Minimalist

3 Langkah Mudah Memulai Hidup Minimalis


Kian kemari, semakin banyak orang-orang yang memiliki ketertarikan kuat pada hidup minimalis. Kejenuhan pada materi dan pikiran-pikiran yang memang tak seharusnya difikirkan membuat minimalis menjadi pilihan yang dianggap tepat. Lalu, bagaimana seharusnya untuk memulai hidup minimalis?

Awalnya, saya fikir hidup minimalis berarti memiliki sedikit barang. Makanya, beberapa pengikuti minimalis bilang bahwa minimalis adalah hidup miskin gaya baru. Miskin gaya baru karena barang yang dimiliki tidak banyak.

Hal tersebut sejalan dengan pendapatnya Joshua Becker. Dia bilang bahwa minimalis berarti hidup dengan barang-barang yang kita butuhkan saja.

Dengan memiliki barang-barang yang hanya kita butuhkan, fokus fikiran akan lebih leluasa untuk memikirkan hal lain yang lebih penting, seperti menambah pengalaman, pengetahuan baru, koneksi baru, dan lain sebagainya.

Pemahaman tentang minimalis memang sangat beragam. Baik Mari Kondo, Fumio Sasaki, Joshua Becker ataupun Francine Jay atau bahkan pendahulu kita pun memiliki definisi tersendiri dalam mempraktekkan gaya hidup minimalis.

Saya, sebagai orang-orang yang sedang mencoba mempraktekkan gaya hidup lebih minimalis ternyata tidak mampu mempraktekkan teori-teori sesaklek-sakleknya. Karena beberapa dari ajaran tersebu tidak sesuai dengan pola hidup saya, atau mungkin karena saya emang masih kurang sungguh-sungguh banget kali ya.

Baca juga : Minimalist Enthusiast

Saya masih sering kalap materi lihat pajangan baju baru, atau kalap waktu lihat printilan yang unyu-unyu menggemaskan, atau bahkan menumpuk barang-barang yang tidak minim sampah sama sekali, serta menumpuknya berbagai fikiran diantara berbagai fikiran pun masih sering saya lakukan.

Yup, hidup yang berkesadaran katanya harus menghubungkan kepentingan alam dan sekitar. Malah kemarin sewaktu saya dengar di podcast TED Talks Daily, Jane Goodall sebagai legenda ahli primatologi bilang bahwa segala apapun yang kita lakukan selama hidup, akan berdampak pada planet yang kita tempati. Terdengar biasa ya, tapi pas dengerin belio mengaitkannya sama kehidupan primata dari jaman ke jaman. Bakalan makdeg banget kita dengernya. Coba deh dengerin podcastnya.

Karena begitulah, mau nggak mau memang pola pikir kita harus diubah. Gaya hidup itu untuk hidup, tapi hidup tak meminta gaya hidup yang tidak baik deh kayaknya. Emang berat, tapi demi alam, anak cucu, serta kehidupan yang akan datang, kita harus mencoba melakukannya. Nggak bisa ujug-ujug juga sih. Tapi kita bisa mulai dengan hal-hal kecil dari hal-hal yang ada di sekitar kita kok. Yuk, tengok!

Langkah-langkah Memulai Hidup Minimalis

1. Manfaatkan yang ada

Keterhubungan minimalis dengan kesadaran pada alam membuat sebagian besar penganutnya memilih produk yang ramah lingkungan, mengurangi plastik, dan barang-barang yang lebih eco-green nan mahal. Tapi, apa kita harus sebegitunya juga?

Hemat saya sih, nggak ya. Minimalis kan berarti seminim mungkin. Kalo demi lebih peduli pada alam terus banyak yang dibuang, misal foood storagenya ndadak diganti sama merk t*ware yang lebih ramah lingkungan dan mahal, ya nggak bijak juga namanya.

Yang ada dipakai aja dulu. Barang-barang yang ada tapi udah nggak eye-catching bisa kita permak dan hias-hias lagi. Baju-baju yang dianggap nggak good looking, kita bisa permak atau refashion nih sambil meniru-niru baju dambaan kita. Coba buka youtubenya Sarah Tyau atau MadebyAya. Kali aja kamu dapat inspirasi buat ngerombak baju-baju lama kamu dari sana.

2. Pakai Sampai Habis

Kita pasti memiliki banyak barang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tapi, beneran karena butuh lho ya. Kalo udah punya satu tapi merasa pengen satu lagi dan satu lagi. Ya udah nggak karena butuh lagi toh namanya.

Yang ada, nanti beli karena lucu, beli karena sesuai warna, beli karena bosan. jadi deh numpuk. Yakin, barang yang udah dibeli itu bakalan habis?

Pakai sampai habis itu berlaku buat barang-barang seperti ; kosmetik, alat mandi, dan bahan masakan ataupun makanan dll. Nah, yang perlu diperhatikan, barang-barang diatas memiliki batas akhir lho.

Jadi, jika kebanyakan dan jarang dipakai, jangan-jangan masa pakainya udah habis. FYI, barang yang udah dibuka itu masa berlakunya udah nggak pake ukuran expired yang tertera di produknya ya, tapi biasanya 6 sampai 12 bulan setelah barang itu dibuka.

So, pakai barang satu persatu sampai benar-benar habis ini solutif banget. Selain lebih hemat, juga kita pasti akan mampu menghabiskannya sebelum masa waktu habis. Lebih hemat, lebih sayang bumi juga kan tentunya.

3. Bukan kuantitas, tapi kualitas

Nggak heran ya, kalau sekarang banyak barang tiruan yang bahkan KW-nya aja udah KW super alias mirip semirip-miripnya sama barang yang aseli. Kalau untuk hasilnya, bisa jadi mungkin tampilan dan hasilnya awalnya emang bagus, meski nggak tahu ya akhirnya kek mana. Tapi untuk ukuran kualitas dan jaminan keaslian, kamu pasti sudah tahu kan jawabannya?

Ada rupa ada harga, istilah ini hampir semua orang tahu ya. Hanya saja, masalahnya potongan diskon dan harga yang merosot banget bakal lebih membuat kita terkesima buat beli dibandingkan liat angka yang berat di kantong.

Dibalik kualitas suatu produk, tentu ada proses riset, data, dan pengolahan bahan yang nggak tanggung-tanggung juga. Semua itu bernilai lho. Kita apreasiasinya dengan membeli. Karena dengan begitu, kita menghargai usaha dan proses yang telah dibuat pada produk tersebut, dan tentu peduli pada orang-orang dibalik produk tersebut. Produk lokal juga udah banyak kok yang berkualitas.

Nah, keuntungan dari kualitas produk yang baik harusnya sih berdampak pada berkurangnya pengeluaran dan jumlah barang. Karena, ya karena produknya bagus. Jadi bisa tahan lama, Kita nggak bakal beli-beli lagi deh.

Kecuali emang hobi beli sih, eh bukan minimalis lagi ya namanya kalo gitu mah.

Oh iya, satu hal penting lainnya. Ketika kita ingin memulai hidup minimalis, terutama untuk isi lemari, ada beberapa pakar fesyen minimalis yang bikin istilah-istilah dengan kuantiti tertentu.

Semisal, projek 333, yang berarti 33 pakaian untuk 3 bulan, ada juga capsule wardrobe yang nggaj jauh beda juga, jumlahnya sekitar 35-37 pasang dan istilah lainnya. Tapi, balik lagi ya, semua tergantung pada kondisi dan situasi kita. Seberapa yang kita butuhkan hanya kita yang tahu. Patokan itu nggak perlu saklek kok.

Kesimpulan

Diantara ketiga hal tersebut, mana urutan tersulit hingga tergampangnya? Kalau aku sih paling gampang itu ya pakai sampai habis, tapi paling susah itu ngukur suatu benda dari kualitas, karena dasar matanya masih suka kalap aja sih. Tapi, bismillah ayuk sama-sama dimulai lagi hidup lebih teraturnya. Hidup minimalis salah satunya.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
16 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
CREAMENO
18 days ago

Terima kasih untuk langkah-langkahnya, mba Ghina 😁

Saya pribadi sedang berusaha bangettt untuk step no.2 yaitu pakai sampai habis karena terkadang, masih suka ada yang bersisa-sisa sedikit seperti pasta gigi, sabun dan sampo ehehehehe. Dan setuju dengan Jane Goodall, bahwa apapun keputusan kita akan berpengaruh besar pada planet tempat di mana kita tinggal. Semoga, setiap dari kita pelan-pelan bisa berproses menjadi lebih baik lagi ke depannya 😍

Najifa Jas
18 days ago

Sekedar tambahan mbak. Kita bisa juga menambahkan option sewa dibanding membeli untuk hal-hal yang jarang kita pakai / gunakan, seperti sewa jas / pakaian mahal, sewa mainan anak, dll

Just Awl
18 days ago

Berguna banget langkah-langkahnyaa, makasih ya mba😁 Sejujurnya aku kenal minimalism ini tahun lalu saat cari-cari referensi buat speech contest dulu yg berkaitan dengan hidup konsumtif. Dari sejak saat itu sebisa mungkin aku terapin hidup minimalis, kayak decluttering baju yg udah lebih dari 6 bulan gak dipake, terus tahan buat gak belanja online walaupun lg sale. Untuk penggunaan skincare pun alhamdulillah anaknya setia, jadi selalu pakai sampai habis. Cuma akhir2 ini jadi konsumtif lg, gara2 sering mantengin store langganan dan kepincut produk2 baru, hadeuh😂 Makanya pas baca postingan mba Ghina berasa disadarkan lg buat balik ke niat semula, dan milih kualitas daripada kuantitas.😁

Lia The Dreamer
18 days ago

Aku pun sama kayak kak Ghina, urutan paling mudah menurutku pakai sampai habis dan yang tersulit memilih dan membeli barang berkualitas bagus karena aku suka nggak rela sama harganya yang muahal walaupun tahu kualitasnya memang bagus. Mungkin dalam hal ini, solusinya adalah membeli barang yang kualitas dan harganya sesuai kemampuan kita ya.

Kalau pakai sampai habis ini, aku juga belum lama belajar. Benar-benar itu tube sunscreen dan sabun cuci muka, aku belah sampai aku korek-korek isinya biar bersih tuntas 😂
Kalau make-up gitu, untungnya produk make-up aku nggak banyak tapi dalam hal ini masih susah juga untuk pakai sampai habis karena jarang dipakai, bahkan bisa keburu expired duluan sebelum habis. Begimana ya 😂

Jane Reggievia
17 days ago

Haloo Mba Ghina, salam kenal yaa (:

Urutan pertama kalau aku di pemakaian sampai habis. Karena beberapa waktu lalu ketika decluttering, aku membuang banyaaak sekali produk makeup dan lotion yang nggak kupakai sampai habis. Makeup karena aku dikadoin dan kebetulan aku jarang pakai (emang nggak gitu suka makeup). Karena makeup paling lama setahun, mau nggak mau aku buang deh huhu. Harusnya bisa aku hibahkan aja ya, tapi nggak kepikiran waktu itu. Setelah dibuang, baru sadar, apa yang kubuang itu akan memberikan dampak pada bumi kita. So next time aku harus lebih mindful dalam menerima hadiah dan pemakaiannya (:

Kalau memakai yang ada, kebetulan karena aku masih tinggal bareng mertua dan ada begitu banyak barang yang bisa kupakai dulu, ya aku pakai aja dulu. Meski kadang pengennn sekali beli yang baru karena alasan estetik (biasa kann cewek 😝), tapi suka diingetin suami, pakai aja apa yang ada dulu. Supaya budget bebelian bisa ditabung untuk rumah sendiri hihi

Yang terakhir tentang quality over quantity, itu prinsip yang selalu aku pegang bahkan sebelum mengenal minimalist lifestyle. Kebetulan suamiku juga menganut prinsip yang sama, jadi kami bisa saling mengingatkan.

Ah jadi panjang deh, maap yaa Mba 😅 terima kasih sekali udah nulis tentang minimalis ini, lumayan bisa dapet ilmu lagi dalam penerapannya 😀

Ririn
17 days ago

mantap mbaak ghina

Mirna
17 days ago

Halo mba.

Saya juga sedang belajar hidup minimalis. Lagi mengurangi buku dengan mengadakan program tukar buku. Jadi nggak usah beli gitu. Haha.

Mba ghina tinggal di Belanda? Apa temennya mba mauriel? Founder zerowaste Indonesia.

Salam kenal mba. ^^

Ella Fitria
14 days ago

sepakat banget sih sama langkah-langkah di atas mbak Ghina, aku pun lagi belajar buat hidup minimalis. Tapi karena masih tinggal sama bapak ibu, rasanya masih sulit karena ibuku suka nyimpen2 barang yang kadang kurang bermanfaat, wkwkwk
konsisten memang perlu banget juga ya mbak

16
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x