Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Apa yang Istimewa dari Menjadi Seorang Blogger?

4 min read

privilege sebagai seorang blogger

Sebagai seorang blogger generasi pandemi, iya karena baru bangkit, serius, dan menekuni blog malah saat pandemi, saya merasakan bahwa menjadi blogger itu membanggakan dan istimewa di hati ya. Saat orang bertanya kamu sebagai apa? saya jawab saja, blogger. Mana karyamu? langsung aja sodorkan alamat blog saya. Bangga kan? Bangga donk.

Kalian yang jadi seorang blogger bangga juga kan dengan tulisan, kreativitas, ide, dan karya, desain, serta mungkin bahkan popularitas yang didapatkan?

Dengan modal suka nulis di diary, nggak disangka akhirnya saya bisa keidean buat blog. Kalau orang-orang banyak terinspirasi dari orang lain, dari tugas sekolah atau kuliah, sementara saya tahu karena mencari tempat pelarian.

Iya, pelarian. Sebuah dambaan banget dulu tuh untuk punya tempat menuangkan segala perasaan tapi nggak hilang karena terbakar, basah atau sobek. Ya, meskipun blog juga bakal hilang sih ini kalau nggak diperpanjang mah hostingnya. wkwk

Kalau ingat awal ngeblog, ada banyak sekali tulisan yang saya simpan private jika memang hanya ingin saya simpan sendiri. Sementara yang sengaja ingin banyak orang baca, saya pun publish.

Seiring berjalannya waktu, ada banyak hal yang pelajari, baik dari teman-teman blogger, kelas blog, maupun pengalaman saya sendiri selama menggeluti blog. Meski ada banyak media sosial sekarang ini, tetap yang ternyaman untuk menuangkan unek-unek itu lewat blog.

Blog untuk Mewujudkan Mimpi

Perjalanan pulang kampung saat Abah wafat kemarin menjadi momen saya untuk mengubek-ubek tulisan pertama saya di koran. Tulisan pertama saya yang diterbitkan di media itu sama Abah diabadikan. Langsung beliau gunting bagian tulisan saya dan beliau taruh potongan koran tersebut dalam sebuah frame foto.

Sayangnya saya tidak menemukan frame foto tersebut.

Saya jadi ingat, dulu saya pernah bilang ke Abah, saya suka menulis, mungkin suatu saat pekerjaan saya akan akrab dengan kegiatan tulis menulis. Saya lega telah mengatakan minat saya. Namun sayang, tidak bersambut dengan support, tepuk tangan, atau kebanggaan sebagaimana anak-anak mengharapkan pujian orang tuanya. Abah langsung menimpali kata-kata saya dengan sebuah peringatan : ‘ Hati-hati, jangan menulis hal yang terlalu mengkritisi. Bahaya, karena jejak tulisan itu tidak bisa kita hapus’.

Meski tak merasakan sanjungan, tapi Abah kemudian memperkenalkan saya dengan koleganya yang bekerja di koran lokal. Selain itu, setiap saya pulang kampung saat kuliah dulu, saya selalu diajak untuk ikut kegiatan Abah, baik bertemu kolega, menemani acaranya Abah, maupun sekadar jalan-jalan untuk menemaninya jum’atan.

Baca juga : Mendapatkan Uang dari Blog, Emang Bisa?

Saat saya mulai menekuni blog, sayangnya saya belum sempat menceritakan hal ini kepada Abah, hingga kemarin beliau sedo pun belum tahu. Setelah sering sakit, saya baru sadar juga bahwa kami jadi jarang sekali menceritakan hal-hal remeh, setahu beliau, saya masih sibuk untuk mengurus anak saja.

Mimih, panggilan saya untuk ibu, pun kemarin saat saya perkenalkan dengan pekerjaan saya sebagai seorang blogger. Saya tunjukkan pula website dan beberapa tulisan saya. Cukup sulit untuk beliau memahami pekerjaan saya dan cara kerjanya.

Namun saya mencoba meyakinkan, pekerjaan ini memang bukan pekerjaan utama karena saya masih ingin menjadi ibu penuh waktu untuk anak, penghasilannya juga tak tentu tiap bulannya karena saya merupakan ibu penuh waktu. Tapi, blog menjadi aktualisasi saya untuk mengolah hobi dan mengepakkan kemampuan saya lebih luas. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari blog.

Mimih pun menganggukkan kepalanya. Dengan berbagai cerita dari keenam anak perempuannya, Mimih sadar membesarkan anak sekarang ini memang tidak mudah. Mau jadi ibu rumah tangga maupun kerja kantoran selalu ada konsekwensi yang berdampak pada kondisi anak, begitu tanggapan beliau.

Bekerja dari Rumah dan Jadi Ibu Penuh Waktu

blog ghinaramatika.com

Sebenarnya kalau teringat dengan ijazah, saya tiba-tiba suka menyayangkan, bahwa saya belum saya sekali menggunakan ijazah tersebut untuk daftar kerja.

Sempat bekerja jadi guru, tak perlu syarat ijazah karena memang bentuknya adalah pengabdian atas beasiswa saya dulu. Pun, ijazah saya kala itu masih tertahan. Baru saya terima setelah saya selesai mengabdi.

Selain itu, kadang saya juga menerima beberapa pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah bermodalkan relasi dan kepercayaan dari teman-teman saya sewaktu kuliah, dan juga kolega suami yang mempercayai kemampuan saya berdasarkan bekal menjuarai kompetisi yang saya ikuti sewaktu kuliah.

Menggeluti blog tentu saja tak membutuhkan ijazah. Tapi lebih dari itu, sekarang ini para pakar bilang bahwa lebih utama portofolio saat akan mempekerjakan seseorang. Ada bukti pekerjaan yang telah kita kerjakan dari kemampuan yang kita miliki.

Tetap menjadi ibu penuh waktu dan bekerja di rumah tentu bukan hal layak untuk diglorifikasikan. Bersyukur iya tentu saja. Namun saat menjalani pekerjaan yang dikerjakan di rumah, saya justru seringnya iri dengan suami yang bisa bekerja di luar meski sama-sama menulis.

Membagi waktu untuk menulis ternyata tidak hanya ‘cuma nulis’, thok. Butuh waktu khusus. Malam mungkin jadi waktu yang enak saat semua terlelap, tapi saya sudah kapok sakit kepala gegara begadang. Masih mengupayakan diri untuk bekerja di depan laptop dengan tanpa mengurangi kualitas waktu dengan anak.

Satu Kesempatan Membuka Banyak Kesempatan

Ada yang nggak setuju dengan hal tersebut? Hmm, sini deh, saya bisikkan cerita tentang hal tersebut.

buku antologi terbaru ghina
Ada tulisan Ghina di buku Narasi Keadilan Ekologis

Suatu ketika saya menulis tentang pengalaman saya membuat makanan, eh tiba-tiba beberapa hari kemudian ada email yang menawarkan kerja sama penulisan artikel tentang bahan makanan. Suatu ketika suatu komunitas mengajak saya bergabung dengan komunitas, eh saya malah jadi host suatu acara, padahal saya nggak punya pengalaman itu, lalu kemudian saya belajar. Ada lagi sewaktu ikut pelatihan atau lomba, eh ternyata tulisan saya dibukukan bersama para peserta yang lain.

Cerita tersebut adalah beberapa pengalaman berarti yang mengajarkan kepada saya bahwa blog memang tidak sekadar untuk mencurahkan keresahan lagi sekarang. Bahkan bisa jadi perantara rezeki, silaturahmi, hingga prestasi.

Hal yang benar-benar di luar dugaan sih.

Tulisanmu Adalah Harimaumu

Seringkali ketika saya sedang malas sekali beberes rumah, atau kalap pengen beli barang, atau malas untuk memilah sampah, atau tulisan tentang produktifitas itu muncul tiba-tiba beberapa postingan blog yang sudah saya tulisan datang menghampiri. Mengingatkan saya seakan-akan mengatakan ‘ Hei, kamu jangan jarkoni’.

Tahu kan artinya jarkoni? ngajari tapi ora ngelakoni.

