Blogging Journey

The Power of Word as a Blogger

Perkembangan sosial media saat ini sudah semakin menjamur. Ruang publik semakin dimanjakan dengan berbagai platform. Ada Facebook yang sampai saat ini menjadi aplikasi sosial media yang paling banyak digunakan, serta Instagram yang semakin banyak digandrungi anak muda hingga yang tua, bahkan dimanfaatkan untuk berbisnis juga.

Sosial media bukan menjadi hal baru lagi memang. Keponakan saya yang sudah menginjak bangku SMP saja sekarang sudah membuat akun facebook dan instagram. Saya sebagai golongan generasi millenial senyum-senyum sendiri. Mereka sudah besar, jelas saya tidak bisa melarang mereka menggunakannya. Saat ini saya sudah cukup bosan, karena sudah lama berkecimpung bermain sosial media, tapi bagi mereka itu adalah hal yang sedang asyik untuk digandrungi, karena bagi mereka itu adalah hal yang baru.

Segala sesuatu yang sudah ditekuni dengan waktu yang cukup lama memang kadang membosankan. Saya mulai bosan dengan facebook, twitter, line, akhirnya saya uninstall aplikasi-aplikasi tersebut. Meski sesekali saya menengok aplikasi tersebut lewat chrome. Saya kemudian beralih pada media yang memang saya sukai untuk melakukannya, hal tersebut sedang saya tekuni belakangan ini : menulis dan menjadi seorang Blogger.

Kenapa Menulis?

Saya memiliki keyakinan bahwa menulis itu adalah sebuah obat atau sarana untuk refleksi. Ada banyak sarana untuk menulis sebenarnya, dan hampir kebanyakan dari setiap platform memberikan wadah bagi penggunanya untuk menulis. Bisa dilihat dari adanya caption yang harus ditampilkan pada Feed Instagram, membuat status pada WhatsApp Status, mencurahkan tulisan dalam Kolom What’s on your mind di beranda Facebook, dan pada berbagai  platform lainnya.

Semakin kesini, orang tak hanya menuliskan kata-kata dalam platform sosial media mereka. Lebih dari itu, saat ini semakin ramai orang-orang membuat akun youtube untuk menjadi Vlogger (Video Blogger) atau media audio seperti Podcast yang semakin banyak digandrungi oleh khalayak Indonesia saat ini. Saya akui, teknologi memang semakin canggih. Kita sebagai penggunanya jelas perlu memanfaatkan kesempatakan tersebut sebaik mungkin.

Akan tetapi, semakin beraneka macam sarana, baik berupa tampilan video, suara maupun tulisan, saya merasa bahwa melalui tulisan adalah hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan. Kenapa menulis?

Tentu tidak bisa disamakan alasannya, tapi bagi saya menulis itu sangat menyenangkan. Berikut ini ada beberapa alasan yang akan saya utarakan.

Alasan pertama saya, karena tidak membutuhkan banyak modal. Cukup membuat platform dan diisi dengan tulisan kita. Tentu tidak susah untuk melakukannya, media menulis bisa dilakukan lewat media yang selalu kita genggam kemana-mana, ialah gawai.

Alasan kedua, merunut kata demi kata itu adalah hal yang sulit tapi menyenangkan. Saya suka tidak sadar sendiri ketika membaca kembali artikel saya yang sudah bertahun-tahun lalu, lalu geli, kok malu, tapi sayang sekali untuk dihapus. Ini adalah proses belajar bagi saya. Tulisan yang sudah berlalu itu adalah hasil belajar saya. Jelas harus dihargai.

Alasan ketiga, dengan menulis maka mau tidak mau kita akan belajar lagi, dengan adanya keinginan belajar, maka kita akan membaca lagi. Menulis dan membaca adalah keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan memang. Dengan menulis ada kemanfaatan bagi saya, dan semoga pula kemanfataan bagi mereka yang membacanya.

Alasan keempat, meski kadang tidak masuk akal, tapi saya mengakui hal ini berhasil mengobati saya, terapi kewarasan. Bahkan ada banyak penulis yang sudah membuktikan demikian pula. Merawat fikiran dan otak agar tetap waras salah satunya bisa dengan menulis.

Menulis lewat blog dan kekuatan kata sebagai identitas blogger

credit picture : pexels

Blog adalah salah satu media yang mewadahi mereka yang hobi menulis. Saya sendiri memulai blog sejak 2012 dan saya simpan sendiri. Tentu saja tulisan masih acak-acak dan isinya masih sebatas curahan hati. Baru akhir tahun kemarin, saya kembali bermain blog dan memberanikan diri untuk menyebarkannya ke ruang publik. Bahkan lewat tulisan ini saya beranikan diri untuk mengikuti sebuah lomba pertama yang saya ikuti sebagai Blogger. Semoga menjadi awal yang baik ya.

Menyebarkan tulisan ke ruang publik adalah hal yang cukup besar buat saya. Ada banyak konsekwensi yang muncul. Tulisan kita mungkin akan dikritik dan dikomentari. Lalu, seringkali merasa tulisan masih buruk dan merasa minder. Tapi, teringat pesan Dosen saya, ‘Jika ingin tulisanmu bagus, bagilah pada ruang publik. Terimalah kritik dan saran mereka’.

Nyatanya, setelah saya memberanikan diri menyebarkannya pada ruang publik, respon negatif tidak saya dapatkan. Justeru yang ada, saya mendapati banyak teman, banyak referensi dari teman-teman Blogger, dan banyak ide yang bermunculan untuk kemudian dituliskan.

Menulis lewat blog menjadi sarana yang menyenangkan, apalagi di era digital seperti saat ini. Meski ada banyak platform yang menawarkan berbagai kemudahan dan keasyikan, blog menjadi wadah yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi para penggunanya. Maka di tahun 2019 ini saya akan berusaha untuk lebih menekuninya dan mencari sisi niche yang cocok dengan saya. Jujur, karena saya menulis masih sekedar ingin menuangkan fikiran saja.

Tidak heran ya, bagi mereka yang menekuninya, ada banyak pundi-pundi rupiah yang didapatkan. Tapi tentu, hal tersebut adalah bonus. Hal lain yang menyenangkan dari dunia blog adalah keasyikan mengutarakan maksud dalam untaian kata demi kata. Sehingga, semisal kita mengulas satu produk antara Blogger satu dengan Blogger yang lainnya jarang ditemukan kesamaan tulisan, tapi satu tema.

Hal unik yang saya temukan dari blogwalking adalah setiap Blogger memiliki ciri khas sendiri dalam cara pengutaraan tulisan, maupun model penulisan. Baik tulisan formal maupun yang lebih bersifat personal itu adalah salah satu Personal Branding yang ditawarkan oleh kita sebagai Blogger.

Merunut kata demi kata menjadi sebuah postingan blog bahkan membuat blog yang memiliki niche tertentu adalah hal yang sedang saya pelajari belakangan ini. Tidak mudah ternyata menguraikan kata demi kata tersebut. Meski pembaca kebanyakan tidak membaca postingan sampai selesai, seorang Blogger mencoba untuk memberikan tulisan terbaik demi kepuasan bathinnya sendiri.

Dengan jerih payah dan usaha agar tulisan menjadi ciri personal branding seorang Blogger, maka tentu seorang penulis yang berprofesi apapun akan sangat tidak setuju pada sebuah tindak kejahatan yang bernama plagiat. Kata-kata adalah kekuatan, dan kekuatan dari seorang Blogger adalah kata-kata dan gambar.

Mari hargai setiap kata. Ciptakan kata-katamu dalam berbagai cerita. Tetapi jangan lupa sertakan sumber kata, fakta dan gambar jika hendak menggunakannya. Karena susunan kata adalah sebuah karya, dan setiap kata memiliki makna.  

9 thoughts on “The Power of Word as a Blogger”

  1. Baca paragraf terakhir seolah ada suara Najwa Shihab yang baca. Hahaha…

    Setuju dengan setiap Blogger (yang gak Copas) memiliki pilihan cara untuk menuangkan ide pikirannya. Gaya bahasanya, cara penulisannya terasa berbeda.

  2. Hi Mba Ghina, salam kenal..setuju banget menulis memang obat dan terapi yah alhamdulilah ada platform blog yang bisa mewadahi semoga terus semangat menulis yes mba 🙂

  3. wkwk, emang najwa gitu ya mbaaak. ini mh najwa kw xx. asik curhat nih, tapi emang kok orisinalitas itu mahal harganya.

  4. Setuju banget mbak. Menulis emang terapi buat diri. Yap, pundi-pundi rupiah itu bonus. Makasih sharingnya mbak. Salam, muthihauradotcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *