Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Keakraban dengan Teman-Teman dari Sulawesi Selatan Di Pare, Kediri

3 min read

keunikan orang-orang sulawesi selatan

Momen paling berkesan saat belajar di Pare, selain belajar sambil bawa anak, adalah menjalin keakraban dengan teman-teman dari Sulawesi Selatan  (Sulsel).

Saya juga heran, kenapa di kursusan ini, ada banyak orang dari Sulsel. Jika dibandingkan, tiap periode itu prosentase member baru dari Sulsel lebih dari enam puluh (60) persen. Sisanya baru orang jawa. Eh, bahkan orang Sulsel sudah punya camp sendiri,  khusus untuk orang-orang Sulsel yang merantau untuk belajar bahasa di Pare.

Kabar-kabarnya, dahulu kala ada beberapa orang Sulsel yang belajar ke Pare dan kemudian sukses. Ya, memang cukup klise dan ini biasa terjadi. Maka, dari mulut ke mulut kabar ini pun menyeruak dan berkembang.

Selain itu, kebanyakan orang luar Jawa memang penasaran dengan kehidupan di Jawa. Dari beberapa teman saya bilang, di jawa lebih murah, akses mudah, lingkungan pendidikannya bagus, dan lain sebagainya. Sebagai orang jawa, tentu saja saya tidak langsung mengiyakan. Toh, banyak juga yang kurang akses, apalagi kalau di pelosok.

Baca juga : Mengenal Pare Kali Kedua

Nah, dalam beradaptasi dengan mereka saya perlu berpikir keras untuk mengenal bahasa mereka, memahami perilaku mereka, dan lainnya. Meski di asrama kami diwajibkan untuk ngobrol dengan bahasa inggris, tentu ada saja momen ‘curi-curi waktu’  yang membuat kita ngobrol dalam bahasa Indonesia. Bahkan, primordialisme pun masih muncul kadang. Apalagi kalau bertemu teman satu kampung.

But, anyway saya bersyukur sekali bisa akrab dengan mereka, diceritakan langsung tentang budaya mereka, tahu masakan khas mereka, sedikit paham bahasa mereka, bahkan dimasakin langsung oleh mereka.

So, inilah kurang lebih cerita yang saya dapatkan untuk mengenang keakraban dengan teman-teman saya dari Sulsel selama di Pare.

Keunikan orang-orang Sulawesi Selatan yang Les di Kampung Inggris Pare

Sebelum saya beranjak pada cerita dan kesan saya tentang orang-orang Sulsel, saya mau disclaimer dulu ya. Ini pandangan benar-benar subjektif dari pengalaman pribadi saya sendiri. So, bisa jadi pengalamannya berbeda dengan orang lainnya.

keunikan orang-orang sulawesi selatan
Teman sekelas, hanya tiga orang yang dari pulau Jawa

1. Semangat belajar tinggi

Kebetulan sekali, di tempat les yang saya tempati ini, tidak mudah untuk naik level ke jenjang berikutnya. Harus melewati Placement Test/PT (semacam ujian) terlebih dahulu. Banyak dari kami yang menyatakan bahwa level ujiannya bahkan lebih susah dari UN. Baik dari sisi pengawasan maupun pemilihan soalnya. 

Nah, saya sendiri menghadapi PT lebih seringnya belajar sendiri. Kalau teman-teman saya yang dari Sulsel ini sering sekali mengadakan belajar kelompok. Bahkan tiap habis materi mereka suka mengulas ulang materinya bareng-bareng.

Pun ketika tidak lolos PT, bukannya menyerah dan pindah tempat les, mereka sabar dan konsisten ikut PT sampai naik level. Padahal jarak antar PT saja dua mingguan. Selama masa tunggu itu, mereka rajin sekali mengajar anak baru untuk belajar. 

Ah iya, kantin jadi tempat kami bertemu dengan para veteran ini. Biasanya kami bertemu untuk mengulas materi maupun memperdalam materi yang belum paham.

2. Banyak pegawai perkapalan

Beberapa teman perempuan dari Sulsel yang saya temui, kebanyakan sudah selesai kuliah. Sementara teman lelaki asal Sulsel di tiap kelas yang saya temu kebanyakan adalah anak buah kapal (ABK). Mereka belajar  bahasa asing dengan harapan akan menaikkan status mereka dalam dunia pekerjaan, sehingga penghasilannya bisa lebih banyak.

