasilkan cuan.

Saya amini bahwa perkataan tersebut memang benar nyatanya. Namun, pernyataan Cak Nun tadi seakan mengobrak-obrak pola pikir kita yang terlena dengan hal-hal yang kita sukai saja.

Padahal, tentu saja ada banyak hal yang kita nggak suka melakukannya, namun ternyata itu baik.

Tirakat itu berwujud : ‘ lakukan sesuatu yang kamu benci’

Cak Nun

Dari sinilah, saya akhirnya mencoba memahamkan diri maksud dari perkataan tersebut. Memahamkan dan menganalisis personaliti saya. Dengan kepribadian yang cenderung introvert, kadang insecure, dan seringnya berfikir tak beralur membuat saya perlu melakukan tirakat seperti ini, nih.

Cara Mempraktekkan Tirakat

Dari penuturan Cak Nun tadi, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan, yang baik meski kamu tidak suka melakukannya, harus dipaksa. Nantipun hasilnya dimampukan, jika niatnya memang baik.

Jadi, inilah kira-kira bentuk tirakat yang bisa dilakukan, jika melihat dari hasil analisa personaliti saya dan mungkin berlaku juga untuk generasi yang nggak bisa lepas dari social media. Berikut antara lain:

Analisis kepribadian sendiri

Seperti saya sebutkan di atas, yang memahami kita adalah kita sendiri. Baik yang disukai maupun yang tidak kita sukai, kita yang memahami dan mengetahuinya.

Maka, pemahaman tentang kepribadian ini menjadi penting, karena dari sini kita bisa mempelajari bahwa ternyata ada banyak hal bisa kita lakukan selain hal-hal yang selama ini kita memang suka untuk melakukannya.

Kamu bukan hanya sekadar ‘cuma’

Kita adalah makhluk sempurna. Iya. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk menyempurnakan hidup kita? Apa kita bahkan sudah mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang mungkin tersembunyi pada diri kita?

Ini tantangan besar sih, buat saya terutama. Saya jadi merasa tertampar sama teh annisast kemarin. Meyakinkan bahwa rendah hati dan rendah diri itu beda. Ternyata ya, menghargai diri sendiri dan mengapresiasi dengan wujud you can do it saja saya masih sering abai.

Ini bukan hanya tentang kamu

Seperti cerita-cerita Cak Nun, beliau selalu merasa bahwa kehadirannya itu ada karena dukungan orang lain. Jadi, sebisa mungkin beliau akan melakukan hal-hal baik pun untuk orang lain. Meski sebenarnya beliau tidak begitu menguasai, maka ia selalu mengupayakan mampu dengan berusaha mencobanya.

Terapkan porsi cukup dan kurang

Cukup untuk segala yang berbau materi, tentu saja perlu ditekankan. Tapi, kita juga perlu untuk merasa haus dan kurang untuk mengerahkan segala kemampuan yang memberi kebaikan baik untu kita maupun orang lain.

KESIMPULAN

Keempat hal tersebut saya coba saring dari personaliti saya sendiri, ya. Tidak dipungkiri, tentu masih ada banyak yang bisa dianalisis.

Tentu lelaku tirakat ala Cak Nun ini tidak bisa ujug-ujug dilakukan. Konsep yang beliau tekankan memang tidak hanya atas kebutuhan hubungan antara manusia dan Tuhan semata. Namun, karena kita makhluk sosial maka lelaku kita juga sebisa mungkin harus berdampak pada orang di sekitar kita.

Begitu kira-kura. Nah, kalo tirakat ala kamu apa nih?

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

37 Replies to “Sebuah Tirakat : Melakukan Hal yang Dibenci”

  1. Setuju mba, dengan statement jangan hanya fokus pada apa yang disuka hehe. Ini nggak jauh beda sama passion, kadang banyak anak muda di luar sana, dikasih motivasi harus kejar passion blablabla tanpa diajarkan konsekuensi dari pilihannya. That’s why, banyak pula yang akhirnya berhenti kerja, memilih usaha, berharap dapat cuan tapi akhirnya gagal di tengah jalan.

    Saya pribadi termasuk orang yang nggak begitu buta sama passion, though idealisnya hidup bisa mengikuti passion, tapi saya tau realistisnya adalah saya harus membuat apa yang saya kerjakan sekarang (bisa jadi sesuatu yang saya benci sebelumnya) dengan passion yang besar. Jadi passion itu datang berjalan dengan usaha saya mencintai apa yang saya kerjakan sekarang 😀

    Dan soal Tirakat, well, saya suka banget sama kata-kata “Ini bukan hanya tentang kamu.” karena pada dasarnya kita hidup nggak bisa egois meski kadang sah-sah saja untuk melakukan hal tersebut ~ hehehe. Tapi sebisa mungkin, kita harus punya eye measure untuk orang-orang di sekitar kita. Agar kita bisa hidup berdampingan, beriringan, dalam kebaikan 😀

    As usual, terima kasih untuk tulisannya ya, mba ❤

    1. Sama-sama Kak Eno..

      Iya makanya saya bikin perkataan cak Nun ini out of thr box. Suka nggak nyampe sih kefikiran kesana, kwrens ngelakoni apa yg saya suka aja kita seringnya nggak sungguh-sungguh juga.

      Kalo sya justru terlalu pengikut passion, makanya nglakuin ini tuh berat. Harus memaksakan diri, nggak bisa, ya harus belajar, nggak mau ya harus dicoba dlu.

      Makanya nulis ini tuh buat pengingat, karena dasarnya suka lupa dan malesan.huhu

  2. maknanya hampir sama kayak keluar dari zona nyaman nggak sih kak Ghin? Kalo aku sih jujur, masih selalu suka ngelakuin hal yang aku suka, mungkin pernah beberapa kali ngelakuin yg nggak disuka, tapi bisa jadi dalam keadaan nggak sadar, atau spontan gitu aja, hehe..

    1. Mmmm, yup hampir serupa ya. hal2 out of the box kayak gini memang membuat kita lebih ‘membaca’ nih

      Tapi nggak suka di sini konteksnya selama itu masih baik yaa. Biar kita ada usaha lebih dan beradaptasi dalam segala situasi, gitu kayanya

  3. Di sini biasanya santri yang sekolah pada tirakatan. Entah itu makan hanya nasi putih atau sesuai sama yang diminta kyainya. Hmmm… Kalau melakukan sesuatu yang kita benci tantangan banget sih

    1. Seru seru sedih yaa Mbak melakukan tirakatan begitu. Menahan hal-hal yang begini nih susah banget menurut saya. Belum pernah dan belum berani nih melakukan kayak gitu. Masih mending puasa senin kamis atau daud kayaknya, karena masih bisa makan enak-enak, hehe

  4. Baru tahu kalau ternyata konsep tirakat Cak Nun sangat dalam. Saya malah tahunya ya tirakat itu identik dengan budaya Jawa…

    Diem, sendirian, gelap, nggak tidur semalam suntuk dan berdoa, hehe. Karena itu akhirnya mikir kalau tirakat hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berilmu saja.

    Sungguh pandangan baru, mungkin saya bisa mencoba melakukan hal yang saya benci

    1. Kalo yg konsepnya begitu mah saya tahunya emang jawa banget ya Mbak Arai. Sya malah tahunya ya tirakat itu lelakunya prihatin dlm segala keadaan.. Ini juga kata2 Cak Nun tamparan bgt buat saya

    1. singkatnya tirakat itu jalan menuju Tuhan denga melalui lelaku bathin, Mbak Shafira. Tidak saklek juga bagainana jenisnya. Yang pasti selalu mempertimbangkan niat baik dan ada kebaikankepada diri sendiri dan Tuhanny di dalam itu bisa jadi syarat tirakat.

  5. Haii mba ghina. Terimakasih remindernya. Saya merasa ditampar juga oleh perkataan Cak Nun.
    Saya sendiri mencoba keluar dari Zona nyaman udah 4 bulan ini. Awalnya sangat berat dan memang untuk mengejar sesuatu yaa butuh perjuangan yg berat.
    Mudah-mudahan bisa ketemu dengan tujuan sayaaa dengan tirakat ini. Aamiin.

  6. Tirakat itu berat, biar aku saja…ehh tentunya bukan begitu juga, ya. Beberapa kali ada saja yang mengingatkan untuk tidak terjebak pada zona nyaman, karena bisa melenakan. Siapa tahu, lewat upaya atau kalau level tingginya tirakat itu, ketemu hal menyenangkan atau minimal manfaatnya ya, meski awalnya tidak suka.

