Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Saat-saat Terakhir Melihat Abah

4 min read

saat terakhir bersama Abah Chusnan

Pekan kemarin menjadi hari-hari penuh duka. Tepat hari Sabtu, 4 September 2021 pukul 22.45 WIB, Ayahku yang biasa kusapa Abah telah meninggalkan kami semua. Beliau berpulang meninggalkan kami dengan penuh ketenangan. Tiada lagi rasa sakit, sesak nafas dan berbagai penyakit yang sering dirasa belakangan ini.

Berpulangnya beliau membuat kami, anak-anaknya yang tidak bersua bersama-sama sejak pandemi muncul ini akhirnya bersua. 7 Anak, 7 menantu serta 19 cucunya akhirnya datang ke rumah. Rumah menjadi sangat ramai, penuh bocah bermain, orang datang lalu lalang dari berbagai penjuru kota.

Tulisan ini akan cukup menyedihkan. Aku mencoba mengabadikan sekaligus melepaskan segala perasaan dan kenangan yang muncul saat teringat tentang Abah. Aku sendiri teringat, dulu Abah menuliskan momen-momen terakhir saat berpulangnya Bapak dan Bapak mertua.

Baca juga : Saat Terakhir Bersama Kakek

Pesan Mimih di Grup Keluarga

Pada awal bulan September, ketika Mbak pertama bertanya kabar tentang Abah, Mimih mengirimkan pesan bahwa Abah sudah tidak nafsu lagi untuk makan. Bahkan minum pun hanya beberapa teguk belakangan itu. Sementara tidur pun tak lagi nyenyak, katanya susah bernafas saat tidur.

Dengan berbagai bujuk rayu dan melihat kondisi rumah, Abah yang tadinya enggan untuk mengunjungi rumah kidul (rumah yang belakangnya ada kuburan), akhirnya saat itu mau. Di sana memang udaranya lebih terbuka.

Aku saat itu hanya bisa menelepon. Meski aku sudah sangat ingin berkunjung ke Brebes, melihat suami yang masih terus mengejar tulisan untuk menyelesaikan disertasinya membuatku menunda dan terus menunda.

Saat menelpon, aku hanya bisa memberitahukan tentang pentingnya makan dan minum yang banyak. Ah, iya serta tentu banyak gerak juga. Karena biasanya setelah makan, semenjak Abah kena stroke, Abah biasanya langsung tiduran lagi.

Aku merasa cukup bodoh menyarankan hal demikian. Setelah menelepon Mimih, aku bertanya pada adikku yang kebetulan tinggal bersama Abah dan Mimih. Ah, ternyata Abah kena GERD juga, makanya Abah tidak nafsu untuk makan dan minum.

Baca juga : Sosok seorang Kakek

Sabtu pagi, kakak iparku mengirimkan sebuah gambar di grup. Ternyata kakak kakakku sudah berkumpul di Brebes. Hanya aku dan Mbakku yang keempat yang tidak hadir di sana. Seketika aku langsung nyesek. Ah, mana suami lagi ada acara dengan temannya.

Malamnya, perasaanku semakin tidak enak. Sungguh, malam itu ingin sekali rasanya untuk tinggal berada di samping Abah. Aku bahkan sama sekali belum merawatnya saat Abah sakit. Hiks

Berangkat dengan kereta, tidak mungkin. Harus syarat vaksin dan anakku, Nahla, belum vaksin. Pesan mobil, ternyata temanku nggak bisa kalau malam itu juga. Kami perlu bersabar, besok subuh pun rencana untuk pergi ke Brebes sudah fix.

Aku langsung mengajak anakku untuk mengemas pakaian. Supaya besok tinggal mandi saja. Sampai pukul 22.30 aku masih mengobrol dengan anakku. Dia terlihat sangat senang karena akhirnya akan bertemu dengan sepupu-sepupunya. Sampai pukul sebelas malam, kami masih belum bisa tidur. Setelah memasang alarm, aku pun sudah menjauhkan gawai itu agar cepat terlelap.

Ternyata saat itu, ada banyak telepon dan pesan whatsapp yang masuk. Mengabarkan bahwa Abah telah berpulang.

Bangun tidur, aku histeris, menangis, penuh sesal dan lemas.

Melihat Wajah Terakhir Abah

Meski aku sudah mengabarkan pada supir untuk berangkat lebih awal, tetap saja, kami akhirnya berangkat pukul 5 pagi. Perjalanan pun lebih molor karena ban mobil ternyata bocor. Untung masih bisa tukar mobil.

Sepanjang perjalanan, kami saling diam. Tak ada yang banyak bicara, termasuk anakku. Meski sesekali aku terisak, aku mencoba untuk mengecilkan isakan tangisku agar tak terdengar. Beruntungnya suara musik yang diputar meramaikan perjalanan kami.

Segala wejangan dan kenangan terus saja muncul menyeruak. Aku jadi teringat beberapa pesan bacaan doa dan tausyiah yang biasa diajarkan Abah dalam pengajiannya. Ah, aku juga jadi teringat sholawat yang terus berdengung belakangan ini, sholawat penyesalan, seperti yang kurasakan saat ini.

Telepon berdering, Mimih. Mimih bertanya, mau menunggu Abah dikuburkan atau melihat wajah Abah dulu?

Tentu saja aku ingin melihat wajah Abah, menyentuh, dan menyapanya terlebih dahulu. Meski yang terakhir kalinya.

Benar-benar, prosesi penguburan Abah hanya menunggu kedatanganku saja. Semua orang sudah berhambur kala aku sampai di rumah. Langsung aku masuk ke rumah mencari Mimih, panggilan untuk ibuku, dan memelukny erat-erat sembari tersedu-sedu.

‘Tak apa. Menangislah sepuasnya.’ kata Mimih. Aku menangis hingga sesenggukan, tapi Mimih hanya diam, tak menangis. Hanya terus mengelusku dengan penuh kasih sayang.

Setelah itu kami melakukan sholat jenazah. Aku menyempatkan diri membuka kain kafan yang sudah menyelimuti Abah. Kusentuh mukanya yang sudah memucat, aku coba bisikkan kata yangs udah sangat lama tak kusampaikan kepadanya ‘ Nina sayang Abah ‘. Tentu saja setelah itu air mataku semakin menetes dan meraung tak terhenti. Ah, meski sebelumnya suami sudah mengingatkan untuk tidak menangis seru, tetap saja aku tak mampu menahannya.

Seusai itu, keranda Abah langsung dibawa untuk dikuburkan. Abah sudah menyiapkan kuburannya cukup lama. Kuburan yang jauh dari rumah, tepat di belakang rumah. Sengaja Abah buat rumah dekat kuburan katanya, biar nanti anak-anak mudah dan bisa sering mengunjunginya.

Detik-Detik Menjelang Hembusan Napas Terakhir Abah

Aku memang tak menemani sama sekali selama Abah sakit di rumah sakit. Tahun kemarin saat Abah kali pertama masuk rumah sakit, aku sedang di Kalimantan. Saat ini, Abah masuk ke rumah sakit lagi, aku masih tinggal di Jogja. Tidak punya kendaraan sendiri memang menyulitkan untuk kondisi saat ini. Kadang kalau teringat, sedih juga. Tidak bisa berbakti di detik-detik terakhir saat Abah masih hidup.

Maka untuk mengingat detik-detik menjelang hembusan napas terakhir Abah, aku bertanya kepada Mbakku yang pertama. Beliau yang kebetulan banyak mendampingi Abah baik sering berkunjung maupun mengurusi Abah di rumah sakit.

Hari Sabtu – Minggu, Abah sudah susah makan dan minum serta dada sesak. Setelah sebelumnya dibujuk untuk diperiksa ke Rumah Sakit, akhirnya Minggu sore Abah mau dibawa. Napas Abah makin tersengal-sengal kepayahan.

Awalnya di bawa ke Rumah Sakit Bakti Asih, namun dengan persyaratan covid dengan masa tunggu hasil test swab yang terlalu lama, apalagi Abah ada kondisi sesak napas, membuat Mbakku memutuskan untuk pindah ke rumah sakit lain.

Pindah ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, alhamdulillah hasil swab cepat dan hasilnya negatif. Saturasinya pun masih bagus. Saat itu aku masih sempat berkirim pesan bertanya kepada Mbakku, alhamdulillah saturasinya 97, katanya.

Namun Abah memang sama sekali menolak untuk di rontgen. Saat Mbak pertamaku mengurus Abah, Mbak ketiga mengurus administrasi Abah. Mbak pertama yang menemani Abah semakin bingung, karena Abah kondisinya semakin melemah sementara perawatan belum dimulai.

Di tengah kebingungan itu, akhirnya Abah menghembuskan napas terakhirnya. Sambil mengucapkan kalimat tahlil yang dibimbing oleh Mbakku, setelahnya Abah terlelap untuk selama-lamanya. Alhamdulillah Abah menutup mata dengan tenang, pasrah, lillah.

Allahummghfirlahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu’anhu.

Abah, selama tujuh hari setelah engkau meninggalkan kami semua, ada banyak sekali orang lalu lalang berdatangan. Saudara jauh dari Bandung yang dulu jadi tempat tinggal Abah waktu kuliah juga datang, teman-teman seperjuangan Abah di Pekalongan juga hadir di hari ke delapan. Murid-murid yang dulu Abah ajar juga datang. Bahkan kolega Abah dari berbagai instansi juga hadir. Selama tahlilah tujuh hari, alhamdulillah selalu ada Kyai yang mengisi tausyiah meski tanpa direncanakan. Tahlilan online lewat zoom pun kami adakan dan alhamdulillah banyak juga yang ikutan.

kuburan orang-orang sholih

Di depan rumah, ada banyak sekali karangan bunga, dari kolega, yayasan, kampus, instansi pemerintah, hingga menteri Agama. Semua cerita perjuangan Abah mendirikan sekolah, giatnya Abah bekerja untuk NU, serta kebaikan Abah dalam menggerakan pendidikan di desa bermunculan. Semoga semua hal itu menjadi washilah yang bisa melapangkan Abah di alam kubur. Kami semua sayang Abah.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

2 Replies to “Saat-saat Terakhir Melihat Abah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!