Membawa Anak Kerja. Why Not?

Saya geli sebenarnya mau cerita tentang hal ini. Sekedar sharing aja. Buat cerita Nahla juga jika nanti sudah beranjak besar. Agar dia ingat dengan cerita-cerita masa kecilnya.

Nahla lahir dalam kondisi kami sebagai orangtua yang masih pas-pasan saja. Secara kebetulan suami kerja kantoran dan ngajar di pondok dekat rumah. Sementara saya, mengisi waktu luang ngajar di sekolah dekat rumah, kadang nyambi ke pondok juga.
 
Definisi kerja kantoran belum akrab sama sekali dengan saya. Hingga sekarang, saya belum pernah sih mengenyam bangku kantor. Kadang sih tertarik banget, tapi kok keadaan belum mendukung.
 
Beberapa kali kerja remote malah membuat saya semakin tertarik untuk kerja remote ataupun freelance. Enak. Nggak perlu beranjak dari rumah, nggak perlu juga dandan dan nyiapin baju segala macamnya.
 
Setelah memiliki anak dan mendapati tugas untuk mengajar di kelas dan kerja remote yang sesekali harus rapat, saya kebingungan. Mau dikemanakan anak saya ini?
 
Titip orangtua dan mertua sangat nggak memungkinkan. Jarak yang jauh dan posisi Nahla yang masih menyusui membuat hal tersebut adalah mustahil.
 
Dititipkan ke daycare atau pun orang lain, saya yang nggak tega. Beneran, sebagai newbie mom, saya merasa sangat protektif dan khawatir berlebihan sih. Nggak yakin aja gitu.
 
Akhirnya, semua kegiatan saya, Nahla hampir pasti ikut. Jarang banget Nahla stay bareng ayahnya, meski ayahnya sedang lowong juga.
 
Beberapa kegiatan seperti : ke sekolah, ikut ngaji, rapat kerja, bahkan rapat bareng anggota dewan pun saya iseng ajak. Sekarang saya pun coba ajak Nahla lagi untuk ikut saya les bahasa. 
 
Membawa anak itu bukan sebuah beban. Itu adalah sounding yang kerapkali suami lontarkan. Kadang saya akui sering mengaiyakan, sering  juga saya merasa ini adalah sebuah ‘beban’. Meski, justru jika saya merasakannya sebagai beban, malah beneran terasa beban karena Nahla pasti akan rewel saat itu. 
 
Jadi, berikut mungkin hal-hal yang harus diperhatikan oleh orangtua saat akan membawa anaknya.:
 
1. Sounding
Ini kekuatan utama dalam pengasuhan anak sih menurut saya nih. Sounding is magic.
Kita sounding terus dengan mengulang-ngulang rencana kita, dan permintaan yang kita inginkan selama anak mengikuti kegiatan kita.
 
Misal saya sounding anak dengan berkata:
Adek nanti yang baik ya.
Adek nanti bersuara kecil-kecil aja ya, sambil kita ngomong berbisik biar dia paham maksudnya.
Jangan lupa kasih pujian ya.
 
2. Pastikan kita nyaman saat bersama dengan anak
 
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, jika kita menganggapnya beban, maka memang akan terasa beban. Jika kita menganggapnya sebagai teman dan kita nyaman, maka dia akan berteman dan kondisi pun terkendali.
 
Bisa jadi ini yang dinamakan dengan ‘chemistry’ seorang Ibu ya. Kenyamanan yang dirasakan oleh anak akan dirasakan saat ibu memberikan kepercayaan dan keamanan pada anaknya. Begitu sih kira-kira.
 
3. Pastikan juga lingkungan tempat kerja benar-benar friendly
 
Ini juga faktor penting sih. Saya rasa hampir semua orang akan suka dan senang saat melihat anak kecil yang lucu dan menggemaskan.
 
Tapi, ternyata nggak semua juga merasakan hal demikian. Ada juga yang merasa bahwa anak itu sangat mengganggu kegiatan mereka. Apalagi jika anaknya nggak bisa dikondisikan.
 