Saya ingat dengan salah satu teman saya di level pertama, Frans namanya, dia berasal dari Toraja. Anaknya ramah sekali. Ketika saya tanya tentang alasan kerja di perkapalan, dia jawab, menjadi lelaki di Sulawesi itu butuh modal banyak. Baik modal untuk nikah maupun modal untuk mati.

Selain itu, memang Sulsel terutama Suku Bugis sebagai kelompok etnis terbesar yang menempati wilayah Sulsel sendiri memang kondisi geografisnya  dekat dengan daratan dan lautan. Makanya  mendukung banyak masyarakat untuk menjadi pelaut dan pedagang.

Pernah dengar tentang Kapal Pinisi, kan? Nah, kapal ini pula konon dulunya dibawa oleh orang-orang dari suku bugis untuk mengarungi pulau-pulau di seantero Nusantara. 

Jadi memang tidak mengherankan ya kalau kita bakal bertemu banyak pemuda yang mendedikasikan hidupnya untuk tinggal di laut. Semoga bisa menjayakan kebanggan Indonesia sebagai bangsa pelaut.

3. Suka cerita mistis

Malam minggu di asrama menjadi malam paling ramai. Kita semua jadi tidak kaku lagi untuk ngobrol karena boleh pakai bahasa Indonesia. Topik obrolan pun bebas sesuka kita. Meski seringnya membahas buku, kadang juga membahas hal-hal sensitif bahkan mistis.

Saya sebenarnya kurang begitu suka dengan pembahasan mistis. Anaknya agak penakut, cyin. Tapi anak-anak dari Sulsel ini suka sekali membahas tentang hal mistis. Bahkan cerita-cerita keseharian mereka pun suka sarat dengan hal mistis sedari kecil. 

Menurut teman saya, memang di Sulsel akrab dengan cerita berbau misteri.  Apalagi yang berasal dari Sinjai, di situ bahkan ada yang namanya Kampung Setan.  Selain cerita dari Kampung Setan ini ada juga cerita lainnya yang nggak kalah seramnya.

4. Pekerja keras

Teman-teman dari Sulsel ini selain semangat belajarnya tinggi, mereka juga pekerja keras.

Seperti teman saya bilang,  uang sangat diperlukan tidak hanya untuk merayakan pernikahan saja, tapi juga untuk ‘merayakan’ kematian.

Jadi begini, dalam adat istiadatnya orang Sulsel, ada yang namanya Uang Panaik. Beuh, kalau udah berbicara tentang Uang Panaik, teman perempuan saya suka heboh sendiri, mereka pun inginnya dapat uang panaik yang banyak, katanya.

Apa itu Uang Panaik? Itu adalah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Ya seperti uang mahar memang. Bedanya, pemberian uang panaik ini ada syaratnya. 

Uang Panaik yang diberikan kepada calon mempelai perempuan memperhatikan tingkat pendidikan, status sosial, pekerjaan, dan lainnya. Jadi, calon mempelai laki-laki memang harus bekerja lebih keras agar bisa melangsungkan pernikahan dengan calon yang dituju.

Selanjutnya adalah uang untuk menghadapi kematian. Teman saya yang memang asalnya dari Toraja bilang ada adat yang namanya Rambu Solo. Upacara kematian di Toraja.

Upacara ini ternyata memerlukan persiapan berbulan-bulan dan uang yang tentunya tidak sedikit. Melalui adat Rambu Solo ini, suku Toraja percaya bahwa arwah yang sudah meninggal akan lebih cepat menuju Nirwana. Puncak upacaranya, mereka harus memotong 20 sampai 100 kerbau. Hmmm.. Unik ya.

Penutup

Kesan selama mengenal teman-teman dari Sulsel ini cukup berbekas sampai sekarang. Sepertinya masih ada banyak kenangan yang belum tertulis. Ini tulisan saya tuliskan untuk mengingat kehangan persahabatan dengan teman-teman dari Sulsel. Semoga saja suatu saat bisa berkunjung ke sana. Sehat-sehat ya kalian.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!