Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Teori Pengasuhan Apa yang Kamu Gunakan?

4 min read

metode pengasuhan ala charlotte mason

Bulan ini, tawaran untuk membuat buku antologi muncul lagi. Datang dari komunitas bloger kesayangan, 1minggu1cerita. Kali ini antologinya tentang parenting. Tentu saja saya tertarik. Saat diminta mengisi gform, lalu muncul pertanyaan : teori pengasuhan apa yang digunakan?

metode pengasuhan apa yang kamu gunakan?

Nah lho, saya bingung sekali menjawab pertanyaan tersebut. Mencoba mengingat-ingat kembali pengasuhan terhadap anak saya yang sudah hampir 5 tahun, saya rasa kebanyakan saya ini mengasuh menggunakan feeling aja. Teorinya yang dipakai ya comot sana-sini.

Sedari awal menikah, dari segi komunikasi maupun pola pembentukan kehidupan rumah tangga, kami lebih banyak diskusi. Diskusi dari apa yang sudah dibaca, ataupun apa yang sudah didapat.

Namun dalam pengasuhan, saya memang lebih dominan memegang anak. Jadi, biasanya untuk satu sikap dan keputusan pengasuhan saya lebih menguasai. Jadi, tinggal transfer pengetahuan saja kepada suami. Meski, memang nggak semua diiyakan, ya santai aja sih. Toh, saya yang berkuasa. haha

Beberapa Poin Penting dalam Pengasuhan ala Ghina

Dari hasil comot sana-sini dan pengasuhan yang saya percaya dari feeling saya, berikut beberapa poin pengasuhan yang selama ini saya dan suami terapkan. 

1. No Baby Talk

Beneran saya nggak suka dengar orang ngomong ‘kamu namanya capa? cini cama mamah aja’ haha. Lucu sih tapi telinga saya nggak nyaman dengarnya.

Saya meyakini, meski anak itu memang masih kecil, mengatakan kata yang sebenarnya itu mereka akan paham kok. Jadi, saya tidak mengubah panggilan Nahla, yang mesti orang manggilnya suka hilang huruf h-nya, ya dengan tetap panggilan Nahla apa adanya.

 Alhamdulillahnya, keyakinan saya didukung juga ternyata oleh beberapa riset maupun pendapat para pakar dan guru bahasa saya. Menurut beliau, ajarkan anak dengan bahasa yang selaras makna dan penggunaannya.

Kamu masih suka ngomong kek baby talk gitu ke anak? ya maaf, saya bakal langsung tegur kalau ngobrol gitu sama anak saya. hahaha 

2. Melatih disiplin sedari dini

Penekanan disiplin yang masih dilakukan sampai sekarang adalah jadwal mandi,   makan, nonton, dan kegiatan membaca sebelum tidur.

Sesederhana begitu tapi ternyata pengaruhnya lumayan juga terhadap kebiasaan dia. Dari disiplin ini, saya meyakini ini bakalan menjadi bekal dia dalam membangun kebiasaannya.

3. Setting timer is a power

Untuk screen time, baik itu buka YouTube Kids ataupun baca buku di iPusnas dan let’s read, Nahla bakal lebih manut sama bunyi timer untuk menyudahinya.

Saya mengenal pengaplikasian timer saat di Pare. Saat dipakai dalam pengasuhan ternyata berpengaruh besar juga. Seiring waktu, dia paham bahwa  untuk melakukan sesuatu itu ada batasannya. 

Lucunya, sekarang ini dia bahkan lebih manut sama suara timer daripada suara Ayah atau mamahnya yang minta untuk berhenti main gawai.

4. Membiasakan self service

Untuk hal ini baru dilakukan belakangan ini, tepatnya sejak usianya menginjak 4 tahun. Ketika pengenalan kata ‘tolong’, saya merasa ada hal yang disalahgunakan nih soalnya, dia jadi bilang tolong mulu padahal sebenarnya bisa dilakukan sendiri.

Akhirnya saya coba biasakan dia untuk self service. Biar nggak suka nyuruh-nyuruh ala bos juga kan, haha. Contoh simpel yang sudah dibiasakan mandiri sekarang ini : ambil minum sendiri, langsung taruh gelas dan piring bekas makan di tempat cucian piring, bereskan mainan sendiri, dan belajar lepas baju sendiri.

5. Membangun Habit

Membangun kebiasaan itu penting banget menurut saya. Saya sendiri mencoba mencatatnya dengan membuat habit tracker. Untuk anak saya mencoba merutinkannya dengan jadwal yang sudah disetting.

Baca juga : Cara bahasa bekerja pada anak

Semisal, baca buku dan screentime. Baca buku biasanya akan dilakukan sebelum tidur siang dan sebelum tidur. Screentime biasanya dilakukan pada jam 11 siang dengan jatah hanya 15 menit. Kadang jika di waktu lain dia minta, tapi syaratnya once a day and no more than fifteen minutes tetap diterapkan.

Rule ini sudah berjalan selama hampir 2 tahun. Sempat sih dia minta jatah waktunya ditambah menjadi 20 menit, tapi ucapan no more than fifteen minutes ini sepertinya sudah melekat dalam benaknya, sampai dia lupa sendiri dan masih di ujung-ujungnya tetap 15 menit aja.

6. Apresiasi dan larangan

Sepertinya saya bukan tipe orang yang mudah buat ngomong ‘ pinter’ ke anak saat anak bisa melakukan suatu hal. Instead, saya lebih suka bilang ‘good job, bagus, keep it up, goed zoe, dan kata apresiasi sejenisnya.’ 

For me, pintar dan cerdas itu kan hasil. Kalau bilang good job dan sejenisnya kan proses/usahanya yang diapresiasi. Perlukah sampai memberikannya hadiah? Mmm, sampai saat ini ngasih barang pun bukan karena dia sudah melakukan suatu hal sih.

Kalau larangan gimana? bukan yang anti ‘no’ juga sih. Cuma lebih suka kalau melarang suatu hal ya better ngasih tahu juga sebab akibatnya gimana. Nggak papa sih mengajarkan ‘NO’, karena memang nggak semua hal harus diiyakan, toh?!

7. Pillow Talk

Waktu sebelum tidur itu, saya meyakini adalah waktu yang tepat ngomong person to person seriously baik dengan suami maupun dengan anak.

Baca juga lengkapnya tentang pillow talk di tulisan saya : Cerita sebelum tidur

Biasanya yang dilakukan saat pillowtalk, kita merangkum kegiatan seharian, mengawali minta maaf jika ada yang salah, dan baca doa dan surat-suratan pendek bersama-sama

8. Mengenalkan berbagai Bahasa

Basic kami sebagai orangtua yang berbeda bahasa dan pengalaman tinggal di belanda dan oengalaman membawa anak ke Pare membuat saya senang untuk mengenalkan berbagai bahasa pada anak.

Terlepas dari penelitian yang menyebutkan keunggulan mengenalkan banyak bahasa, bahasa utama selama dua tahun awal sengaja saya kenalkan satu bahasa dulu. Tepat dua tahun dan tinggal di belanda, dengan sendirinya dia mulai belajar bahasa belanda, dan ikut ke Pare jadi otomatis dia terbiasa juga mendengar orang ngomong bahasa inggris.

Belakangan, saya pun sering membiasakan berbicara dan bercerita dalam bahasa sunda. Sementara kalau dia mau belajar bahasa jawa, diajarkan oleh ayahnya. Seseru itu ternyata mengajarkan banyak bahasa pada anak tuh. Coba dipraktikkan deh!

9. Membiasakan membaca buku dan menarasikan sendiri ceritanya

Kebiasaan membacakannya buku secara rutin saya mulai sejak usianya menginjak 2 tahun. Membaca rutin dilakukan setiap sebelum tidur. Dan biasanya, seusai membaca kami akan mencoba mengurai ceritanya kembali dengan bahasa kami sendiri. 

Hal seru dari menarasikan cerita adalah dia akan hobi bercerita dan senang melihat ekspresinya saat mencontohkan ucapan dari figur yang dia sukai. Menarasikan juga berarti anak sedikit paham akan cerita yang kita ceritakan, jadi saya senang karena ternyata saya nggak dicuekin kan, hihi

10. Anak adalah manusia utuh

Belajar dari pola pengasuhan orangtua saya dan suami, kami sepakat bahwa kami perlu memberikan anak untuk mengambil keputusan sendiri. 

Anak bukanlah kepanjangan tangan dari kehendak orangtua atau ambisi yang terlewatkan. Dia adalah manusia utuh dan memiliki kemampuan, mimpi dan kehendaknya sendiri.

Saya sendiri menyadari, seringkali ada kehendak-kehendak diri yang coba ditekankan kepada anak. Makanya, penekanan bahwa anak adalah manusia utuh perlu dikuatkan kembali dengan lebih mengarahkan dan membimbing anak pada hal yang baik.

metode pengasuhan

Apakah semuanya selalu berjalan dengan baik? Tentu saja tidak. Terkadang ada rebel dari anak atau saya yang terlalu memaksakan. Semua seringnya masih trial and error tentunya.

Nah, segitu dulu sepertinya pola pengasuhan yang selama ini saya terapkan. Dan, senangnya ternyata pengasuhan yang saya terapkan ini ternyata ada lho dalam teori pengasuhan dari seorang pakar pengasuhan : Charlotte Mason (CM).

