Budaya Ramadhan yang Dirindukan

“Kami berebut tempat paling nyaman untuk ngobrol saat ceramah akan dimulai dan mencari tempat terdekat dengan penandatangan saat ceramah segera usai. Kenangan ini mungkin tidak akan tercipta tanpa adanya Buku Harian Ramadhan. “

Voilaaaaa, Hai apa akabar para pembaca blog Ghina’s journal? Haha, semoga sehat selalu ya. Belakangan saya sedang ada fokus dengan satu hal, akibatnya ternyata nggak bisa fokus sama hal lainnya, termasuk dengan blog ini. Hiks.

By the way, Marhaban ya Ramadhan. Masih di minggu pertama nih, belum pada loyo dan males-malesan kan?

Saya baru ingat, jika saya mempunyai satu kategori khusus untuk bulan Ramadhan, yaitu catatan Ramadhan. Nah, mumpung nih pas banget masih di awal Ramadhan dan tema dari #1minggu1cerita adalah tentang Budaya, ya sudah saya nulis saja tentang budaya puasa ya.


Ramadhan selalu memberikan pengalaman tersendiri bagi saya, apalagi dengan tempat tinggal yang berubah-ubah alias hidup nomaden sekarang ini. Tahun kemarin, menikmati puasa selama 19 jam, melewati jam tidur malam yang nggak tenang karena diburu waktu, Maghrib-Isya-Subuh hanya selisih kurang lebih dua jam. Tapi sayang, saya melewatkan cerita-ceritanya untuk ditulis di blog nih. Semoga ada kesempatan dan ide untuk menuliskannya nanti nih.

Sekarang, saya kembali menikmati puasa 12 jam. Ada adzan, ada tongtongbreng yang membangunkan kita buat sahur, ada tadarusan yang bergema dari setiap mushola dan masjid, serta ramainya masjid saat malam menjelang hingga shubuh. Tak lupa, keramaian pasar yang semakin menggila juga menjadi pertandanya.

Lalu, ingatan saya kembali diingatkan dengan suasana sore hari saat Ramadhan. Suasana ketika saya dan adik saya terburu-buru untuk membagi waktu antara membantu ibu terlebih dahulu dan segera bergegas ke masjid untuk mendengar ceramah sore hari bersama Alm. Aki Abu Bakar (Allahu yarham).

Bergegas ke masjid untuk mendengarkan ceramah tidak mungkin akan sesemangat itu, jika bukan karena adanya kewajiban dari “Buku Harian Ramadhan”. Buku yang menjadi tugas sekolah agar aktifitas para siswa di bulan Ramadhan tidak sia-sia. Jadi ya masih semangat-semangatnya gitu buat meramaikan masjid. Yang bikin semangat lagi ke masjid, ya karena di masjid akhirnya banyak teman seangkatan kita yang datang. Lagi-lagi, buku catatan itulah penyebabnya.

Buku Catatan Ramadhan ini bisa jadi adalah cara yang dimaksudkan oleh guru untuk mengisi waktu ramadhan dengan hal-hal yang seharusnya dilakukan di bulan ramadhan. Keharusan yang muncul dalam pengisian buku ramadhan ini diharapkan menjadi habit bagi kita nanti, meski udah nggak dikasih buku ramadhan lagi.

Gara-gara buku catatan inilah, kami semangat bergerombol untuk ikut ceramah, meramaikan mushola untuk sholat tarawih, dan bahkan meramaikan tadarusan di musholla/masjid. Karena memang ibadah-ibadah ritual perlu dicatatkan dalam Buku Ramadhan tersebut.

“Eh judul ceramahnya kira-kira apa nih.”

“Ayo maju-maju, sebentar lagi selesai ngajinya, biar kita dapat tanda tangan duluan.”

Obrolan di atas adalah hal paling sering kita tanyakan saat ikut ceramah. Waktu kecil, mungkin memperhatikan isi ceramah memang bukan yang utama banget dicari tapi kebersamaan dan tuntutan untuk memenuhi tugas sih alasannya. Hitung-hitung ngabuburit nggak jelas gitu kan!

Tinggal di kampung membuat suasana tersebut semakin melekat dan terasa sekali dalam keseharian kami sebagai anak kampung. Terutama karena segerombolan bisa jadi beberapa ada yang masih memiliki hubungan saudara, atau geng se-erte, atau satu sekolah.

Kegiatan ramadhan yang membudaya saat tinggal di kampung bisa jadi merupakan kenangan yang melekat pada kami. Meski seringkali banyak tingkah nakalnya, tapi kegiatan yang dituntut oleh Buku Ramadhan jelas memberikan cerita tersendiri pada kami.

Momen menjelang buka puasa adalah satu hal yang paling mengesankan. Saya dan adik biasanya cukup terburu-buru menuju tempat pengajian di masjid yang tidak jauh dari rumah. Sesampainya di masjid, saya dan adik biasany duduk terpisah sesuai dengan geng-nya masing-masing.

Kami bergerombol duduk berbarengan membentuk lingkaran. Terkadang agar tidak begitu nampak dan punya kebebasan untuk ngobrol, kami memilih tempat yang nggak kelihatan oleh penceramah, bahkan menjauh dari perkumpulan ibu-ibu. Dasar ya!

Saat di masjid, yang perlu difokuskan untuk mendengarkan pengajian bagi kami adalah ceramah pembuka dari sang penceramah serta fokus kepada siapa yang akan memberi tanda tangan. Selanjutnya, meski kadang ada niatan untuk fokus mendengarkan ceramah, tetap saja nggak sadar kadang banyak ngobrolnya, atau berselisih soal judul apa yang harus dimasukkan pada catatan Ramadhan kami.

Buku Ramadhan yang kami genggam tersebut mempunyai kewajiban untuk diisi, baik sholatnya, puasanya, maupun deresan ngajinya. Polosnya kita ya udah malah jadi ajang buat “berlomba-lomba” untuk meramaikan. Saat itu, ya masih ikut-ikutan saja. Toh, senang juga akhirnya bisa mengisi full semua tugas di buku Ramadhan tersebut.                         


Berlomba demi mendapat nilai tinggi dan sanjungan dari manusia adalah kebanggaan, dan kita selalu masih melakukan suatu hal karena penilaian manusia. Hmmm, mungkin seperti begitu ya yang terjadi ketika kita mendapati kewajiban untuk mengisi buku Ramadhan.

Tentu saja nggak ada salahnya. Seenggaknya kan kita sudah berusaha, urusan pahala, siapa pula dari kita yang tahu. Saya sendiri bahagia sekali rasanya jika sudah mengisi semua tugas di Buku Ramadhan tersebut, karena nanti akan dapat hadiah dari Guru kami. hihi

Lalu, Apa kabarnya Ramadhan kita sekarang yang tanpa buku Ramadhan lagi nih?

Kadang merasa hampa nggak sih, kok gini-gini aja ya. Atau ngoyo di depan, terus melempem di belakang. Atau malah datar-datar aja, tidak menganggap bulan Ramadhan adalah hal spesial dan menjalaninya biasa-biasa saja. Ada kok. Bahkan terkadang saya pun merasakannya kok.

Seringkali, kita ngoyo berebut pahala, namun hanya karena pahala semata. Padahal kebaikan tidak semata-mata tentang pahala dan ibadah.

Seringkali, kita merasa sudah sangat rajin beribadah, melek hingga pagi buta, tapi kita lupa untuk memenuhi hak orang-orang tersayang kita.

Kali ini, selain tuntutan ritual sebagaimana kita dituntut saat kecil dahulu sebagaimana keharusan dalam mengisi Buku Ramadhan, baiknya kita harus memperhatikan hubungan sosial kita dengan sesamanya kan. Iya nggak sih?

Karena seharusnya ibadah kita memang harus ditekuni mesti bukan saat Ramadhan. Sebagai manusia beragama, memang sudah keharusan utuk beribadah. Jadi harusnya ya nggak mendadak ngoyo gitu wong udah sering dilakoni. HARUSNYA.

Jika pun perlu ada peningkatan, bukan hanya sekedar peningkatan ibadah ritual donk harusnya. Tentu harus ada peningkatan kualitas hubungan kita dengan sesama dan dengan alam.

Dengan sesama, sudah seberapa berkurang ngerasani orang lain, berhati-hati dalam berucap di dunia nyata dan dunia maya, menghargai yang sama dengan pemikiran kita dan yang berseberangan pemikirannya demgan kita, bermanfaat waktunya nggak sekadar buat mantengin gadget, thok.

Dengan alam, sudah seberapa sayang kita dengan lingkungan? seberapa sering kita buang sampah sembarangan? sebarapa banyak kita menggunakan plastik dan membuangnya sembarangan? seberapa sering kita menyisakan makanan hingga menjadi mubadzir. Seberapa sering kita menggunakan barang yang teryata nggak bertahan lama dan kemudian hanya akan teronggok menjadi sampah yang susah terurai?

Duh, kok berat ya malah jadinya.

Ya, intinya, peningkatan ibadah tak hanya semata ibadah ritual. Kita juga harus melakukan peningkatan kualitas diri dengan ilmu, dengan peduli pada sesama dan lingkungan. Iya kan?

Maap, btw ini tulisan kok jadi ngegas gini ya, Na?! *efekPMS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *