Cerita Perempuan,  Zero Waste

Selangkah Menuju Bebas Sampah

Akhirnya, rencana yang sudah direncakan dari jauh-jauh hari terlaksana juga. Yeay, tahun ini selangkah untuk menjadi seorang jerowester mulai terrasa. FINALLY, I AM FREE FROM DIAPER AND MENSTRUAL PAD.

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Hal yang sangat ditunggu-tunggu sekali akhirnya terlaksana. Melepas keduanya adalah hal yang cukup berat. Padahal, akibat buruknya juga cukup berat. bukti bahwa kita ga sayang sekali sama bumi ini?!

Langkah Pengurangan plastik sudah sebisa mungkin dilakukan. Meski, hasilnya nggak seberapa. Karena sekadar mengingatkan untuk tidak apa-apa tanpa di bungkus plastik, atau tidak usah diplastiki karena udah bawa plastik sendiri itu jawabannya ada-ada aja. Dibilang nggak sopan lah, nggak eloklah, plastik murah ga usah pelit-pelit, bahkan Ibu-ibu depan asrama bilang ‘nanti pacarnya direbut orang lho mbak kalo beli-beli ga dibungkus’. Oke, aku shoooock!

Selanjutnya saya ingin menghentikan penggunaan Popok dan pembalut. Tapi ternyata eksekusinya berat juga. Padahal sih semakin cepat dieksekusi, semakin berkurang sampah di bumi ini, semakin terbukti sayangnya kita sama bumi ini, lho ya.

Yasudah, sini-sini saya mau cerita dulu gimana-gimananya kok bisa mengambil keputusan begitu ya. #apasih

  1. Free from Menstrual Pad

Ketertarikan untuk mengganti pembalut sekali pakai dengan menscup sudah ada sejak lama. Hampir 2 tahun yang lalu. Waktu itu gegara youtuber inspirasi saya, Lavendaire ngomongin tentang Menscup ini. Di Indonesia waktu itu belum terlalu booming kayaknya, dan harganya pun masih mahal gila sih.

Hingga akhirnya saya sekeluarga pindah ke Belanda, dan keinginan itu pun sudah hilang ditelan bumi. Hingga di pertengahan tahun, akhirnya teh Icha dan teh Tyas menggembor-gemborkan tentang menscup. Happy banget donk aku sebagai follower mereka. Seenggaknya mereka sudah mengabarkan kabar baik tentang menscup ini kepada wanita Indonesia. Yakin nih, bakal banyak banget yang ikutan menggunakan menscup.

Tapi baru kepikiran lagi pengen beli menscup waktu menjelang pulang ke Indonesia. Aku ketemu langsung sama produknya. Suatu ketika di apotek aku melihat penampakan menscup bermerk orga*icup mirip sama yang dipromosikan selama ini. Yup, aku langsung hubungi suamiku untuk minta ijin, dan akhirnya aku dibolehin *dengan agak maksa.

Beberapa alternatif pembalut udah nyoba dulu, tapi gagal ujung-ujungnya. Waktu itu pas heboh-hebohnya menspad. Aku nyoba sekali lalu nggak nyaman. Selain rasanya kok bleeding banget, nyucinya juga ribet, dan mengeringkannya benar-benar butuh sinar matahari. Lama pula keringnya.

Yakin banget pengen menggunakan menscup karena secara kuantitas sampah, menscup ini paling minim sampah dan nggak ribet menurutku. Menscup harga awalnya memang lumayan mahal, sekitar 300an. Tapi terus dipikir-pikir lagi, beli pembalut 8000 memang sedikit, tapi dikalikan dengan datangnya mens tiap bulan selama 17 tahun sudah berapa? Sampah pembalut yang sudah dipake selama 17 tahun pasti buanyaaak banget. Sampahnya belum terurai lho sampai sekarang. Nah lho!

Yasudah, pakailah Menscup. dan rasanya, violaaaaa, rasanya kayak nggak lagi haid. Beneran deh. Awalnya agak ribet dengan cara masukin menscup tersebut. Tapi dengan rileks, akhirnya bisa juga. Jadi, kini nggak kerasa lagi tuh yang mengganjal macam pembalut tebal, gatal-gatal iritasi, dan saving pembalut kemana-mana karena lagi haid. Pake menscup rasanya ringan dan tanpa beban gitu rasanya.

Ini penampakan Menscup-nya yaa

Kamu mau nyoba?

Teman-teman saya akhirnya udah banyak juga yang nyoba. Kalau teman-teman sepergosipan sudah banyak yang pake, rasanya enakuen banget kan mau ngobrolin menscup dan endebre-endebrenya. Akhirnya karimah pun ketularan dan bikin riviewnya juga deh.

2. Free from Diaper

Kalau urusan ini sih sebenarnya telat banget. Keadaanku yang sedang tidak berada di rumah sendiri membuatku belum yakin untuk mentatur Nahla. Dulu, tepat 2 tahun aku mencoba melakukan toilet training, tapi gagal. Akunya kurang siap serta aktifitas dan keadaan pun belum mendukung. Fokus pada thaharoh menjadi alasan utama sih belum dimulainya tatur nih. Agak repot karena tidak di rumah sendiri.

Nah, resolusi tahun 2020 ini nih salah satunya adalah bebas dari popok. Karena memang tahun ini akan berada di rumah (kontrakan) lagi. Jadi aku benar-benar bisa mengontrol Nahla dengan baik.

Sebelumnya, aku mensounding Nahla terus-menerus tentang toilet training. Kebetulan, saat perjalanan ke Martapura kemarin sisa popok tinggal 2. Itu berati, besoknya Nahla sudah harus bebas popok.

Alhamdulillah, aku yakin dan suami juga mendukung. Semua berjalan dengan lancar akhirnya.

Afirmasi positif yang kami lakukan ialah mengingatkan Nahla untuk ke toilet setiap 1-2 jam sekali, mengapresiasi ketika bisa pipis di kamar mandi, dan mengajarkan tentang najis, hoho.

Mengingatkan setiap 1-2 jam untuk pergi ke kamar mandi ternyata hanya terjadi selama 2 hari. Selanjutnya, alhamdulillah dimudahkan, Nahla langsung bilang “i wanna take a pee” lalu tetiba dia ingin melepas dan menggunakan celana sendiri deh. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui deh..

Popok dan pembalut bagi wanita berkaitan erat dengan masalah kesucian (thoharoh). Sebisa mungkin kita telah berusaha untuk berada dalam keadaan suci saat menghadapNya. Tapi, ternyata kita sering lupa, menghadapNya juga tak hanya sekadar suci diri. Kita menjaga segala ciptaanNya agar tetap terjaga juga termasuk sebuah penghambaan diri.

Langkah-langkah ini masih secuil dari banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyayangi bumi. Mari, saling menjaga ciptaanNya.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
11 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Roem Widianto
6 months ago

Aku kepikiran pengen beralih dari pembalut ke mestrual pad untuk langkah awal less waste nih, Mbak. Tapi ternyata malah repot dan gak nyaman, ya? Kalau yang menstrual cup takut gak bisa pasangnya. Hehehe.

Diah Alsa
6 months ago

huaaa, good job Nahla. Cuma 2 hari udah bebas popok, kereen Mbak. Saya nih masih pakai popok aja nih si bocah². Dedek sih selang seling antara popok dan clodi, tapi si Nomor Dua masih popok juga, intens pula padahal udah 2th lebih usianya. Salah satu PR saya dalam waktu dekat ini ya mentaturnya sih. Udh disounding berulang kali tuk lepas popok, tapi aja anaknya bilang Nooo, kayaknya sih belum siap, hikkss.

Yulia
5 months ago

Aku dari 2 anak nih, dua-duanya dari lahir sampai 1 tahun pakai clodi. Lewat satu tahun langsung berasa pengeluaran karena akhirnya terpaksa beli pospak huhuhu. Pipisnya makin banyak dan nggak nampung di clodi. Aku palingan pakenya pembalut kain, belum berani pake mens cup.

Yara
15 days ago

Nenaaaa (sekarang bener lagi manggilnya hahahaha maapkeun yak, ingatan aku ini short term memory lho sebenernya, makin parah sekarang)..
Anw, aku nyari-nyari info tentang menscup ternyata kamu nulis!! Ahahaha
Pengen tau ih gimana sih rasanya? Aneh gak sih? Takut, serem, tapi pengen nyoba.. banget.

Yara
14 days ago

Lha aku juga kaget.. pas banget bahas beginian.. aku kangen suara sama gayamu sih, jadi yakin, gak bakal terobati semuanya kecuali lewat telepon atau ketemuan langsung.. ahahaha tapi untuk dunia yg serba maya, begini saja sudah puas! 😁

Aku mikirnya apa nanti aja ya setelah nikah, jadi yakin gitu gak ngerusak apapun sebelum dirusak (eh? Monmap bahasanya 🤭)
Ngebayanginnya masih ngilu, tapi tetep nyari-nyari informasi, nyari-nyari testi sana sini.. kepo sana sini.. hahaha

Trus aku jadi suka baca blogmu ini deh.. soalnya aku juga mulai zero waste dikit-dikit sejak 3 tahun yang lalu.. jadi yaa berasa ada temennya aja gitu sekarang.. hahaha

11
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x