  7. Jujur baru tahu tirakat ini. Bukan orang Jawa, dan bukan anak pesantren hehe. Tapi mungkin sedara umum banyak yang melakukan tirakat ini tapi dalam bentuk lain dan nama yang lain mungkin ya

  8. apakah tirakat ini sama dengan muhasabah? evaluasi diri?

    tapi tirakat yang kak ghina jelaskan diatas yang kumpul bersama terus dzikir bareng dan baca doa untuk mencapai keinginan tertentu, saya ngerasa kekeluargaan dan kebersamaannya besar ya. saling membantu mewujudkan keinginan saudara. karena ntah doa dan dzikir dari siapa yang ikut tarikat yang Allah kabulkan

    1. Iya, Teh. Jadi tempat saya dulu itu kompak banget ertenya. Kekeluargaannya juga terrasa. Melestarikan budayanya terrasa sampai ke anak-anak kecil saking rutinnya mengadakan kegiatan keagamaan yg melibatkan smeua lapisan.

    1. bisa jadi itu juga sarana yg baik ya. untuk mendekatkan diri sama keluarga dan juga kepada Tuhan. Semoga dilancarkan terus untuk kegiatan pengajiannya kak Rin..

  9. Hallo mbak Ghina,

    suka banget sama tulisannya mbak dan quote dari Cak Nur.
    Saya pribadi termasuk orang yang biasanya mendekatkan diri dengan kegiatan yang kurang saya sukai, dari mulai pemilihan jurusan kuliah, sampai milih job desc karir (ini yang susah karena karirnya suka tapi ada bbrp job desc nya yang gak suka) dan hobi. Ibu saya dulu bilang, mungkin karena saya Rebel jadi gak ikut aliran, dan antara ngga suka lama-lama berada di zona nyaman dengan ngga fokus #tutupmuka.
    Kalau dipikir, padahal seharusnya kita mendahulukan mengerjakan apa yang kita cintai dulu

    Sepertinya pilihan saya tidak mengerjakan apa yang saya cintai, selain mungkin menantang diri lebih baik juga karena berusaha menemukan dan memantapkan apa yang sebenarnya saya cinta. Beberapa contoh sudah terbukti dan ternyata ketika sudah menemukannya, saya menjadi tidak gentar walau badai menghadang hehehe.

    Ps: menulis bukanlah sesuatu yang saya sukai, gak pernah bisa konsisten kecuali nulis buat kerjaan. Hanya karena kepengen banget bisa berkomunikasi lebih baik, saya pun jadi “wajib” menulis.

    1. Hai Kak Ren.. Seneng bgt ini dikunjungi sama kak reni.
      Eh, iya saya juga masuk ke jurusan kkuliah yg tidak saya sukai, wah kita samaan. Masak karena rebel mbak, tapi menantang toh malah. Selama masih dalam hal yg baik semoga gapapa toh.
      Bisa jadi apa yang tidak kita sukai malah menguntungkan atau memberikan jalan yg lebih baik, gitu kali yaa. Kak ren mah nggak suka nulis tapi ni nulisnya lebh rajin dan lebih apdet daripada saya yg katanya suka nulis, hehe.

      semangat kak

  10. Emakku dulu sering bnget ngucapin kata tirakat ini. Tapi konteks kalimatnya seperti ini.
    Misal, pengen banget bisa beli motor. Emak bilang. Tirakat sek, Poso senin kamis, njaluk doa ke Allah, menahan untuk nggak jajan, tabung uangnya secara konsisten, seperti itu sih mbak. Intinya dengan lantaran tirakat, diharapkan apa yang kita inginkan bisa terwujud gitu kan ya.

    Trus mengenai Tirakatan seperti yang dimaksud Cak Nun levelnya bener2 beda ya mbak. Maknanya besar banget itu, apalagi dampaknya bagi diri sendiri yang menjalankannya. Seperti yang dibilang Mbak2 di atas. Macam keluar dari zona nyaman ya. Selagi hal itu positif tentu oke oke aja ya kan mbak

    Btw TFS ya mbak

  11. setiap orang memiliki tirakat dengan tujuan akhir yang berbeda. Sejujurnya akhir-akhir ini tirakat Saya adalah mendoakan supaya keluarga aman dan selamat saat pandemi seperti ini. Ini salah satu concern terbesar yang menyita waktu dan pikiran saat ini. Semoga semua yang bertirakat bisa terpenuhi tujuannya ya

  12. jujur saja, walau udah lumayan sering dengar kata tirakat ini, tapi baru kali ini agak sedikit mengerti apa artinya.
    melakukan hal yang dibenci tentunya membutuhkan keberanian, komitmen dan tentu saja keikhlasan yaa

  13. Saya malah baru dengar istilah tirakat. Kalau keluar dari zona nyaman memang perlu ya karena biar tahu kapasitas diri juga. Kalau ingin sesuatu, sebenarnya mudah, tinggal shalat dan berdoa saja insya Allah cukup.

  14. Permasalahan love and do sebetulnya bisa dilakukan dari kedua arah. Pertama memang melakukan sesuatu yang kita cintai atau sebaliknya mencintai apa yang kita lakukan.

    Saya sendiri lebih berprinsip yang kedua. Mencintai apa yang kita lakukan. Karena terkadang realita tidak sejalan dengan keinginan. Namun berusaha menghadirkan cinta di tengah keadaan yang mungkin kita tidak suka, tantangannya akan terasa lebih daripada berada di keadaan yang kita sukai.

  15. Cukup dalam tulisannya sampai saya ikut hanyut. Sebenarnya saya sering melakukan tirakat ini juga, tapi selama ini saya bilangnya “kontemplasi”, intinya sama: komunikasi intrapersonal. Namun karena ini pula saya seringnya jatuh ke dalam penilaian diri sendiri dan mengecilkan diri sendiri, mungkin kurang ilmu. Dan ternyata ada poin yang “kurang” tersebut di tulisan ini. Terima kasih untuk tulisannya mba.

  16. Mak, jujur aku baru mendengar istilah ini. Aku baca tulisan ini sambil 2x pengulangan. Apakah berarti Tirakat ini bisa dipersepsikan dengan muhasabah diri? Tapi soal keempat poinnya, aku setuju banget, itu adalah poin-poin bagus yang baik kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Thanks ya, sharing-nya

  17. Hai mbak…ini kayak keluar dari comfort zone ya, ga? Awalnya pasti sulit ya…apalagi buat saya, tapi kayaknya boleh juga nih dicoba selama yang dilakukan itu tidak merugikan orang lain.

    1. Hai Mba Hida, Yup krang lebih maknanya hampir sama mbak. Karena biasanya kita dituntun untuk lebih menyukai passion kita, jadi kita abai pada hal yg baik yg kita nggak suka gitu.

  18. Jujur saya baru ngeh dengan istilah tirakat ini setelah baca postingan mba Ghina di tulisan ini. Dan saya setuju banget dengan salah satu kutipa Cak Nun di atas dengan istilah merasa cukup dan kurang. Sebuah filosofi yang menarik.

    1. istilah tirakat emang biasanya dipake sama orang2 tua zaman dulu, teh gita. Jadi kalau sekarng ini mgkn anak2 lebih terbiasa dgn bersakit-sakit dahulu, tapi maknanya kurang lebih demikian sih.

  19. Suka banget sama tulisannya 🙂

    Kebetulan aku salah satu tipikal manusia yang suka ngejar sesuatu yang disuka aja (juga). Terkadang, bahkan seringkali dalam hidup kita memang dihadapkan dengan sesuatu yang kita tidak suka, tidak menyenangkan, tapi kita harus lakukan. Karena kadang kalau sudah ketemu polanya, ketemu ritme nya, dari yang tadinya tidak suka bisa jadi suka banget, hehehe.

    1. Yup, benar sekali mas fajar. Aku pun kadang merasa demikian, kita perlu menemukan ritme dulu yaa, ah iya dan manfaat. Biasanya kalau hal itu kita dapatkan ua hal itu, hal yang nggak kita suka bisa jadi bagian yg kta sukai dalam hidup kita.

      Terimakasih sudah mampir, mas

  20. Ini nasehat dari ibuku banget.
    Orang mau sukses, kudu banyak tirakat alias pantangannya.
    Jauh dari hingar bingar kesenangan yang melenakan dan hanya duniawi. Targetnya? Tentu kasih sayang sang Ilahi yang Maha Sempurna.
    Semoga tirakat membawa kita semua kembali ke padaNya dengan sebaik-baik keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!