Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Naik-Naik ke Bukit Kiram

2 min read

naik naik ke bukit kiram

‘Ini sudah bulan terakhir di sini, masa kita nggak kemana-mana sih? Ke tempat wisata terbuka mungkin enak nih, dekat rumah sini kan ada Bukit Kiram dan bukit lainnya.’ keluhku pada suami.

Rasanya, kemarin-kemarin itu penat sekali. Bosan memang cirekem di rumah terus. Tapi, ya tentu saja keluar rumah pun dengan keadaan saat ini memang horror banget ya, apalagi ke tempat wisata gitu. Ah, tapi pengen banget nih jalan-jalan. Kan, emaaan. Masa di sini nggak kemana-mana!

naik naik ke bukit kiram

Well, tinggal di suatu tempat tanpa mengunjungi tempat wisata ataupun mencicipi kulinerannya memang terasa  ada yang kurang ya. Selidik demi selidik, kita mencoba nyari nih tempat wisata yang sepi tapi agak menarik gitu tempatnya. Nah, akhirnya tujuan kami terpaut pada bukit kiram. 

Memilih tujuan bukit kiram ini bukan tanpa alasan sih. Melihat tempat wisatanya, saya yakin pemandangan bukit yang disanding dengan desain-desain bangunan dari kayu itu pasti sangat elegan. Selain itu, katanya bukit ini tempat wisata pribadi miliknya paman birin, alias gubernur yang sedang menjabat sekarang ini.

Baca juga : Langgar dan Anak-anak Banjar

Bukit Kiram sendiri berada di Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Tidak jauh kok letaknya dari tempat tinggal kami. Perjalanan menuju bukit kiram sendiri bisa ditempuh sekitar 30 menit, nggak kerasa juga sih. Sajian pemandangan sepanjangan jalan bikin kita adem dan ngantuk saking sejuknya sepoi-sepoi angin dan pepohonan yang rindang.

Bukit Kiram yang penuh Bangunan Kayu

Sesampainya di sana, kita disambut dengan gerbang-gerbang berbentuk seperti ornamen khas kalimantan. Berbagai gedung pertemuan dan tempat yang biasanya diseawakan untuk warung berjejer lumayan banyak. Saat kita ke sana sih sepi banget, jadi saya nggak begitu minat melihat lebih dekat gedung-gedung pertemuan tersebut. Kita langsung mencari jalan menuju puncak bukit.

rumah kayu khas kalimantan selatan
bangunan kayu di bukit kiram

Oh iya, sebenarnya sepanjang jalan sebelum naik ke bukit kiram banyak banget spot-spot yang instagramable banget. Hanya saja, ketika kita ke sana, mungkin karena saking sepinya jadi malah kaya kurang terurus gitu. Di sana ada fasilitas gedung pertemuan, tempat penginapan, tempat makan, tempat penangkaran kelinci, taman-taman kecil, dan kolam ikan. 

Bangunannya semua terbuat dari kayu-kayu. Kelihatan jadi sejuk banget yaa. Kalau terawat pasti bagus banget. Bangunan yang terbuat dari kayu-kayu ini ingin mencoba melambangkan kekhasan wisata dan potensi kalimantan selatan. Macam-macam kayu di kalimantan antara lain kayu merbau, kayu meranti, kayu Ulin,  dll. Jadi saya baru ngeh, makanya kalo di jawa orang yang jual kayu biasanya ada nawarin kayu kalimantan gitu ya.

Naik ke puncak Bukit Kiram

Beberapa tempat wisata di Kalimantan seringkali melibatkan warga. Selain untuk memberdayakan, juga agar perekonomian masyarakat sekitarnya terangkat. Nah, untuk naik ke puncak bukit, mereka memberdayakan pemuda untuk bekerja sebagai tukang ojek. Bukitnya memang lumayan curam sih. Tapi, kami nekat aja kemarin jalan kaki naik bukitnya. Nahla pun keukeuh pengen jalan kaki. Jalan begini aja seru kali ya, gegara di rumah mulu. Ah, untungnya nggak begitu jauh. cuma sekitar sepuluh menit kok.

naik ke bukit kiram bersama anak

Udah sampe puncak bukit, kita ditawarkan sama pemandangan cantik bukit-bukit yang mengelilingi kiram. Pohon-pohon karet membuat pemandangan dari atas terlihat cantik banget. Daunnya lagi hijau kekuning-kuningan. Cakep deh! Oh iya, ada juga jalanan khusus yang dibuat untuk racing gitu. Tahu nggak, di bukit kiram ini ada  tempat racing juga lho. Pernah dipake buat acara Hard Enduro, lomba balap motor internasional gitu. Memang cocok sih tempatnya di perbukitan gini.

Kalau ramai, pasti akan ada banyak penjual yang menawarkan aneka makanan ya. Kemarin sih benar-benar sepi banget. Cuma melihat seorang ibu doank yang jual air minum. Di atas bukit itu ada bangunan kayu yang bentuknya sekilas seperti perahu gitu. Cuma karena sepi, jadi nggak ada apa-apa di sana. Mungkin kalau bukan karena corona, di sana bakalan ada karaoke, tempat makan, dan tempat sholat. Ah, sayang kemarin ga sempet moto detail nih.

Setelah lumayan puas dan perut keroncongan, akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang. Jalan kaki lagi donk. Ya ampuuuuun ini perjalanan turun dari puncaknya lebih seram daripada pas naik tadi. Lebih curam dan jauuuh banget. Ada sekitar 3 ojek yang menawarkan boncengan, tapi nggak tahu ini Nahla beneran nggak mau naik. Meski takut dan banyak teriak-teriak saking licin dan curamnya jalanan, akhirnya kita sampai juga ke pintu gerbang keluar.

Gimana rasanya jalan-jalan di masa pandemi gini?

Wah, rasanya serba was-was deh. Kita benar-benar nggak boleh lengah untuk melaksanakan protokol. Di sana sayangnya nggak ada tempat cuci tangan, dan kamar mandi pun kotor banget. Untungnya selalu bawa hand sanitizer di tas.

Nggak bisa dipungkiri, memang lebih baik jika tidak ada keperluan mah mending di rumah aja ya. Jika memang akan keluar kita perlu memastikan bahwa protokol-protokol kesehatan harus dilaksanakan sebaik mungkin.

Keperluan yang perlu dibawa saat akan ke luar rumah dengan waktu yang cukup lama, antara lain : bawa masker lebih dari satu, hand sanitizer, desinfektan, tissue basah, botol minum, bekal makan dan cemilan, serta pastikan selalu menjaga jarak dan tidak menyentuh fasilitas umum. Jika terpaksa atau nggak sadar menyentuh, ya langsung semprot hand sanitizer atau cuci tangan. Harus sering-sering bersihkan tangan deh pokoknya.

Sekian. Stay safe everywhere, anyone.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

16 Replies to “Naik-Naik ke Bukit Kiram”

    1. Iya sih mbak put. Mungkin dananya juga kurang kali yaa. Kami masuk ke sana aja cuma ditagih 5000 doank buat bayar parkir, selebihnya nggak ada lagi.Aku malah mikirnya, ini eman lahannya bagusan dibikin buat hutan aja lebih membantu lingkungan, hihi

      1. Ini mungkin karena pandemi ya mbak, jadi nggak terlalu rame. Tapi jadinya kayak bener-bener cuma kalian pengunjungnya, haha..

        Duh, Nahla hebat deh, mau jalan sendiri gitu, untung cuma 10 menit ya, kalo 1 jam-an mau tak mau gendong juga pasti, hihi..

        Tempat ini sekilas ngingetin aku sama Parapat, salah satu wisata gunung di Sumut. Ada juga beberapa bangunan nggak keurus gitu, tapi ya masih tetep rame. Mungkin pemda setempat memang kurang gercep aja ya, hehe..

        Stay safe ya mbak Ghina sekeluarga 😀

  1. Kak Ghina, pemandangannya bagus banget 😍 bahkan masih berkabut-kabut gitu. Sayang banget kalau nggak keurus 🙁
    Mungkin efek pandemi juga ya.
    Foto kak Ghina dan Nahla yang latarnya perbukitan itu, aku suka bangettt!
    Semoga tempat ini nggak jadi terlantar nantinya, karena sayang banget, apalagi aula-aula dan ruangan lainnya yang udah didesign bagus-bagus, sayang gitu kalau terlantar 🙁

    1. Kemarin kurang motret-motretnya nih Li. Tapi emang cara melihat pemandangan paling asyik ya pake mata telanjang yaa. Lebih bagus. Kalo dari atas ada bangunan yang nampaknya kayak di film2 korea gitu. sayang kemarin cuma di videoin tapii lupa nggak difotokan.

      Iya, berharap banget begitu. sayang juga fasilitasnya udah mendukung banget sebenarnya. Setelah pandemi, semoga semua ditata kembali dan dimanfaatkan semaksimal mungkin yaa.

  2. Jadi inget waktu naik-naik ke bukit entah apa namanya. Waktu itu lagi cari-cari peternakan kuda Megastar yang terkenal itu. Kabutnya juga sama, kangen sama dinginnyaa

  3. Si perahu itu juga di atas bukit berarti ya?
    Lengang dan asri … aku suka …
    Kalaupun semisal nanti ada pembangunan setelah corona, semoga managementnya mampu mengelola dengan baik.

  4. Tempatnya masih asri ya mbak? Kalau masih milik pribadi gini di sana ditarik retribusi ga?

  5. Nahla keren ih kuat naik sampai turun ya. Jadinya harus bawa bekal dong ya sekiranya mau agak lamaan di sana. Berwisata di era new normal ini memang jadi banyak yang harus diperhatikan tapi sebanding lah ya dengan manfaat dan kesenangan yang diperoleh. Semoga kita semua sehat selalu, yaa.

  6. wah serunya naik-naik ke bukit kiram. emang ya mba jalan-jalan di masa pandemi ini harus hati-hati, jaga jarak dan selalu bermasker serta cuci tangan. saya juga kalo keluar rumah gak lepas sama masker dan hand sanitizer. biar aman aja gitu, hihi.

  7. Liat view nya baguss banget sayang banget ya kamar mandi yg selalu jadi intipan pertama wisatawan malah mesti banyak diabaikan untuk tempat wisata alam gitu, semoga setelah pandemi semakin baik ya pengelola an objek wisata

  8. Tapi selama pandemi, tempat2 alam yg sepi begini yg lebih aku suka mba. Drpd ke tempat ramai yg hrs ketemu banyak orang. Masih sereeeem. Di JKT memang ga banyak tempat berbau alam.palingan hrs mau jalan jauh dikit ke daerah Bogor ato puncak. Tapi kayaknya kalo bawa anak, aku ga yakin mereka kuat juga hahahah. Kalo tengah jalan minta gendong gawaaaat :D.

    Jadi ya sampe skr aku blm nemu tempat sesuai utk kluar nih. Palingan staycation di bbrp hotel. Itu juga ga kluar2 :D.

    Eh kayu Kalimantan itu memang terkenaaal kuatnya. Sepupuku, pas bangun rumah, dia bela2in bawa kayu dari Kalimantan utk beberapa interior. Krn memang kuat dan awet bangetttt.

  9. pemandangan indah, tapi jauh ya di kalimantan. aku juga penyuka bukit dan gunung, pokoknya tempat-tempat yang enak buat ngadem. semoga ada taqdir bisa menapak pulau seberang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!