Beberapa tulisan ada yang hanya teronggok di draft saja karena saya merasa tidak mampu menyelesaikannya. Bukan sebab susahnya merangkai kata, tapi susah untuk mewujudkannya.

Beberapa kali saya berkehendak bahwa saya ingin tulisan saya di blog ini bermanfaat. Namun sayangnya, kadang saya seperti menghakimi. Merasa diri benar malah yang ada. Please, CMIIW ya, gais. Jadi sepertinya menulis blog bukan hanya tentang kemanfaatan ya, tapi lebih pada wadah untuk bercerita, membagikan hal yang saya rasakan, dan tentu saja hahaihihi atau thought yang nggak jelas.

Kalau ada manfaatnya monggo diambil, kalau nggak ada yang baca aja sampai kelar. Haha

Menciptakan Harapan

Sebagai blogger, tentu saja kita nggak bisa memprediksi penghasilan yang akan kita dapatkan. Namun dari perjalanan tersebut, saya jadi belajar lebih tentang menciptakan harapan dan bahagianya ketika harapan itu terwujud.

Karena ketidakjelasan juga, jadi saya mengupayakan bahwa setidaknya ada perkembangan satu persen saja dari hasil yang saya usahakan. Dari ketidakjelasan itu pula, saya hobi untuk menyusun banyak goal. Seru ya ternyata.

Apa kamu tertarik jadi blogger?

Begitu kira-kira kprivilese yang saya rasakan setelah dua tahun serius jadi seorang blogger. Tentu pengalaman saya di atas masih belum seberapa. Saya sendiri masih harus terus mengolah kemampuan, berani berkompetisi, dan komitmen yang lebih serius dalam menggarap blog ini.

Setelah baca, kamu yang blogger merasakan hal demikian juga nggak ngais? Yuk, cerita di kolom komentar.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

22 Replies to “Apa yang Istimewa dari Menjadi Seorang Blogger?”

    1. Makin rajin lah, seenggaknya tiap minggu ada satu dua biji yg diposting gitu mas. Meski udah ngeblog dari lama dulu mh ga serius, setahun bisa diitung.
      Tapi tentu saja PR nya masih bnyk kalau mau lebih serius, entah itu urusan bw, urusan seo, dan meningkatkan skill yg terkait dgn blog

  1. Doakan ya mbak, tahun ini aku akan mencoba sebisa mungkin untuk istiqomah ngeblog dan menjauhi writers block, hehehe. Yang kurasakan, blog ini makin kesini bisa jadi self healingku juga. Jadi media tumpahan ide dan gagasan yang melegakan kepala, dan di sisi yang sama bisa jadi manfaat untuk sesama. (Alhamdulillah lah, kalo ada yang suka)

    Tapi sayangnya, kerjasama kerja sampai sekarang belum banyak kuterima. Mungkin seiring waktu aku rajin nulis, aku akan dapat tawaran dan pendapatan ya kak. Amiiin

    1. Semoga makin lancar rejekinya mas. Nggak mesti dari ngeblog mgkn dr yg lain juga ada.

      Aku pun nulis ginian lagi writer’s block, terus keinget ada ODOP yg belum ku selesaikan mengenai privilege blogger, jd kutulis ttg ini deh.

      Semangat ya.. Kesempatan lain datang dari kesempatan yg tak kita sangka.

  2. Hai, Mba! Postingan kita sama, ya. Vibesnya gimana blog itu spesial banget. Buat Aku, Blog itu udah kaya separuh jiwaku.. Meskipun update blog udah jarang banget! Tapi setiap ada masalah yang ngga bisa diceritakan, pasti dibahas di Blog. Muehehehe…

    Meskipun kadang mikir, ada yang baca ngga, sih? Tapi tetap aja nulis. Setidaknya kalau Aku udah ngga ada, teman-teman yang mungkin rindu bisa mampir. hiyyaaaa

    Karena menulis adalah cara kita agar dapat terus dikenang..

    1. Hai juga Mba Vina. Iya nih samaan. Tulisan kayak gitu biasanya buat penyemangat lagi nih kalau udah lama nggak menyapa blog atau writer’s block.

      Aku dlu malah suka takut tkalau ada yg baca, makanya di blog dan ga di share mbak. Hihi

      Dikenang dan mengensng ya mbak. Tentunya kalau kita perpanjangan hosting terus. Hihu

  3. Menulis di blog buat saya juga bisa buat healing sih. Ya, awal menulis karena buat mencurahkan semua rasa yang bener-bener udah gak tahu mau cerita ke siapa. Jalan akhirnya ya nulis di blog. Dan jadi ketagihan deh ngeblog sampai sekarang, meski ya sama, jarang update juga. Hehehe. Tapi semua itu, blog memang istimewa. 🙂

  4. saya ngaku blogger tapi nulisnya jarang.. malu akutuuuu… makanya saya lebih menyebut diri saya sebagai content creator… meski jarang nulis tapi saya akui saya menemukan keasyikan sendiri kalo menulis.. moga sik ke depannya saya lebih rajin menulis… semangat ngeblog ya mbak

    1. Aaamiiin Mbak Yayat. Aku malah bingung kalau mau ngakuin sbg content creator karena bikin kontennya masih mood mood-an, apalagi kalau ig abis hiatus, mulainya syusyeh eiy

  5. Yeaaayy, kereeenn Mbak, selain itu semua ngeblog juga butuh komitmen dan konsistensi biar kita tetap eksis dan selalu di hati *eaaa.
    Tapi Mbak Ghina mah udah keren doong, apalagi udah diajak kerjasama gitu ama komunitas langsung jadi host saat acara pula, kalau saya mah masih malu-malu meong kalau harus ngomong di depan umum, hihihih

    1. Ya ampun mbak diah, aku tuh sbnrnya malu bgt utk ngmg depan umum. Wkwk apalagi bbrpa kali Nahla ikutan nimbrung lalu aku blank lupa mau ngmgn apa 😄

      Tapi beneran sih abis gt aku malah ketagihan, meski kelemahanku buat ngmgn depan umum tapi ternyata melatih public speaking itu menyenangkan

  6. tampaknya jadi bloger tidak prestis saat disampaikan ke ortuu, sama kayak ortuku menganggap bahwa kerja dg gaji tetap itu terlihat mewah dan menjamin masa tua , alhamdulillah seiring waktu berjalan menjalani peran sebagai. orang tua harapannya bisa membersamai anak tumbuh kembang akhirnya mereka mengakui kerja di rumah ternyata pilihan yang tepat alhamdulillah salah satunya sebgai bloger ini

    1. Prestisius nggak subjektif sih ya mbak.. Ya itu mgkn memang mindset kerjaan seperti CPNS itu lebih menggiurkan apalagi ada jaminan masa tua. Tp kmrn lgsg jg ku sodorkan finplan dan invest yg udah kubuat utk masa tua biar utk meyakinkan ortu..

  7. Jarkoni. Ngajari tapi ora ngelakoni.

    Plak. Plak. Plak. Rasanya aku ikut tertampar. .

    Pesan yang disampaikan almarhum Abah-nya Kak Ghina, benar adanya. Terlalu mengkritisi itu agak riskan. Apalagi tulisan yang sudah dibuat, nggak bisa dihilangkan dengan mudah. Apalagi kalau sudah dibaca dan diingat oleh para pembaca.

  8. Selamat ya Mba Ghina tulisannya sudah ada dalam bentuk antologi. Sebuah pencapaian yang tidak mudah. Saya ngeblog menjalani aja sih Mba Ghina, harapannya ya bermanfaat apa yang ditulis paling nggak untuk mengingat kan diri sendiri. Yang hepi ngeblog tuh dapet cuan Mba heheh resign 4 tahun dari kerjaan hidup saya dibayarin duit ngeblog

  9. Kalau saya menulis cuman share, bahkan berkali notice di tulisan, meski udah ada di disclaimer blog, bahwa apa yang saya tulis itu versi saya, opini saya, pengalaman saya, tentu saja tidak mutlak benar untuk semuanya.
    Paling aman sih menurut saya, ya cerita aja, masalah orang mau ikutin atau enggak, itu kembali ke pembaca, kecuali memang sponsored ya, itupun dilakukan sehalus mungkin hehehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!