Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Ramadhan, Al-Qur’an, dan Relijiusitas Kita saat Pandemi

2 min read

IMG 20190328 092820
Ramadhan, Al-Quran dan relijiusitas saat pandemi

Saat ramadhan datang, alunan ayat suci AL-qur’an kian menggaung di setiap tempat ibadah umat muslim. Relijiusitas umat muslim nampak menonjol dibanding bulan-bulan lainnya. Tak dinyata, pandemi membawa suasana yang nyata berbeda pada ramadhan kali ini.

Refleksi Relijiusitas saat Pandemi

Suasananya sungguh sangat berbeda.. Berbeda karena tidak adanya berbagai alunan dan perayaan. Semua berubah dikarena adanya virus berbahaya. Kita pun merasa kehilangan nuansa Ramadhan itu sendiri.

Seperti kita ketahui, Ramadhan akan penuh dengan berbagai alunan dari setiap penjuru. Ba’da subuh dan menjelang maghrib biasanya diramaikan oleh kegiatan ceramah. Adapula yang mengisi dengan suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kini, kita kehilangan suara-suara itu.

Dalam segala kesepian yang muncul kini, saya pun mencoba merefleksi diri. Bisa jadi, keramaian-keramaian itu pun hanyalah samar. Kita mendengar, tapi kita tak merasakannya. Kita mendengar, tapi kita tak mendapati secuilpun pengetahuan baru darinya.

Baca juga : Budaya Ramadhan yang dirindukan

Saya dan kita semua sering sekali menyatakan rindu, rindu pada Ramadhan. Tapi, ketika rindu itu menyapa, kita hanya sedikit memperhatikan.

Sering pula, kita mencoba tetiba mengubah kebiasaan, tadarus-tadarus berlama, sholat sunat berkali-kali, mendengarkan berbagai pengajian, demi mengejar pahala-pahala yang tercecer dimana-mana. Tapi, kita lupa bahwa ibadah tidak hanya sekadar sholat dan mengaji semata.

Bisa jadi kita masih menyambut Ramadhan seperti kanak-kanak. Ataukah karena memang sedari kecil kita hanya diimingi-imingi oleh pahala? Kita mentotal semuanya dengan jumlah pahala? Yakin, dapat pahala?

Minggu kemarin, saya mencoba melihat-lihat keadaan Al-Qur’an saya. Sudah sangat lusuh, banyak coretan jejak coretan dimana-mana, dan beberapa bahkan ada yang hampir sobek. Al-Qur’an pink ini sudah menemani saya selama hampir 10 tahun.

Momen yang tidak akan dilupakan dari Al-Qur’an tersebut ialah, dibelikan oleh Mimih dan Abah, dipilih atas sarana mereka berdua. Ada restu mereka untuk mendorong, mendoakan dan mengingatkan saya agar menjadi seorang Hamilul Qur’an.

Tidak salah lagi, Al-Qur’an itu sangat bersejarah. Sudah banyak sekali menamani segala kegiatan saya kemanapun saya pergi.

Tiba-tiba, suami menyarankan saya untuk membeli Al-Qur’an yang baru. Alasannya, karena mata saya sudah minus banyak, jadi perlu ukuran yang lebih besar agar lebih mudah melihatnya.

Alhasil, bukannya saya langsung mengiyakan. Malah saya mencoba untuk melihat keseluruhan kondisi Al-Quran tersebut.

Selama ini saya menikmati segala coretan tersebut. Saya juga tidak mempermasalahkan beberapa lembar yang sudah hampir sobek. Saya hanya membuka bagian yang akan saya baca, lalu menutupnya kembali.

Di Bulan turunnya Al-Qur’an ini, bukannya saya menarget untuk lebih banyak membuka halaman, tapi saya hanya ingin lebih banyak menggenggamnya daripada membuka-bukanya terus.

Lalu, ketika melihat berbagai postingan dan ghirah teman-teman yang menarget sekian halaman dan sekian kali khatam selama ramadhan, saya justeru tertegun. Alhamdulillah, masih ada banyak yang semangat membacanya.

Tapi, saat melihat video Quraish Shihab tentang tadarus, saya merasa sangat tertampar. Tadarus, beliau artikan sebagai kegiatan bersama Al-Qur’an, yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, untuk mempelajari ayat-Al-Qur’an, memahami makna disebalik ayat yang tersurat tersebut, dengan berulang-ulang.

Waduh, saya belum pernah sama sekali melakukan ini. Hiks. Interaksinya selama ini masih hanya sekadar membaca secara harfiyah, belum secara maknawi, apalagi tafsiri.


Jadi, apakah sebenarnya harus dilakukan oleh seorang Muslim untuk menyambut Ramadhan dengan gembira dan senang hati?

Saya sendiri masih belum jawaban pastinya. Karenanya saya mencoba bertanya pada suami. Beliau bilang: Nilai relijiusitas apa yang sudah ditingkatkan untuk kemudian ditindaklanjuti seusai Ramadhan berlalu?

Kepada Tuhan, dengan segala kemampuan yang sudah kerahkan, tadarus, sholat sunnah, mengutamakan hal-hal yang mengundang pahala kebaikan, kita sudah lakukan. Meski entah, apakah kita sudah benar-benar menikmatinya dengan penuh atau terpaksa.

Lalu, bagaimana dengan perubahan sikap kita kepada sesama? Bagaimana mengendalikan prasangka, niat dan lelaku. Bagaimana menghargai ilmu, dan guru. Bagaimana?

Ah, bahkan yang sering terlewatkan lagi. Bagaimana dengan sikap kita terhadap alam? Tentu, virus ini sudah banyak menimbulkan berbagai perubahan pada perilaku manusia yang sudah sering mengabaikan kesehatan bumi. Segala ciptaanNya kini semakin menunjukkan diri bahwa merekalah yang merupakan tuan rumah, dan kita hanyalah tamu.

Relijiusitas harus mampu mencakup keseluruhan. Tapi, sampai saat ini kita masih melakukannya setengah-setengah.

Meski demikian, semoga Tuhan maklumi. Mampu hambanya memang tidak seberapa. Karenanya Tuhan paham, selama sejengkal mendekat, Dia akan selangkah lebih dekat. Semoga kita ingat untuk terus mendekat, mendekap erat, hingga liang lahat. Aamiin.

Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan

Kamis, 19 Ramadhan 1441 H/ 12 Mei 2020

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

7 Replies to “Ramadhan, Al-Qur’an, dan Relijiusitas Kita saat Pandemi”

  1. Qur’anku jg penuh coretan, tetapi setelah menikah aku menggantinya dengan qur’an mahar yang suamiku berikan yang memang sedari awal aku yg memilih qur’an ini agar aku mau mengganti yang lama dengan yang baru. Sedang qur’anku yang lama ttp aku gunakan untuk setiap kali persiapan tadarus untuk setoran. Nice sharing mbak

  2. Sebetulnya targetnya adalah meningkatnya kualitas hubungan antara saya dengan Allah – kalau saya pribadi seperti itu. Bahwa relationship saya dengan Allah di hari terakhir Ramadhan harus lebih baik dari hari pertama Ramadhan. Bahwa hari akhir Ramadhan adalah pintu gerbang to the new and better version of myself. Meningkatkan kualitas relationship dengan cara mengejar cinta-Nya, yakni melakukan segala yg Dia mau saya lakukan, dengan target agar Dia makin cinta sama saya – ridha sama saya. Salah satunya adalah dengan membaca Al Quran, menurut saya. Karena dengan melafadzkan adhkar-Nya, kt akan senantiasa mengingat-Nya. Added bonus adalah pahala, walau ga mau memungkiri bahwa itu juga yg jadi tujuan saya karena itu adalah token atau nilai tukar dari amal yg saya kerjakan.. Karena saya gatau amal saya yg mana yg bakal bawa saya ke surga-Nya Allah. May as well do everything that I can to achieve His love. Target akhirnya kan kembali ke surga-Nya Allah.. Dan itu ga mudah :”)) Makasi tulisannya Mba. Mind intriguing banget. Salam kenal, saya Yofara 🙂

    1. Wah nice sharing juga Mbak Jov. Kita udha kenalan kok di posting Mbak sblmnya. Hehe. Semoga setelah ramadhan, relijiusitas kita masih bisa dipertahankan yaa..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!