Tiap orang emang beda-beda dalam menyikapi anak. Nggak bisa juga kita memaksakan kehendak kita sama mereka.
Maka, meminta kerjasama dengan rekan kerja adalah sebuah keharusan. Kita pasti butuh mereka. Entah untuk keperluan kita buat pup dan sebagainya. 
 
4. Pastikan amunisi anak sudah tercukupi
 
Biasanya anak akan rewel karena lapar, bosan dan keinginannya tidak terpenuhi. Maka, sebagai orangtua kita tentu tahu betul apa yang harus dipersiapkan.
Bawa cemilan ada keharusan. Bawa mainan yang dia suka juga bisa. Jangan lupa selalu bawa semua ‘amunisi’ tersebut dalam tas anak sendiri. Agar tidak ada yang tertinggal jika ada keperluan mendadak.
 
5. Tetap memperhatikan anak

Ini sih yang sering terlewat. Kita biasanya fokus banget sama kerjaan kita, eh anak padahal ngajak ngobrol, nanya sesuatu, minta sesuatu, dan segala tingkah yang meminta perhatian kita. Ya jangan diabaikan donk.
 
5 hal tersebut adalah hal penting yang harus diperhatikan. Meski demikian, tentu saja ada kejadian yang tidak terduga kan meski kelima tips tersebut sudah kita lakukan. Lalu kita harus gimana donk?
 
Gimana yaaa, eeemmmmm.. Gimana donk. Semakin dia rewel, semakin kita juga resah. Semakin kita resah malah yang ada muncul segala macam kepanikan-kepanikan lainnya yang membuat lingkungan kerja kita amburadul dan tidak nyaman pastinya.
 
Biasanya saya bawa keluar tempat kerja dulu sih. Mungkin dia butuh suasan baru. Atau butuh lebih diperhatikan oleh kita. Selama ini sih hal itu ampuh.
 
Jadi, jangan jadikan anak sebagai alasan yang membatasi ruang kreatifitas kita ya ibu. Kudu yakin, ibu itu punya kemampuan multitasking yang bisa lebih mampu mengendalikan segala hal kok. 
 
Tapi, jika emang nggak bisa ya udah jangan dipaksakan. Bawa orang lain untuk mengasuh anak, sembari kita bekerja juga bisa. Atau dititipkan anak ke orang lain atau daycara tentu bisa sekali.
 
Tips yang saya pakai mungkin hanya berlaku beberapa atau bahkan nggak berlaku sama sekali sama ibu yang lain. Balik lagi, semua punya cara masing-masing untuk mengatasinya. Yang penting, jangan lupa bahagia aja ya buibu.

Saya yang saat itu selain kuliah juga sedang mondok tentu kudu ijin dulu. Lomba ini sering membuat saya pulang malam, dan nggak dapat jatah makan malam.

4 thoughts on “Membawa Anak Kerja. Why Not?

  1. nggak kerasa ya ghina kayanya kemarin kita masih duduk di selasar gedung 2, sekarang tau tau udah ada nahla aja yang bisa dibawa ngajar
    btw pernah baca juga katanya anak mengikuti frekuensi ibunya. kalo ibunya excited nanti dia ikut excited juga, makanya harus jaga mood banget-banget kalo bawa anak kecil bekerja. tapi dulu aku juga dibawa ibuku bekerja dan dikantor cuma diem main komputer dan gambar-gambar. mungkin emang bawaan alam kali ya hahaha

  2. senangnya bisa membawa anak ngajar. Dulu saya ngajar bimbel belum punya anak, gak ada aturan ketat jadi teman2 boleh bawa anak, nah giliran saya sudah punya anak, aturan berubah bahwa pengajar tidak boleh membawa anak. Dari situ temen2 seperjuangan akhirnya banyak yg resign dari bimbel tsb. Bayangkan ya, hanya bimbel lho, toh rata2 anak dari teman2 kemarin tidak ada yg mengganggu saat pelajaran. Sedih 🙁

  3. hiks, sedih yaaa.. mungkin karena tempat bimbel kali ya, pengen ngasih ketenangan buat siswa bimbelnya buat belajar..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *