Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Yang Gugur di Bulan September

1 min read

gugur di bulan september

Saat aku kecil dulu, ada sebuah lagu dari Vina Panduwinata yang sering diputar dan bahkan sempat menjadi tagline sebuah televisi swasta, ‘September Ceria’. Konon, lagu ini muncul karena bulan itu bumi yang gersang menghijau kembali di belahan bumi bagian selatan dan daun-daun berguguran di belahan bumi bagian utara. Keelokan bumi (seharusnya) bersinar penuh daya tarik yang memikat.

Peristiwa September bagiku di tahun ini dan tahun kemarin rasanya seperti daun-daun berguguran. Awal bulan dan akhir bulan September tak dinyana menjadi momen yang mengingatkanku akan kematian. Momen di mana kedua orang yang aku sayang meninggalkanku untuk selamanya.

Pagi buta saat subuh belum menjelang, lagi-lagi aku dibangunkan oleh suami. Dibangunkan karena kabar kematian. Orang-orang yang kucintai menghadapNya. Sedihnya lagi, aku sedang tidak berada di dekat mereka saat mereka tiada.

Kepergian kakak ketigaku, Laeliyana Shofiati, yang biasa kami sapa Ceu Lely, untuk bertemu denganNya sama sekali tak dinyana. Beliau sedang mengandung anak keempat yang sudah ditunggu-tunggu setelah beberapa kali keguguran menimpanya.

Sungguh tak dinyana. Butuh waktu untukku mencerna berbagai pesan whatsapp di grup keluarga yang telah berentet menyampaikan informasi kepergiannya. Suami mengabarkan yang meninggal adalah Ceu Lely, namun kuurutkan pesan yang berjuntai itu awalnya mengabarkan kepergian bayinya.

Baca juga : Kepergian Abah

Bersama Ceu Lely saat ke Jogja

Oh, ternyata keduanya telah tiada.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

Jadi teringat, belakangan aku ingin sekali menelpon beliau. Namun saat teringat  itu selisih waktu 5 jam membuat berulang kali mengurungkan niatku. Entah kenapa, pikiran tentang keadaan Ceu Lely terus menghantuiku. Apalagi setelah sebelumnya beliau menelponku dan bercerita tentang kondisinya. 

Usia dan kondisi kematian seseorang memang tiadalah yang menahu. Namun kematian selalu menyisakan nilai, pesan, dan cerita tentang perjalanan hidup seseorang yang berpulang.

Begitu pula tentang beliau, Ceu Lely.

Aku bersaksi, beliau ada orang yang sangat sangat sangat sabar, tawadhu, dan penuh dengan kebaikan dalam hari-harinya. 

Meski selisih umur kita terpaut sangat jauh namun aku selalu merasa dekat sekali dengan beliau. Orang yang selalu terbuka untuk mendengarkan cerita, tak segan untuk bercerita, dan senantiasa menasihati tanpa menggurui.

Mimih dan Abah bilang, Ceu Lely itu anak yang sangat pengertian dengan kondisi keluarga. Selalu tidak ingin merepotkan keluarga, dan rela berkorban demi kebaikan yang lain. 

Aku ingat, mimih sering sekali cerita kalau Ceu Lely itu rela menunda sekolahnya karena kondisi perekonomian keluarga yang sedang tidak baik-baik saja. Selama setahun tak melanjutkan sekolah, beliau selalu menemani Mimih jualan baju di pasar. Beliau juga selalu dibanggakan oleh Abah karena hafal imrithi, selalu rangking satu, akademiknya bagus, dan menguasai bahasa Arab dengan baik.

Setiap kali kami berkunjung dan menginap di rumahnya, terasa seperti benar-benar kembali ke suasana masa kecil kami. Beliau menyajikan berbagai olahan masakan, membelikan pakaian, menyisakan waktu untuk kami saling bercerita, dan tak lupa selalu menyisipkan sangu. Padahal kami sudah besar.

Menjadi telinga yang selalu mendengar, menjadi orang yang tak segan untuk belajar kepada yang lebih muda, mengusahakan untuk memberikan yang terbaik, serta menyayangi orang-orang sekitar adalah hal yang kupelajari dari beliau. 

Ah….. daun-daun itu memang pasti akan berguguran, begitu pula kita, manusia. Namun bagaimana perjalanan daun itu sebelum gugur menjadi penentu perjalanan bagaimana ia akan dikenang saat gugur. 

Kami sayang menyayangimu. Namun Allah lebih sayang sekali sama Ceu Lely. Syahidah. Insya Allah.

Groningen, Musim Gugur 2022

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

9 Replies to “Yang Gugur di Bulan September”

  1. Innalillahi wa innailaihi rajiun.. Turut berduka atas wafatnya kakanda tercinta. InsyaAllah almh husnul khotimah dan segenap keluarga yg ditinggalkan ikhlas dan sabar. Aamiin..

  2. Turut berdukacita yaaa jeng,
    Kehilangan adalah sebuah kata yang sangat menakutkan karena rasanya hidup langsung seketika sepi.

    Insya Allah diberikan pengganti teman lain yaaaa

  3. Innalillahiwainnaillaihiroji’uun..
    Turut berduka cita sedalam-dalamnya.
    Jannatul firdaus bagi almarhumah Ceu Lely.
    Kebaikannya sungguh menginspirasi. Semoga dimampukan menjadi kakak sebaik beliau.
    Aamiin ya Allah

  4. innalillahiwainnailaihirojiun.. allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha..
    turut berduka atas meninggalnya ceu lely ya mba.. InsyaAllah almarhumah gugur dengan kenangan yang baik..

  5. Innalilahi wa innalilahi rojiun turut berduka cita ya Mbak. Semoga almarhumah diterima segala amal baiknya. Aamiin yaa Rabb. Disini merasakan banget kalau kehilangan sosok Kakak yang baik. Tetap tabah ya mbak. Allah lebih sayang.

  6. Innalilahi wa innailaihi rojiun
    Ikut berduka cita ya mbak
    Kehilangan orang yang kita sayangi memang tidak mudah ya mbak
    Namun , perlahan tapi pasti waktu bisa menyembuhkan segalanya
    Semangat ya mbak

  7. Inna lillahi wa inna lillahi roji’un.
    Turut berduka dengan kepergian kakak Lely. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan memberikan sebaik-baik tempat di sisiNya.
    Rasanya memang kematian menjadi sebaik-baik pengingat untuk kita semua. Dan semoga teladan kak Lely bisa untuk kita semua untuk senantiasa berbuat baik untuk sekelilingnya.

  8. Innalillahi wainaillaihi rojiun. turut berduka cita sedalam-dalamnya atas berpulangnya kakanda tercinta yaa, Mba. Semoga Almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisiNya, amiiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!