Minggu lalu, saya mengikuti kelasnya Menyemaihikmah.id. Senang sekali karena poin-poinnya sangat memanusiakan anak dan relate dengan pengasuhan saya.

Jadi, mungin kira-kira nanti saya akan menuliskan di antologi itu tentang pengasuhan saya dan kaitannya dengan teori Charlotte Mason dikaitkan dengan obrolan saya dan suami yang hampir setiap kali makan bahasannya sering tentang pengasuhan dan teori CM ini.

Bismillah. 

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

32 Replies to “Teori Pengasuhan Apa yang Kamu Gunakan?”

  1. Saya sih cuma pake satu teori mbak.. Sejak si Kribo kecil sampai sekarang dah dewasa.

    Teorinya, buang semua teori pengasuhan ke tempat sampah dan bersiaplah untuk belajar.

    Saya belajar mengamati si kecil dan tingkah lakunya, kemudian mengambil tindakan berdasar penilaian saya di lapangan.

    Belajar dengan mengamati perkembangan anak dan kemudian memutuskan sesuai dengan situasi yang ada..

    Jujur saja sih, buat saya mah teori teori pengasuhan sih seperti omong kosong saja dan justru menjadi penghambat saya belajar menjadi orangtua.

    Mindset saya jadi terpola mengikuti pandangan dan sistem orang lain saja.

    Saya pilih menemukan jalan sendiri non teori.

    Alhamdulillah anak berkembang dan menjadi dewasa dengan baik.

    1. Ini juga nih yg dipegang sama suami saya mas. Ketika saya ngasih data dan teori dari pakarnya dia bakal bilang ‘very own child has own way to face it’.

      Saya sadar, memang pengasuhan orgtua satu dengan orgtua lainnya pasti berbeda. Tapi seringkali saya hilang arah dan butuh petunjuk, makanya saya jg masih comot sana sini.

      Tapi kmrn pas ttg teori pengasuhan sayang kebingungan makanya saya coba pelajari satu teori yg cukup menarik. Tetap bagaimanapun orgtua memang yaaa yg bakal banyak belajar pada anak.

      1. Kita sebagai orangtua pasti banyak ragu, takut salah mah wajar mbak..

        Cuma saya pikir kesalahan terbesar adalah dengan mengikuti “cara” orang lain yang biasanya tidak sesuai dengan karakter anak.

        Makanya, biasanya kalau saya ragu, saya diskusi sama ibunya..ngobrol dan kemudian ambil keputusan dan tindakan..😉

        Daripada saya nanya sama org g dikenal dan terus menelan mentah mentah pandangannya..😁

        Mending saya nanya sama ibunya yang melahirkan dia dan mengurusnya sejak kecil. Pasti dia lebih mengerti anaknya daripada orang lain.

        hahahaha.. Mbak kenapa tidak yakin? Mungkin karena terlalu banyak baca teori itu loh yang bikin jadi gamang 🤣🤣🤣

          1. Nggak….Dia mah pan paling males baca 🤭🤭

            FB ajah dia ga punya.

            Mungkin itu yang justru menghindarkan dia dari pengaruh teori..🤣🤣

            Sama sih Mbak Ghin..dia juga sering takut salah. Cuma ya itu, saya yang bantu mendukung, saya ragu, dia yg gantian ngasih dukungan..

            Kita ga sempurna mbak sebagai orangtua. Cuma setidaknya kita milih jalan sendiri nggak didikte sama org lain..

            😉

          2. wah oke baiklaaaah. no medsos yaa nyonya nih. keren euy

            emang bener-bener kudu saling support yaa suamminya juga kudu terjun langsung, jalan sendiri ini biar beneran kita memiliki unique thing yg emang ga bisa sama ya sama pengasuhan lain. beda anak jg bisa beda denk ya pengasuhannnya

    1. ini pun saya masih acak kok bu. gara2 ditanya aja jadi saya menelusuri pola pengasuhan sayaaa. semoga aja beberapa ada yang bisa bertahan lama nih.

  2. Mengasuh anak itu butuh perjuangan dan tantangan juga sebagai seorang ibu, kadang juga harus bersabar dalam menghadapi si kecil

    1. wah, sabar mah nggak cuma pas jadi ibu aja kok mbak al. sabar tantangan segala jaman dan usia kayaknya, hihi. jadi ibu itu ternyata nggak tega lihat anaknya dimarahin tapi dia sendiri yang kadang suka marahin.

  3. Walaupun belum punya anak, tapi aku mau coba praktekan pola pengasuhan ini ke keponakan2 ku mba hehe. Membantu orang tua nya juga. Semoga dengan pola pengasuhan seperti itu membuat anak2 lebih cerdas, disiplin dan mandiri 😉

    1. semoga manfaat ya mas adhe. tapi bebrapa mgkn ada yang nggak pas juga. kita nggak juga sih paksain satu metode yg sama ke orang yang berbeda.. yg penting tetap nyaman aja sih

    1. screen time ini juga kalo nggak saya ke pare mah nggak saya praktikkan sih mbak. tapi efeknya mgkn bakal beda satu anak dengan anak lainnya ya

  4. aku sering banget join kelas parenting dan setiap narasumber pasti memiliki cara sendiri-sendiri dan berbeda saat membesarkan anak. Ada yang menyarankan berikan pujian, ada yang ngga perlu karena menjadi sebuah kewajaran atau keharusan. Tapi, ketika orientasinya anak, kita akan tau kapan dan bagaimana harus mengapresiasi anak. Karena apa yang kita terapkan akan memengaruhi karakter anak hingga dewasa nanti. Nice sharing mba.

    1. aku malah baru kemarin itu mba ikutan kelas parenting. tapi kayaknya memang tiap narsum itu punya cara tersendiri, kita sbg orangtua juga punya cara yang berbeda utk menghadapi masing-masing anak.

    1. iya nih, ternyata banyak teman yang sama di beberapa grup bloger ya, Ambu. mungkin itu sebabnya kita bakal ketemu terus di grup2 bloger yaaa, hihi

      eh dulu itu bukannya tulisan non fiksi ya antologinya? semangat menulis banyak artikel Ambu. Tulisan ambu suka rapih gt, jadi acuan juga buat saya belajar ngeblog.

  5. Parenting ini harus didukung juga sama lingkungan sekitar. Jika nerapin teori A tapi lingkungan gak dukung, ini yang kadang membuat pusing emak. Hehe

  6. sebenarnya banyak ya teori pengasuhan anak, dan tentunya semuanya juga baik. tingga sesuaikan aja sih kalo aku, mampunya yg gimana dan anaknya seperti apa, asal mereka tumbuh happy sesuai usianya 🙂 dan setuju banget dg point-point di atas, mantap! aku pun sebagai ibu yg masih satu anak, msh terus meraba-raba menerapkan hal-hal penting pengasuhan kaya di atas 🙂 Yuk semangat!!

  7. Banyak teori pengasuhan yang aku baca, mulai Montessori, Danish way, French parenting, attachment parenting tapi ga ada yang saklek. Semua aku serap dan aku praktekkan yang terbaik sesuai kebutuhan dan kondisi di rumah

  8. Setiap orangtua pasti punya cara pengasuhannya masing-masing ya..dan saya setuju dengan poin-poin cara pengasuhan anak ala mba Ghina..tfs mba Ghina😊

  9. Setiap orangtua pasti punya cara pengasuhannya masing-masing ya..Setiap anak itu unik..tfs mba Ghina😊

  10. Waah, aku lupaa cara pengasuhan anak kecil setelah 18 tahun yang lalu, hihhii. Yang jelas ga jauh beda dari yang di atas, terutama dalam menerapkan disiplin pada anak yang harus dikenalkan semenjak dini.
    Kalo dulu belom ada pelatihan2, ato kelas2 parenting, hanya berdasarkan naluri menjadi Ibu. Alhamdulillah jaman sekarang buanyaaak.

    1. wah aku yang senang nih mbak hani, karena ternyata nggak begitu jauh. moga dari hal2 diatas nggak ada yg melenceng dan bisa berjalan dengan baik ya. hihi

      alhamdulillah iya bisa ikutan kelas2 parenting nih meski di rumah aja, lebih mudah aksesnya ya

  11. Mostly sama nih prinsip pengasuhan kita Mbak. Tapi bagian mengenalkan bahasa aku belum terpikirkan nih selain ngajarin Arab, itupun huruf hijaiyah XD

  12. Aku juga penganut mix-teori untuk mengasuh anak mba. karena aku percaya nggak ada teori pengasuhan anak yang benar-benar bisa tepat banget untuk masing-masing anak. Nggak ada teori yang salah atau benar, karena semua sangat harus diadaptasikan dengan kondisi di lapangan. Tapi ok banget loh sharingnya kali ini. Aku sukaaa….. btw selamat mempersiapkan buku barunya ya, semoga lancar jaya

  13. sekarang banyak banget ya, mbak teori parenting. kadang suka bingung mana yang lebih baik teori parentingnya. bagusnya jangan kebanyakan baca teori parenting kali ya tapi amati anak sendiri dan temukan metode parenting kita sendiri. saya sendiri masih banyak miss-nya nih kalau soal parenting kayak ngajakin anak membaca sebelum tidur itu masih suka malas. heu

  14. Baby talk emang harus dihindari. Saya setuju mba, karena anak-anak menyerap dari apa yang mereka dengar. Kalo kita orang dewasa sering baby talk, justru akan memperlambat proses bicara anak dengan baik dan benar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *