catatan ramadhan

Kenangan Baju di Hari Raya

Saat malam jelang lebaran, Ibu masih khusyuk di depan mesin jahit tua itu. Kami pun menemani dengan setia, menunggu baju lebaran kami jadi.

Menjelang lebaran, ibu sibuk mengukur kain-kain yang akan dibuat baju untuk kami bertiga. Prinsip Ibu, selama bisa dibuat oleh sendiri, kenapa pula harus membeli. Hitung-hitung menghemat juga. Sementara kami, tentu belum mengerti alasannya, kala itu. Hanya saja, memang kakak-kakak kami juga mengenakan baju buatan Ibu, atau buatan mereka sendiri. Memiliki keterampilan memang hal yang cukup ditekankan oleh Ibu kami.

Suara deru mesin jahit masih menjejali malam kami, saat itu. Dengan setia, meski terkantuk-kantuk, ibu terus berkomat-kamit membaca segala lafadz-Nya sembari menggenjotkan kaki pada mesin jahit tersebut. Kami, menemani dengan setia. Sembari menggerutu, meminta baju itu lekas jadi.

Hingga malam semakin larut, Ibu tetap khusyuk mengayuhkan mesin jahit tersebut. Ditengah temaramnya lampu. Ditemani sayup-sayup suara takbir, dan singgahan nyamuk yang meramaikan malam. Benar-benar menjadikan malam-malam lebaran kala itu penuh kenangan.

Semakin larut malam, baju belum juga kelar. Ibu sudah mulai terkantuk-kantuk, begitupun juga dengan kami. Tapi Ibu terus saja mengayuhkan kaki pada mesin jahit tua warisan simbah tersebut. Kegiatan-kegiatan lainnya seperti memberi oli, menyulam jahitan, mengkancingi baju, acapkali Beliau lakukan sendiri.

 Terkadang sesekali beliau memanggil kami untuk memasukkan benang ke dalam jarum, atau sekadar meminta kami untuk memasang kancing baju. Beliau sangat antusias membuatnya. Kami diminta bantuan saja banyak menggerutunya. Sungguh tak tahu malu sekali. Hingga malu sekali rasanya jika diingat-ingat kembali.

pexels

 Hal yang paling ditunggu bagi kami justeru ketika Ibu meminta kami mengenakan baju tersebut. Itu tandanya proses pembuatan baju sudah hampir selesai. Muka kami sudah mulai berbinar-binar. Ada kebahagiaan, karena berarti esok hari saat lebaran kami bisa mengenakan baju baru. Baju baru buatan Ibu. 

Malam-malam lebaran kami di masa kecil selalu berlalu seperti itu. Mengharap baju jadi sempurna kala hari lebaran datang pun sangat jarang dirasakan. Tetap saja ada yang masih kurang. Baju belum terkancing, hingga akhirnya kami ganti dengan peniti. Leher baju belum jadi seutuhnya, tak mengapa kami pikir, karena tertutup oleh kerudung. Jahitan baju yang belum diobras, bahkan sudah biasa kami rasakan.

Kami, memakai baju lebaran dengan berbagai rasa. Senang, tentu saja. Karena akhirnya kami bisa mengenakan baju baru kembali. Sedih, seringkali datang. Apalagi saat kami menemukan ada beberapa cacat di bagian-bagian tertentu baju baru kami. Sementara saudara-saudara sepupu kami tentu saja mengenakan baju hasil beli jadi dari toko yang model jauh le ih bagus daripada baju kami.

Semalaman, Ibu seringkali tidak tidur. Atau mungkin hanya tidur sebentar saja. Pagi menjelang, kerapkali kami masih disibukkan dengan urusan baju lebaran. Sementara Ibu masih berkutat di dapur. Menyiapkan hidangan opor special untuk kami. Baju lebaran kami, agar terlihat rapi dan menawan, kami setrika dengan tekun. Jikala waktu sudah tidak sempat, kami letakkan baju tersebut di bawah kasur. Hitung-hitung disetrika oleh kasur. Cara sederhana saat malas melanda, tapi ingin terlihat rapi.

Tentu, kenangan manis itu tidak akan terjadi tanpa perjuanganmu, Ibu. Terima kasih banyak, Ibu.

Sejak saat itu, memaknai lebaran dengan baju baru, bagi kami adalah perjuangan. Dengan segala proses dan cerita-cerita yang dilalui setiap lebaran kala itu. Bermakna. Sangat bermakna. Muncul rasa menghargai dan menilai bahwa keberadaan baju lebaran memanglah momen sakral yang mahal untuk dirasakan.  Kami tentu tidak boleh melupakannya.

Karena kini, tak ada lagi momen seperti itu. Kini semua hanya tinggal beli jadi. Cukup menyempatkan diri berkunjung ke sebuah toko. Membeli baju yang dipilih. Lalu pulang tinggal mencuci bajunya. Itupun jika sempat dan mau. Jika tidak, esok lebaran, bisa saja langsung mengenakannya. Toh, baju baru dari toko ini. Tentu sudah terlihat rapi, bukan?

Lebaran dengan mengenakan baju baru tentu bukanlah suatu kewajiban. Apalagi jika membuat kita lalai pada inti makna fitrah pada kata idul fitri itu sendiri. Tapi, semestinya memang tidak ada dari kita, dari orang-orang terdekat kita, yang bersedih. Entah, sedih karena tidak merayakan hari yang fitri dengan tidak mampu membeli baju baju, atau tak adanya hidangan spesial untuk disantap di hari raya ini. Semoga kebahagiaan kita mampu memberikan kebahagiaan pula pada orang lain, dengan berbagi.

2 thoughts on “Kenangan Baju di Hari Raya”

  1. baca ini jadi keinget baju-baju lebaran yang dulu dibuatkan ibu. jadi, tiap menjelang hari raya, biasanya ibu beli kain, gambar modelnya, dan bikin pola ke temennya. setelah itu, biasanya jahit-jahit sendiri. model dan motif kain biasanya sama buat aku sama adek. katanya, biar nggak iri-irian kalo beda.

    tahun ini ngerasain lebaran mandiri. mulai nyiapain ini itu untuk lebaran semuanya sendiri. nggak sampai bikin kue, apalagi baju lebaran sendiri sih. tapi rasanya udah banyak banget energi yang keluar untuk itu. ibu memang luar biasa. bisa ya kayak gitu itu.

  2. Waaah ternyata mbak Lelly merasakan hal tsb juga. Kirain cma aku doank. Hehe. Tapi emang berkesan bgt ya mbaaak. Baju kembaran tiap lebaran sampe dibilang kumpulan anak panti. Hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *